
Ibu Suri Agung dan Ibu Suri pergi dari kediaman Selir Pertama setelah hari beranjak sore. Di samping Ibu Suri Agung, Ibu Suri berjalan tergesa. Raut wajahnya sama sekali tidak bersahabat.
Jelas saja dirinya sangat bosan sehingga bisa mati terus berada di dalam kediaman Selir busuk itu. Ditambah Selir Pertama
selalu menyulut rasa kesal nya, membuat Ibu Suri menahan kuat- kuat rasa kesalnya.
Ingin sekali tadi Ibu Suri beranjak pergi. Namun melihat Ibu Suri Agung yang begitu nyaman diam disana, mau tak mau Ibu Suri ikut berdiam diri. Enggan meninggalkan Ibu Suri Agung dengan Selir Pertama.
"Ibu!"
"Ya."
"Besok pagi Ibu Suri ini akan berkunjung kembali. Kita akan menghabiskan waktu berkeliling di taman Istana. Apa tidak apa?"
"Tidak apa. Ibu Suri Agung ini rasa itu akan baik. Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu seperti itu. Undang juga Yie Er!" Ucap Ibu Suri Agung, membuat Ibu Suri tersenyum lebar.
"Dan jangan lupakan Selir Pertama, dia juga harus datang!" Lanjut Ibu Suri Agung, membuat senyum Ibu Suri luntur, berganti wajah masamnya.
"Ya Ibu, itu lebih baik!" Angguk Ibu Suri pelan.
Ibu Suri terdiam, suasana hatinya sedang tidak ingin berbicara. Memilih berjalan dengan keheningan bersama Ibu Suri Agung diikuti para pelayan mereka. Ditemani mentari di ujung dunia sana, membuat senja yang indah.
"Yang Mulia, cahaya itu terlihat indah bukan?"
Yie Er menatap mentari di balik jendela kediamannya bersama Yuan.
"Permaisuri benar. Tapi kalah dengan seseorang dalam pelukan Zhen!" Bisik Yuan di telinga Yie Er.
__ADS_1
Yie Er terdiam tanpa membalas. Memilih tersenyum, kembali menatap mentari di depannya.
Jika saja waktu bisa berhenti. Yie Er akan dengan senang hati berhenti sekarang juga. Dan jika waktu bisa diulang, Yie Er ingin menghapus sejarah pertemuannya dengan peramal. Hanya itu.l
"Cahaya itu pergi, apa yang sekarang kau tatap Permaisuri?" Yuan kembali berbisik, menyelipkan beberapa anak rambut di telinga Yie Er.
"Ah, tidak ada Yang Mulia!" Yie Er menggeleng, menatap datar langit hitam di depannya.
"Mari tidur Yang Mulia! Apa anda tidak merasa lelah dan ingin tidur?" Tanya Yie Er perlahan berbalik, menatap Yuan.
"Zhen lelah. Seharian kita terus berbincang, bertengkar, merayu, dan ingin sekali sekarang Zhen kembali mengecup Permaisuri di depannya Zhen!" Ucap Yuan, menatap dalam Yie Er.
"Tidak, Permaisuri ini tidak mau. Jika begitu kembali saja ke kediaman Yang Mulia!" Sungut Yie Er melepaskan tangan Yuan dari tubuhnya.
"Hei! Zhen bercanda, mari tidur bersama!" Ucap Yuan penuh penyesalan, merengkuh kembali tubuh Yie Er dalam dekapannya.
"Zhen hanya bercanda, mari tidur bersama! Zhen lelah." Yuan berucap, matanya memelas menatap Yie Er.
"Tetap tidak!" Kukuh Yie Er membelakangi Yuan.
Yuan terdiam, rahangnya mengeras. Mata merahnya menatap tajam punggung kecil Yie Er. Mengambil nafas dalam dengan mata tertutup. Dan melangkah pergi meninggalkan Yie Er dalam diam.
Yie Er menunggu, perlahan tubuhnya kembali berbalik kepada Yuan. Dan sekarang apa yang dilihatnya? Yuan melangkah pergi meninggalkannya. Dasar pria pemarah!
Dengan cepat Yie Er berlari mengejar Yuan di depannya. Sampai tubuhnya berdiri sejajar dengan Yuan.
Cup…!
__ADS_1
Kecupan Yie Er mendarat di atas rahang mengeras Yuan. Ditatapnya Yuan yang hanya diam tanpa bergerak.
"Apa sudah merasa baik?" Tanya Yie Er, menatap mata merah Yuan.
Tidak ada respon sama sekali. Sampai akhirnya Yie Er menangkup kedua sisi wajah Yuan. Dan kembali.
Cup…!
Dikecupnya seluruh permukaan wajah Yuan, tidak ada yang tertinggal bahkan satupun. Terus seperti itu selama kurang dari dua menit.
Sampai akhirnya Yuan tertawa menerima kecupan Yie Er. Membalas mengecupi permukaan wajah Yie Er.
"Apa tidak marah lagi?"
"Tidak, sekarang Zhen senang!" Yuan menggeleng. Membawa tubuh Yie Er dalam gendongannya.
Tubuh mereka berbaring di peraduan. Senyum dibibir Yuan sama sekali tidak menurun. Terus tersenyum menatap wajah Yie Er.
"Yang Mulia maaf, Permaisuri ini tadi hanya bercanda!" Sesal Yie Er mengelus rambut hitam Yuan. Menatap dalam mata merah milik Yuan.
"Tidak papa. Zhen juga bercanda, mana mungkin Zhen ingin meninggalkanmu dan kembali ke kediaman Zhen!"
Yuan tersenyum menampakan barisan gigi putihnya. Menatap wajah Yie Er senang.
"Dasar!" Ucap Yie Er memicing.
Setelahnya tertawa sedikit keras diikuti Yuan. Sampai mereka berhenti tertawa, kembali bercerita dengan tangan Yie Er di atas kepala Yuan, mengelusnya sampai terhenti seorang diri. Sampai Yie Er tertidur nyenyak dalam dekapan Yuan.
__ADS_1
Semalaman Yuan terjaga, mata dengan iris merahnya sama sekali tidak terenyuh karena mengantuk. Ditatapnya wajah cantik Yie Er tanpa bosan. Dikecupnya pelipis Yie Er lama. Direngkuhnya tubuh Yie Er dalam dekapan hangatnya. Semua ia lakukan disaksikan bulan di tengah gelap di atas langit sana.