Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Warung pak Toni


Aku dan ka Ell sedang sama-sama menikmati bakso, namun anehnya, ka Ell lebih sering memperhatikan ku makan daripada menyantap bakso di hadapannya.


"Kenapa ka? Alena makannya belepotan ya?."


Ragu ku pada Ell.


"Tidak, kakak hanya suka saja melihat cara kamu makan."


Membuat ku hanya mengangguk kikuk.


"Terlihat imut."


Tambahnya sambil menyantap bakso.


Sontak rona merah seketika muncul dipermukaan pipi cabiku.


Ya Tuhan, benarkah ka Ell mengatakan aku imut? Ahh, sungguh senang sekali rasanya mendapat pujian dari raja kodok.


Stttt, sudah dong Alena, makan bakso saja yang fokus. Malu kali.


.


20.00


Seorang pria sedang menikmati suasana malam di balkon kamarnya. Teringat kejadian siang tadi, yang membuatnya sulit tidur.


"Naya, apakah benar kamu masih sama?."


"Namun kenapa rasanya seperti berbeda?."


"Ternyata perempuan sepertimu pun mampu membuatku patah."


Tutur Radit, menghela napasnya dengan berat.


"Woy."

__ADS_1


Tiba-tiba Ell mengejutkannya, membuat Radit memandangnya malas.


"Ngapain Lo?."


Sinisnya, membenarkan posisi duduknya, karena Ell duduk tepat di sampingnya.


"Perempuan itu siapa?."


Tutur Ell dengan pandangan lurus.


"Perempuan. Siapa yang Lo maksud?."


"Perempuan polos yang Lo pinjamkan baju."


Jelas Ell membuat Radit menahan tawa.


"Hahaha, dia. Bukan siapa-siapa."


"Kenapa? Lo suka dia?.". Tambahnya menyandarkan tubuhnya pada kursi.


"Tidak."


"Maksud Lo apa?." Emosi Ell menatap keponakannya dengan emosi.


"Santai dong. Gue kan hanya bertanya. Lagian bukannya sedari kemarin Lo yang deketin dia. Berlagak so baik dan ya begitulah."


"Diam Lo. Gue tidak akan melepaskan Naya, dan gadis itu, tidak mungkin ku peralat."


"El, El. Kau kira semesta hanya akan tinggal diam, hah."


Radit lalu meninggalkan Ell yang masih duduk mengontrol Emosinya.


"Bukankah untuk memperjuangkan sesuatu kita juga perlu mengorbankan salah satu?."


Lirih Ell, mengusap wajahnya dengan perlahan.


"Semesta, salahkah jika aku memperjuangkannya lagi? Ku rasa tidak."

__ADS_1


Tambahnya, menyandarkan tubuh kekarnya pada kursi.


Balkon kamar kini terasa begitu sepi, angin semakin menyusup pada pori-pori. Dan hati masih saja perihal jiwa yang telah mati.


.


Alena


Aku sedang sibuk mengerjakan soal matematika, biasalah belajar malam katanya.


"Ahhhhhhhhh."


Frustasi ku, mengacak rambut.


"Ka Ell, biasakan berhenti berkeliaran di kepala ku. Alena sedang belajar hik."


Lirih ku, bersandar pada kursi dan terus saja berteriak.


Clek, pintu kamar ku terbuka.


Mamah menatap ku dengan sangar, sementara aku hanya diam dengan tubuh terlentang di kursi.


"Alena, ini sudah malam. Lebih baik kamu berhenti belajar dan mulai tidur."


Ujarnya yang semakin menaikkan nada bicaranya.


Aku bangun dan duduk dengan benar.


"Hehehe. Iya mah, Maaf."


Jawab ku gugup. Mamah hanya menghela napas dan kembali menutup pintu.


"Huh. Ka Ell semua ini salah kakak. Alena jadi kena marah mamah."


Kesal ku, mulai merebahkan tubuh di kasur dan menarik selimut.


Malam. Biarkan aku istirahat, sungguh jatuh cinta selalu membuat ku lupa waktu. Bahkan, aku lupa akan tugas ku. Saraf otak ku hanya terus saja dipenuhi dia. Ketika aku mencoba menyingkirkannya, ia malah semakin betah berdiam dalam ribuan sel kepala ku.

__ADS_1


Seperti ini kah jatuh cinta? Atau ini hanya semacam suka? Entahlah yang jelas ini membuat ku sedikit gila.


Seperti ini kah ketika jatuh cinta? Atau hanya aku yang terlalu lebay? Mungkin.


__ADS_2