
Kemarin berlalu dengan indah, sudah dua hari berlalu dengan penuh ketenangan. Yie Er terus menghabiskan waktunya dengan Yuan, penyumbat dari segala ruang geraknya. Membuat Selir Pertama dengan nyaman terus melancarkan rencananya.
Tanpa sadar, perkataan peramal itu Yie Er abaikan. Raganya memang milik Permaisuri terdahulu, namun hatinya adalah milik Yie Er. Yie Er lupa siapa dia, Yie Er terhanyut dengan perasaan yang bukannya miliknya. Ia terhanyut ke dalam perasaan Permaisuri terdahulu. Mencintai lelaki yang nyatanya bukan cintanya.
Sampai, pada titik balik. Yie Er akan mengalaminya lagi.
"Apa semuanya berjalan dengan baik?"
"Ya, Selir Pertama. Semuanya berjalan dengan baik."
"Bagus, wanita tua itu memang bodoh. Kembali berikan tanaman Marijuana itu lebih banyak lagi. Selir ini ingin wanita tua itu segera tiada!" Desis Selir Pertama, menatap nyalang pelayan setia di depannya.
"Baik Selir Pertama!" Angguk pelayan itu tanpa ekspresi.
"Lalu, apa saja yang dilakukan Permaisuri tak tahu malu itu? Apakah dia kembali menyelidiki Selir ini?"
"Selama dua hari ini Permaisuri tidak melakukannya. Dan saya rasa, Permaisuri tahu anda merencanakan sesuatu!"
Selir Pertama terdiam, pantas saja, selama beberapa waktu dirinya selalu dibuat kesal oleh Permaisuri itu.
"Kita akan berhenti bergerak, selama beberapa waktu sampai wanita tua itu tiada. Terus awasi Permaisuri itu, jangan biarkan Permaisuri tak tahu malu itu mengacaukan semuanya!" Perintah Selir Pertama.
__ADS_1
"Baik Selir Pertama. Lagi pula Permaisuri
akhir-akhir ini sangat sibuk dengan Yang Mulia."
"Ya, Permaisuri tak tahu malu itu sangat sibuk dengan Kaisarku. Tapi biarkan terus seperti itu, agar Rencana Selir ini berjalan mulus!"
"Jangan berkhianat kepada Selir ini! Tubuhmu akan hancur jika kau berkhianat!" Desis Selir Pertama, mencengkram leher pelayan di depannya.
Pelayan di depannya menyeringai, iris hitamnya menatap Selir Pertama tajam. Kemudian berlalu pergi begitu saja setelah cengkraman di lehernya terlepas. Meninggalkan Selir Pertama dengan seringai di bibirnya.
Sampai sebuah tawa terdengar. Sebentar lagi, sesuai dengan apa yang direncanakannya. Biarkan Permaisuri itu bersenang- senang dengan apa yang dimilikinya sekarang.
Biarkan Ibu Suri Agung tanpa henti meminum racikan teh buatannya. Biarkan Ibu Suri menangis karena belati menantunya. Dirinya hanya akan menunggu.
"Satu teguk lagi Ibu Suri. Lagipula racikan teh Selir Pertama sudah habis tidak tersisa. Ibu Suri ini benar-benar menyukainya."
Ibu Suri Agung meneguk teh trakhir itu dalam sekali teguk. Menatap lamat Ibu Suri yang tengah mantap khawatir dirinya.
"Jangan khawatir seperti itu Ibu Suri. Kau memandang seperti Ibu Suri Agung ini sudah meminum racun!" Kekeh Ibu Suri Agung.
Ibu Suri terdiam. Tanpa senyuman di wajahnya, dia terus menatap Ibu Suri Agung. Menatap lamat-lamat tingkah Ibu Suri Agung di depannya.
__ADS_1
"Ibu, jangan terlalu sering meminum racikan teh. Itu tidak sehat untuk kesehatanmu!" Ucap Ibu Suri mengerut kening, menangkup kedua tangan Ibu Suri Agung.
"Racikan teh tidak akan berpengaruh pada kesehatan menantu. Dan mari, tadi pagi kau berbicara ingin menenun bersama Ibu Suri Agung ini!" Ibu Suri Agung beranjak. Menatap Ibu Suri, agar ikut berdiri sepertinya.
"Ibu, hari sudah akan kembali ke malam hari. Apa Ibu lupa jika kita menghabiskan waktu dengan meminum racikan teh Selir Pertama!" Heran Ibu Suri.
"Benarkah? Kurasa Ibu Suri Agung ini semakin ingin beranjak tua!" Ucap Ibu Suri Agung. Menggeleng kepala tak percaya.
"Ibu Suri ini rasa Ibu terlalu minum banyak racikan teh!" Ucap Ibu Suri menatap cawan teh dibawahnya.
"Tidak seperti itu. Ibu Suri Agung ini hanya merasa kelelahan, hanya butuh tidur dengan tenang untuk malam ini!" Bela Ibu Suri Agung. Bersikukuh pada perkataannya.
"Baiklah Ibu. Ibu Suri ini akan kembali ke kediaman milik Ibu Suri!"
Ibu Suri melangkah pergi meninggalkan Ibu Suri Agung bersama para pelayannya. Di dalam kediamannya saat ini, Ibu Suri Agung beranjak menutup kelopak matanya. Sangat hening, tanpa pelayan yang dia suruh pergi dan Ibu Suri menantunya.
Sampai, Ibu Suri Agung kembali terbangun. Beranjak memanggil semua pelayannya.
"Bawakan Ibu Suri Agung ini racikan teh Selir Pertama kembali!" Perintah Ibu Suri Agung, tanpa bantah.
"Tapi Ibu Suri Agung. Hari sudah malam, dan racikan teh Selir Pertama sudah Ibu Suri Agung minum hingga tak tersisa!" Jelas pelayan tua diantara mereka.
__ADS_1
"Minta Selir Pertama untuk membuatkan Ibu Suri Agung ini racikan tehnya lagi!"
"Baik Ibu Suri Agung!" Pelayan tua itu membungkuk, berlalu pergi dari hadapan Ibu Suri Agung. Akhir- akhir ini junjungan mereka selalu meminta racikan teh Selir Pertama.