
"Baik-baik saja? lihatlah barusan kau berteriak kesakitan Yie Er!" ucap Panglima Agung Zerang keras.
"Ya akhh...! aku baik-baik saja Bubu eghh... mungkin nanti rasa sakit ini akan menghilang," ucap Yie Er sesekali meringis.
"Bagaimana mungkin hilang? Tabib Chau Ci apakah kau mempunyai obat pereda rasa sakitnya?" tanya Ibu Suri Agung khawatir.
Mereka kini berdiri di sisi peraduan melingkupi Yie Ar yang terbaring di peraduan.
Yu Are dan Rei Rei hanya mampu menunduk sedih tak bisa berbuat apa-apa begitupun dengan Panglima Agung Zerang,dia hanya terdiam memandangi Yie Er khawatir.
"Maaf Ibu Suri Agung,hamba tak mempunyai obat pereda sakit,dan jikapun hamba membuatnya itu tak akan mungkin karena hamba pun tak tahu apa yang terjadi dengan Permaisuri," ucap Chau Ci ragu.
"Bagaimana bisa ini terjadi? semua Permaisuri dan Selir juga mengalami rasa sakit tak berujung yang entah datang dari mana?" ucap Ibu Suri Agung resah.
"Apa?! ini terjadi pada Semua Permaisuri dan Selir di Istana ini?" teriak tabib Chau Ci terkejut.
Tabib Chau Ci berpikir jika ini seperti sebuah penyerangan kepada para Permaisuri dan Selir.
"Ah maafkan hamba!" ucap tabib Chau Ci menunduk malu menyadari kesalahannya.
"Ya tak apa,sekarang Istana ini hanya terdengar dengan jeritan kesakitan saja," ucap Ibu Suri tersenyum sedih.
"Ibu Suri Agung,Ibu Suri apa tabib lain mempunyai obat pereda sakit? mungkin tabib lain yang memeriksa Permaisuri dan Selir yang kesakitan mempunyai obat pereda sakitnya," ucap tabib Chau Ci bertanya dengan ragu.
"Tidak,mereka juga tak mempunyai obat pereda sakit," ucap Ibu Suri Agung.
Dalam hati Yie Er ingin sekali tertawa terbahak-bahak,yaiyalah mereka tak mempunyai obat pereda sakit,jika mereka saja tak tahu penyebab Permaisuri dan Selir itu kesakitan.
__ADS_1
Hah sungguh hebat bukan racun yang ia buat sehingga para tabib pun seperti orang bodoh yang tak mengerti kesehatan.
"Ahh maafkan hamba Ibu Suri Agung,Ibu Suri hamba sama sekali tak berguna," ucap tabib Chau Ci menyesal.
"Tak apa kami semua mengerti," ucap Ibu Suri Agung memaklumi.
Baru kali ini Chau Ci merasa tak berguna,huh mungkin dirinya harus berguru lagi ke Pegunungan Yurell.Sekarang dirinya merasa seperti orang yang tak mengerti apa itu kesehatan.
Lama Chau Ci terdiam memikirkan apa yang harus ia lakukan agar rasa sakit Yie Er sembuh.Pandangannya mengarah kepada peraduan di mana Permaisuri Dinasti Han terbaring menahan sakit.
Chau Ci melihat keseluruhan tubuh Yie Er,memastikan tak ada luka atau apapun itu yang menyebabkan rasa sakit itu datang.
Chau Ci melihat seluruh tubuh Yie Er teliti,pandangan matanya mengarah kepada tangan kiri Yie Er.Dia seperti melihat Permaisuri Dinasti Han ini menggenggam sesuatu dalam genggaman tangannya.Jika dilihat-lihat secara jeli benda yang di pegang Permaisuri Dinasti Han ini adalah cawan.
Chau Ci terus memandangi lengan kiri Yie Er.Yie Er menyadari jika tabib di depannya kini tengah memandangi tangan kiri yang menggenggam cawan berisi teh beracun milik Selir Pertama.
Chau Ci memutuskan bila dirinya harus mengambil cawan kecil itu.Ya dirinya harus mengambil cawan kecil itu mungkin itu adalah minuman terakhir yang di minum Permaisuri Dinasti Han ini.
Chau Ci mendekatkan tangannya ke tangan kiri Yie Er secara perlahan. "Argghhh....!" teriak Yie Er pada saat tabib Chau Ci mengambil cawan di tangannya.
Sungguh itu sangat sakit,Yie Er kira tabib di depannya ini akan mengambil cawan di tangannya secara perlahan,dilihat dari gerak-gerik tabib di depannya yang sungguh pelan.Tapi apa ini? tabib di depannya ini mengambil cawan ditangannya dengan sekaligus,sungguh ingin sekali dirinya mengumpat.
"Yie Er!/Permaisuri!" ucap kelima orang berbeda usia itu di kediaman Xauli.
Mereka langsung berteriak,seiring berteriak nya Yie Er ketika merasakan sakit.
"Tabib Chau Ci apa yang kau lakukan?" ucap Ibu Suri sedikit membentak kepada tabib Chau Ci.
__ADS_1
"Ah maafkan hamba Ibu Suri!" ucap tabib Chau Ci mendengar bentakan dari Ibu Suri.
Chau Ci memaklumi itu semua,wajar bila Ibu Suri membentaknya ketika di menyebabkan manantunya berteriak kesakitan.
"Ya Chau Ci,maafkan Ibu Suri ini juga yang membentak mu! aku hanya merasa terkejut saja," ucap Ibu Suri menyesal memegang tangan tabib Chau Ci.
"Ya Ibu Suri itu hal yang wajar," ucap tabib Chau Ci tersenyum memaklumi.
"Tapi apa yang kau lakukan?" tanya Ibu Suri Agung heran.
Ibu Suri Agung sempat melihat Chau Ci mendekatkan tangannya ke tangan Yie Er.Dirinya kira tabib Chau Ci hanya memeriksa,tapi tabib Chau Ci seperti mengambil sesuatu secara cepat.
"Ibu Suri Hamba mengambil ini dari tangan Selir Pertama,mungkin cawan ini adalah wadah terakhir yang diminum Permaisuri," ucap tabib Chau Ci menyerah cawan kecil ditangannya.
"Apa ini?" ucap Ibu Suri Agung mengambil cawan di tangan tabib Chau Ci.
"Ini adalah cawan Ibu Suri Agung."
"Ya aku tahu ini adalah cawan,tapi maksud ku apa kaitannya dengan cawan ini?" ucap Ibu Suri Agung terdengar menjengkelkan.
"Biar hamba memeriksanya!" ucap tabib Chau Ci.Ibu Suri Agung menyerahkan cawan itu.
Tabib Chau Ci melihat cawan ditangannya,dia mencium bawa di dalam cawan.Dirinya mengenali bau di cawan ditangannya walupun samar-samar.Tidak salah lagi bau ditangannya adalah racun Xui,racun pelumpuh syaraf-syaraf otot si pengguna dan jika diminum dalam waktu yang lama bisa menyebabkan si pengguna lumpuh.Tapi ada satu yang aneh? jika Permaisuri meminumnya mengapa reaksi racun ini kesakitan seperti ini?
"Ibu Suri Agung!" panggil tabib Chau Ci.
Ibu Suri Agung seketika mengalihkan pandangannya kearah tabib Chau Ci begitupun dengan keempat orang lainnya yang langsung mengalihkan pandangan dari Yie Er ke tabib Chau Ci.
__ADS_1