Perjalanan Sang Permaisuri

Perjalanan Sang Permaisuri
Rakyat Jelata


__ADS_3

"Selir Pertama, maafkan kedua pelayan Permaisuri ini. Mereka terlalu khawatir terhadap Permaisuri ini!" Yie Er menatap sendu wajah masam Selir Pertama.


Berpindah pada pakaian indah milik Selir Pertama. Sangat putih seperti tumpukan salju, lebih terlihat bagus seperti itu jika Selir Pertama yang mengenakannya. Namun sayang, tepung itu sama sekali tidak mengenai wajah memerah Selir agar kembali putih. 


"Tidak apa Permaisuri. Selir ini memakluminya, mungkin penglihatan kedua pelayan Permaisuri sedikit bermasalah, membuat mereka tidak bisa melihat tubuh Selir ini!" Selir Pertama tersenyum manis, tanpa henti mengaduk adonan di depannya. Mengabaikan pakaian yang jika melihatnya akan semakin membuat Selir Pertama marah.


Jika saja, tidak ada para pelayan dapur. Selir Pertama sungguh mungkin sudah memenggal kepala Permaisuri tak tahu malu itu. Lihat pakaian indahnya! Dirinya dipermalukan Permaisuri tak tahu malu itu.


Selir Pertama mengepalkan tangannya, melampiaskan kemarahannya kepada adonan di depannya. Mengaduk kuat menggunakan kedua tangannya. 


"Wah! Selir Pertama ternyata sangat bertenaga, pasti kue yang dibuat akan cantik!" Decak 


Yie Er menggeleng kepala takjub.


Tersenyum penuh kegembiraan melihat Selir Pertama di depannya. Hiburan yang tidak akan pernah Yie Er lupakan. 


"Terima kasih Permaisuri. Jari jemari Selir ini memang kuat, sama seperti jari telunjuk Permaisuri!" Sindi Selir Pertama, terkekeh begitu anggunnya.


Yie Er diam, senyuman di bibirnya hilang. Kini matanya menatap jari telunjuknya yang sekarang berwarna putih. Terbungkus dengan rapi oleh kain. 


Jika itu kemauan Selir Pertama. Sebagai Permaisuri yang baik Yie Er akan memenuhinya. Bukan begitu?


"Selir Pertama, campurkan semua adonannya! Buat pipih oleh jari jemari kuat Selir Pertama, agar adonannya semakin bagus!" Perintah Yie Er memperagakan semuanya dengan tangannya.


Selir Pertama terdiam, wajahnya memerah menahan kesal. Apa-apa an Permaisuri tidak tahu malu itu, apa dia buta? Sehingga tidak melihat peluh di dahinya. Namun apa daya, ia hanya bisa mengangguk patuh dalam kemarahan.

__ADS_1


"Akan Selir ini lakukan Permaisuri!" Angguk Selir Pertama dengan senyuman paksanya. Melakukan seperti apa perintah Yie Er.


Semua orang di dapur istana asik melihat Selir Pertama tanpa takut terkena kemarahan. Bahkan Yu Are dan Rei Rei sesekali menahan tawanya melihat Selir Pertama yang mengenaskan. Sudah pantas dipanggil rakyat jelata saja. 


"Nah, bagus Selir Pertama. Sangat bagus! Sekarang isi adonan itu dengan buah apel yang sudah dimasak tadi!" Yie Er menunjuk apel di depannya.


Selir Pertama melakukan apa yang Yie Er perintahkan. Mengambil adonan dan masukkan buah apel yang sudah dimasak tadi kedalamnya. Dan apa yang dilakukan Selir Pertama?


"Selir Pertama, jangan lakukan seperti itu. Jadilah pandai, isi adonan dengan apel itu. Bukan malah membuat lubang di adonan itu!" Sungut Yie Er menghampiri Selir Pertama.


Membuat beberapa pelayan dapur menatap penasaran.


Tanpa menjawab, Selir Pertama mengulangi seperti perkataan Yie Er. Sampai sebuah suara kembali menghentikannya.


"Bukan seperti itu Selir Pertama!" Yie Er sedikit menyentak. Membuat Selir Pertama menutup kelopak matanya kesal.


"Sudah, tidak apa! Cepat ulangi lagi Selir Pertama. Sampai semua buah apel itu masuk ke dalam adonan!" Yie Er tersenyum manis menatap wajah penuh peluh Selir Pertama. Bahkan jika dilihat jari jemari Selir Pertama memerah. Sangat terlihat lucu dimata Yie Er. 


Tanpa menjawab Selir Pertama memasukan apel itu ke dalam adonan. Sedikit bercampur marah dan kesal, membuat adonan hampir tumpah, namun dengan cepat Selir Pertama menahannya. Dan dengan cepat memasukan adonan yang sudah siap itu ke dalam pembakaran.


"Sepertinya Selir Pertama sudah mengerti kemana adonan itu nantinya akan diletakkan!" 


"Anda benar Permaisuri. Dan sekarang, apakah Selir ini sudah bisa kembali ke kediaman Selir ini?" Selir Pertama menatap pakaian indahnya dan Yie Er bergantian.


"Oh tentu saja Selir Pertama!" Angguk Yie Er yakin.

__ADS_1


"Tapi setelah adonan itu menjadi kue Selir Pertama. Selir Pertama harus menunggu apinya agar tak padam!" Lanjut Yie Er, menghentikan Selir Pertama yang hendak akan lengser dari tempatnya.


"Apa Permaisuri bercanda? Selir ini yang harus menjaga apinya?!" Tanya Selir Pertama melihat tak percaya kepulan api di sampingnya.


"Bagaimana Permaisuri ini bercanda Selir Pertama? Itu tahap terakhir membuat kue cantik, apa Selir Pertama tak tahu?" Tanya Yie Er menaikan sebelah alisnya, membuat bisik-bisik para pelayan terdengar sampai psda pendengaran Selir Pertama.


"Selir ini tahu. Hanya saja baiklah, ini sebagai tanggung jawab dari Selir ini!" Ucap Selir Pertama sedikit menggeram tertahan. Tersenyum manis kepada para pelayan dapur di sekitarnya.


Melewatkan para pelayan setianya yang hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat. Sungguh pelayan tidak berguna!


"Kipasi saja Selir Pertama!" 


Selir Pertama terdiam tanpa menyahuti perkataan Yie Er. Mengipasi pelan seperti yang Yie Er mau. Cukup lama, sampai tangan Selir Pertama juga sudah kebal dibuatnya. 


Dan lihatlah kue di dalam pembakaran itu, sama sekali tidak terlihat akan matang? 


Apa Permaisuri tak tahu malu itu sedang mengerjainya? Membuatnya melakukan sesuatu yang bodoh.


"Permaisuri! Mengapa kuenya sama sekali belum matang?" Tanya Selir Pertama menekan kekesalannya.


"Hanya kekurangan api besar Selir Pertama. Cobalah menggunakan bambu itu untuk menghembuskan nafas Selir Pertama ke depan api!" Yie Er menunjuk bambu di samping kanan Selir Pertama.


Tanpa menyahut, Selir Pertama menghembuskan nafasnya dari lubang bambu. Mengarahkannya tepat kepada api di depannya.


"Uhuk…! Uhuk…!"

__ADS_1


Asap hitam bermunculan seperti awan di sekitar Selir Pertama. Membuat Yie Er tertawa terbahak bahak dalam hati. 


__ADS_2