Perjalanan Sang Permaisuri

Perjalanan Sang Permaisuri
Bahagia Itu Sederhana


__ADS_3

"Permaisuri, mohon maaf. Tubuh Selir ini sudah terasa lengket. Selir ini akan kembali ke kediamannya!" Selir pertama memejamkan sejenak matanya. Menahan rasa pedih di tenggorokannya. 


Dia mencoba tersenyum semanis mungkin di depan Yie Er. Menutupi puncak kemarahan dalam kepalanya. Awas saja jika Permaisuri tak tahu malu itu mencegahnya. Dirinya sudah tak tahan lagi menahan segala kekesalan.


Selir Pertama melihat sekelilingnya, telinganya mendengar cukup banyak pujian. Tentang ia yang sekarang baik. Heh, jika bukan karena rencananya, sudah dipenggal kepala mereka semua. Melihat ia yang hampir mati karena kepulan asap hitam bodoh tak berguna itu, sama seperti Permaisuri di depannya. Sama- sama tak berguna.


"Pergilah Selir Pertama. Lagi pula Selir Pertama sudah berusa dengan keras. Biarkan Permaisuri ini yang melanjutkannya!" Yie Er tanpa sungkan memegang kedua tangan Selir Pertama. Mengabaikan tangan kotor Selir Pertama.


"Dan beristirahatlah Selir Pertama! Agar tenaga Selir Pertama kembali pulih untuk kita menghabiskan waktu seperti ini lagi!" Lanjut Yie Er. Tersenyum sampai pada kantung matanya.


Selir Pertama tersenyum manis penuh paksaan. Menuturkan kata lembutnya. "Terima kasih atas perhatiannya Permaisuri!" 


"Selir ini mohon undur diri!" Lanjut Selir Pertama sedikit membungkuk. Berlalu pergi tanpa menunggu balasan dari Yie Er. Sedikit terpongoh pongoh dengan segala kekesalannya. 


Yie Ee tersenyum, menatap begitu lebar punggung Selir Pertama. Sangat amat bahagia, ah Selir Pertama ingin sekali Yie Er menghabiskan lebih banyak waktunya dengan Selir Pertama. Pasti akan sangat menyenangkan bukan? 


Dan untuk sekarang Yie Er cukup menunggu kue itu. Tanpa perlu menjaga api seperti apa yang dilakukan Selir Pertama.


"Aaaaa…! Sialan! Dasar Permaisuri tidak tahu malu, berani sekali dia!" Teriakan Selir Pertama menggema di dalam kediamannya.


"Kalian, mengapa melihat Selir ini bodoh?! Dasar tidak berguna!" 


Bentak Selir Pertama, menatap nyalang para pelayan di depannya. Para pelayan setia Selir Pertama terdiam ketakutan, sudah pasti mereka akan menjadi pelampiasan amarah dari junjungannya.

__ADS_1


Menatap sebegitu mengerikannya Selir Pertama sekarang. Bahkan pakaiannya masih belum diganti Selir Pertama, dengan wajah bercampur hitam asap pembakaran, dan merah karena kemarahannya. Selir Pertama benar- benar mengerikan. 


"Mengapa masih melihatku? Bersujud, sekarang juga! Jangan Bangkit sebelum Selir ini mengijinkannya!" Desis Selir Pertama kembali menatap nyalang para pelayan setianya.


"Baik Permaisuri!" Jawab para pelayan Selir Pertama bergetar takut.


"Jangan menjawabku!" Sentak Selir Pertama. Membuat para pelayan setianya mengatupkan mulut rapat- rapat. 


Melihat semua pelayan setianya yang sekarang bersujud dihadapannya. Amarah Selir Pertama masih belum padam, matanya berkeliling mencari sesuatu untuk meluapkan amarahnya. Sampai mata itu berhenti, melihat cermin beberapa meter di depannya. 


"Aaaaa…! Permaisuri sialan! Akan Selir ini buat wajahnya menjadi buruk rupa!" Teriak Selir Pertama kencang, sampai wajahnya memerah semerah api.


Nafasnya menggebu- gebu, jari jemarinya terkepal kuat. Jika saja Selir Pertama adalah sebuah bom, mungkin Selir Pertama sudah meledak sekarang. 


Selir Pertama nyatanya melempar cermin di depannya dengan sepatu di kakinya. Yang sekarang sudah tampak tergeletak mengenaskan di atas lantai.


"Permaisuri sialan, akan Selir ini buat dia menderita!" Desis Selir Pertama, menatap tajam bagian retakan cermin di depannya.


'Uhuk…!'


"Sepertinya Selir Pertama sedang mengumpati Permaisuri ini!" Gumam Yie Er meminum racikan teh buatan Yu Are.


"Apa ada sesuatu Permaisuri?" Tanya Rei Rei mengerut kening.

__ADS_1


"Tidak ada." Geleng Yie Er.


Melihat junjungannya Rei Rei mengangguk, kembali diam dengan melirik Yu Are disampingnya.


"Ah Rei Rei. Permaisuri ini lupa bertanya! Apa tanaman kemarin tumbuh dengan baik?" Yie Er bertanya menatapa Rei Rei lamat-lamat. 


Semoga saja tanaman itu tumbuh dengan baik, dan segera Yie Er harus memindahkannya ke dalam kediaman. Membuat ruangan khusus untuk tanaman-tanamannya.


"Tanaman itu tumbuh dengan baik Permaisuri." 


"Bagus. Dan Yu Are, Rei Rei, kembali ambil tanaman itu, letakan di ruangan yang tidak terpakai. Ruangan itu sekarang menjadi tempat tanaman Permaisuri ini!" Yie Er menatap Yu Are dan Rei Rei, juga pintu ruangan itu bergantian.


"Baik Permaisuri!" Angguk Yu Are dan Rei Rei. 


Dari balik jendela kediamannya Yie Er melihat Yu Are dan Rei Rei dengan tanamannya. Memisahkan tanaman itu satu persatu dari tanaman biasa ditamannya. 


Yie Er beranjak, tangannya memegang knop pintu itu dan menariknya. Ruangan dengan beberapa barang. Lumayan terlihat luas, cukup untuk tempat tinggal tanamannya.


"Permaisuri ini tanamannya!" Yu Are berdiri dengan tanaman ditangannya.


"Letakan disini Yu Are. Biar Permaisuri ini yang menatanya!" Sahut Yie Er dengan senyum.


Yie Er menata tanamannya sedemikian rupa. Sampai pada tanamam dengan daun hitam legamnya. Yie Er memisahkan tanaman itu seorang diri. Menutup nya dengan lapisan kaca didekelilingnya. 

__ADS_1


Ingatannya kembali ditarik, menatap lamat- lamat tanaman di depannya. Mengapa orang itu mengatakannya?  


__ADS_2