
Yie Er sama sekali tidak beranjak dari duduknya. Matanya terus memandang tajam rembulan yang bersinar lebih terang malam ini. Rasa ini, kembali mengingatkan nya dengan kesepian dalam kesendirian. Dirinya seperti kembali kepada jati dirinya dulu, dingin, kesepian, tanpa belas kasih, dengan semua musuh di sekitarnya.
Malam ini Yie Er akan pergi ke Kediaman Arjuna. Langkah kaki penuh tekanan dengan mata memicing menghunus tajam itu bergerak kesana kemari. Berjalan di lorong istana yang sudah sepi, mengelabui penjaga sampai Yie Er memasuki hutan di mana Kediaman Arjuna berada.
"Permaisuri!"
"Kau, pelayan setia Ibu Suri?"
"Ya Permaisuri, ini akses milik Ibu Suri. Gunakan itu dan masuk ke dalam Kediaman Timur Arjuna. Disana Permaisuri akan menemukan seuatu. Maaf Permaisuri Hamba tidak bisa disini terlalu lama."
Yie Er menatap sapu tangan di tangannya. Pelayan Ibu Suri sudah pergi ditelan gelapnya malam. Kediaman ini berada di tengah-tengah hutan dengan penjagaan khusu dari prajurit setia Kaisar terdahulu. Sekitar 10 prajurit khusus.
Yie Er membuka sapu tangan Ibu Suri, Liontin emas dengan permata biru kini ada ditangannya. Segera dia perlihatkan tanda pengenal itu kepada prajurit di depannya. Pintu terbuka, Yie Er tertelan dalam hening tanpa bising di kediaman Selir Pertama.
__ADS_1
"Apa yang permaisuri bodoh itu lakukan?"
"Sepertinya dia tengah terkurung dalam kesedihan di kediamannya. Penjaga juga ditambahkan agar seseorang tidak mengganggunya."
Selir Pertama tersenyum, para pelayan setianya menatap takut junjungannya. Senyum Selir Pertama itu tidak akan pernah tulus, selalu picik dan jahat. Pasti sebentar lagi Selir Pertama juga akan tertawa.
"Hahaha…! Bagus Yu. Jangan sekali-kali kau berkhianat kepada Selir ini. Selir ini selalu akan mengawasimu. Sekarang pergi ke perbatasan dimana Panglima Agung berada, kirim bandit dan beberapa pembunuh bayaran."
"Baik Selir Pertama." Pelayan Setia Selur Pertama pergi meninggalkan Selir Pertama dengan pikiran berkecamuk. Entah apa yang tengah dipikirkannya, dia berjalan begitu cepat ditengah gelapnya malam.
"Ibu Suri, mengapa kau pergi meninggalkanku dalam kesendirian di istana kejam ini?" Yie Er menatap penuh arti kertas di tangannya. Semua firasatnya benar, mereka berkhianat kepadanya. Tidak ada yang tersisa lagi untuknya, mungkin peramal itu benar. Rasa cinta Permaisuri terdahulu juga sudah tidak terbenam lagi dalam hatinya. Hatinya mati rasa kepada Yang Mulia itu.
Yie Er mengambil pedang Kaisar terdahulu, masih ada sedikit bercak darah saat terakhir kali digunakan. Konon dari banyaknya cerita yang beredar, pedang milik Kaisar terdahulu merupakan pedang turun-temurun dari leluhur terdahulu. Ketika sebuah jiwa abadi menjadi pemiliknya akan ada kekuatan sihir yang muncul. Tapi Yie Er sama sekali tidak peduli akan hal itu. Akan ia jaga baik-baik pemberian Ibu Suri, akan ia gunakan untuk memenggal kepala Selir Pertama. Wanita busuk itu harus segera Yie Er singkirkan bagaimana pun caranya. 10 prajurit terlatih Kaisar terdahulu cukup di bawah pimpinannya untuk meluluh lantahkan Isyana Dinasti Han.
__ADS_1
"Buat perjanjian darah denganku! Mati dan setia kalian ada padaku."
Yie Er menyayat telapak tangannya menggunakan pedang Kaisar terdahulu. Tetes demi tetes darahnya tertuang dalam mangkuk.
"Sekarang kami adalah pengawal setiamu Permaisuri. Mati dan hidup kami ada padamu."
Yie Er tersenyum menatap 10 prajurit terlatih di depannya, dia akan membuat mereka menjadi sangat setia sampai diperintahkan untuk mati pun mereka bersedia.
"Permaisuri ini akan pergi, setiap tengah malam
Permaisuri ini akan kembali melatih kalian menjadi lebih kuat!"
Yie Er menutup kembali sebagian wajahnya dengan selendang, pergi meninggalkan keheningan di tengah malam seolah semuanya tidak pernah terjadi.
__ADS_1