
"Yang Mulia bisa pergi! Cukup sudah mengganggu Permaisuri ini selama beberapa waktu." Yie Er berseru, menatap Yuan di depannya.
"Ya, Zhen akan pergi. Lagi pula banyak pengaduan dari rakyat yang belum dilihat Zhen." Angguk Yuan, tanpa bantahan ia melenggang pergi setelah Yie Er mengangguk.
Dasar pria pemarah. Lamat-lamat ditatapnya punggung lebar Yuan. Yie Ee merasa sedikit aneh dengan perasaannya. Kadang- kadang ia bisa berbuat romantis kepada Yuan. Kadang pula ia merasa tidak suka saat Yuan terus berada di dekatnya.
Sangat aneh. Tapi, ah… tidak perlu dipikirkan sedalam itu, mungkin semua itu karena tamu bulanan nya.
Omong-omong, sudah beberapa hari Yie Er juga tidak pergi mengunjungi Selir Pertama. Apa Selir itu tengah berbuat sesuatu? Rasa- rasanya Yie Er perlu melihat Selir Pertama sekarang.
"Yu Are, Rei Rei, Permaisuri ini akan mengunjungi Selir Pertama lagi." Yie Er berdiri, menunduk melihat pakaiannya.
"Ya, Permaisuri. Tapi saya dengar dari Ibu Suri akhir-akhir ini kesehatan Ibu Suri Agung sedang terganggu. Apakah kita akan tetap mengunjungi Selir Pertama?" Yu Are menatap Rei Rei di sampingnya, membuat Rei Rei mengangguk membenarkan.
"Ibu Suri Agung? Mengapa baru memberitahu Permaisuri ini?" Decak Yie Er menggeram marah.
"Maaf Permaisuri, Yang Mulia melarang kami mengganggu Permaisuri!" Rei Rei menyahut, menatap Yie Er penuh penyesalan.
"Tidak apa. Mari kita mengunjungi Ibu Suri Agung!" Yie Er berlalu.
Dalam perjalanan Yie Er terus menggerutu, dasar Kaisar sialan itu. Mengapa sangat merepotkan? Sampai mata Yie Er menatap Ibu Suri di depan kediaman Ibu Suri Agung. Mengapa Ibu Suri tidak masuk kedalam? Dan omong-omong, kemana perginya salah satu pelayan setia Ibu Suri.
"Salam Ibu Suri! Mengapa Ibu Suri berada disini?" Tanya Yie Er mengerut kening. Menatap aneh Ibu Suri di depan kediaman Ibu Suri Agung.
"Ibu Suri ini hanya sedang menunggu Ibu Suri Agung, Yie Er. Mengapa kau kemari?" Ibu Suri Agung balik bertanya.
__ADS_1
"Permaisuri ini dengar kesehatan Ibu Suri Agung
sedang terganggu Ibu Suri!" Jawab Yie Er, menatap Ibu Suri khawatir.
"Iya, kemarin malam Ibu Suri Agung terlalu banyak meminum racikan teh Selir Pertama." Ucap Ibu Suri membenarkan.
Yie Er mengangguk. Ibu Suri Agung akhir- akhir ini memang terlalu menyukai racikan teh Selir Pertama. Sangat aneh, dirinya harus menyelidiki itu!
"Kudengar kalian tengah membicarakan Ibu Suri Agung ini?!" Ibu Suri Agung berdiri di depan Yie Er dan Ibu Suri.
"Ah, tidak Ibu Suri Agung. Permaisuri ini hanya bertanya mengenai kesehatan Ibu Suri Agung!" Yie Er menyangkal. Tersenyum sampai pada kantung matanya.
"Ibu Suri Agung ini baik. Setelah meminum racikan teh Selir Pertama!" Balas Ibu Suri Agung.
Yie Er tersenyum mendengarnya, melirik Ibu Suri dari ekor matanya.
"Ya Ibu Suri. Terlalu sayang jika dilewatkan saat pagi hari!" Angguk Ibu Suri Agung, tanpa bantah.
Ibu Suri terdiam, begitupun Yie Er. Mereka berdua menatap Ibu Suri Agung dengan senyum di bibirnya.
Setelah kembali bercakap, mereka bertiga berjalan beriringan menuju kediaman Ibu Suri. Tanpa berkata- kata Yie Er duduk di depan Ibu Suri Agung dan Ibu Suri. Tampak pelayan Ibu Suri yang menghilang tadi, berada di kediaman Ibu Suri sedari tadi. Menuangkan teh racikan di dihadapannya.
"Apa ini racikan teh Selir Pertama?" Ibu Suri berseru. Menghirup aroma teh di tangannya setelah ia cicipi.
__ADS_1
"Benar. Ibu Suri Agung ini yang membawanya!" Angguk Ibu Suri Agung.
Diam-diam Yie Er memperhatikan Ibu Suri Agung, dari pertama menghirup dalam aroma teh itu, sampai meneguknya pelan. Saat ia mencicipinya, tidak ada rasa yang aneh di dalam racikan teh Selir Pertama.
"Ibu Suri Agung begitu menyukai teh racikan Selir Pertama!" Ucap Yie Er.
"Benar. Ibu Suri Agung ini begitu menyukainya!" Lagi- lagi Ibu Suri Agung mengangguk, meneguk teh itu dalam sekali teguk.
"Uhuk…! Uhuk…!"
"Ibu Suri Agung, anda kenapa?" Yie Er berseru panik. Menatap wajah memerah Ibu Suri Agung.
Ibu Suri Agung terbatuk tanpa henti. Di depannya, Ibu Suri juga berteriak panik, bercampur marah. Yie Er diam- diam menyuruh pelayan memanggil tabib, melihat begitu kalutnya semua orang.
"Cepat berikan teh itu!" Bentak Ibu Suri merebut racikan teh ditangan pelayannya kasar.
Dengan panik Ibu Suri meminumkan racikan teh itu. Bukannya membaik, Ibu Suri Agung malah mengeluarkan busa putih dari mulutnya.
"Yie Er! Ada apa dengan Ibu Suri Agung?! Mengapa keluar busa dari mulutnya?" Ibu Suri berseru panik. Air mata menetes melewati celah tulang pipinya.
Busa itu semakin keluar banyak. Ibu Suri Agung dengan cepat dibaringkan di atas pembaringan. Setibanya tabib, Yie Er menyuruh semua pelayan keluar dari kediaman Ibu Suri.
"Ibu Suri, harus merasa tenang. Ibu Suri Agung akan baik- baik saja!" Yie Er mengelus punggung Ibu Suri. Matanya tanpa berpindah menatap Ibu Suri Agung di peraduan, dengan seorang tabib di sebelahnya.
Sepertinya Ibu Suri Agung sudah tiada.
__ADS_1