Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Radit sedang duduk termangu di kursi balkon kamar. Sesekali ia melirik handphone di meja kayu bulat di hadapannya.


Wajahnya terlihat cemas, namun ia juga seperti tidak mempunyai keberanian untuk sekedar mengambil alat komunikasi itu.


"Ahhhhhhh. Bedebah Lo Al."


Emosinya, mengacak rambut dan memilih pergi ke dalam kamar tanpa memperdulikan handphonenya.


.................


Ka Ell tengah duduk di depan telivisi dengan bersandar pada sofa dan sambil memakai mie.


Radit yang kelaparan mulai keluar kamar dan berniat untuk mengambil makanan di dapur. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat ka Ell yang sedang asyik mengobrol via video call dengan seorang perempuan, sambil sesekali ia menyeruput mie di hadapannya.


Radit berjalan dengan pelan, sambil terus memperhatikan ka Ell. Sorot mata tajam jelas terlihat dari wajah tampan ka Ell yang merasa risih terus-terusan di tatap keponakannya.


"Ah. Alena tahu, kakak pasti kangen Al benarkan?."


Goda ku.


"Hahaha, tahu saja kamu. Kakak benar-benar kesepian di sini."


Jawab ka Ell sambil melirik sinis Radit yang sedang meminum sebotol minuman soda.


"Uhuk-uhuk."


Radit berhenti minum karena tersendat.


"Yasudah tidur sana sudah malam."


Ujar ka Ell tulus.


"Emm. malam ka."


"Jangan lupa mimpikan kakak."


"Hahaha, oke. By."


Tut.


Telpon dimatikan.


"Wle, pen muntah."


Ledek Radit ketika melewati ka Ell.


"Muntah saja sini, biar gue makan."


Buk.


Radit melempar kaleng bekas minumannya pada ka Ell.


"Bilang saja Lo cemburuan wle."


"Gue? cemburu. Najis."


"Yaelah, masih aja Lo ngeles."


Bluk.


Radit kembali melempar ka Ell dengan sendalnya.


"Hahaha. Cemburu ka Lo, cemburu, cemburu, cemburu."


Ledek ka Ell semakin senang melihat keponakannya emosi.


"Bedebah. serah Lo lah iblis."


Blug.


Teriak Radit membanting pintu kamarnya. Sementara ka Ell hanya terkekeh-kekeh sambil menggelengkan kepalanya.


...............


Ku rentangkan tangan dan membaringkan tubuh di kasur. Jendela kayu itu ku biarkan terbuka. Kerlip bintang di sana membuat ku semakin tak karuan membayangkan perkataan ka Ell barusan. Ahhh, membuat ku kembali berbunga-bunga lagi olehnya. Padahal aku sudah pernah ingin melupakannya.


Ketika bangun, aku memperhatikan ruangan ini. Ah kenapa baru sadar kalau ini ternyata kamar Giandra.

__ADS_1


Aku lalu melihat beberapa foto yang terpajang dekat meja belajar.


Aku tersenyum, melihat sebuah foto seorang anak perempuan dan anak-anak laki-laki sedang bermain di kali. Dan beberapa foto masa kecil kita.


"Masih dia simpan."


Gumam ku.


Lalu, aku membuka buku yang ada di atas meja. Karena tertarik, aku memutuskan untuk duduk di dekat jendela sambil membaca isi buku yang ku temukan.


"Akankah kita dipertemukan lagi?"


Begitulah kiranya yang tertulis dihalaman pertama buku yang sedang ku baca.


"Tuhan. Engkau pun tahu bahwa aku merindukannya. Engkau tahu bahwa aku selalu menantikan kehadirannya. Engkau tahu bahwa ada raga yang tersiksa hanya karena sebuah rasa. Aku benar-benar kehilangan sosoknya. Perempuan yang kucintai sejak aku tak mengerti arti cinta itu sendiri. Ia, dan aku, mengapa engkau membiarkan kita terpisah lagi? mengapa engkau terus-menerus membuatnya jauh dari ku? Sekali saja. Biarkan dia ada di sisiku, menghabiskan malam dengan tenang. Agar rindu tak lagi menegur di kala sendu."


Sesak. Tiba-tiba saja dada ku terasa tak bisa bernapas. Seperti ada memar bekas pukulan keras. Seperti ada sesuatu di kerongkongan ku yang membuatnya terasa sakit.


Jadi. Selama ini dia mencintai ku? Selama ini dia selalu menunggu pertemuan ini tiba? Mengapa? Tapi mengapa harus Giandra miliki rasa seperti itu pada ku?


Jujur. Aku pun pernah mencintainya. Mungkin itu cinta monyet, tapi sungguh aku tak pernah rela jika aku harus kembali di ajak pulang ke Cianjur. Aku selalu ingin marah pada ke dua orang tua ku. Yang membuat kita terus-menerus harus terpisah.


"Ternyata, cinta bisa bertahan mesti tanpa pertemuan."


Tutur ku, menatap langit yang kini mulai menegur bulan.


Sudahlah, aku memilih tidur untuk saat ini. Perjalanan siang tadi cukup melelahkan. Terimakasih semesta.


.........


"Mbok, ngendi alena?"


Tanya Giandra yang sedang menyiapkan hidangan sarapan bersama ibunya.


"Mungkin isih turu."


Jawab si mbok menyimpan nasi di meja makan. Mendengar itu, Giandra langsung pergi ke arah kamar yang ku singgahi.


Tok-tok-tok


Tok-tok-tok


Tok-tok-tok


"Al."


"Alena."


Tok-tok-tok


"Al. Apa kamu belum bangun?"


Teriaknya memastikan.


"Bagaimana ini? Sudahlah, pura-pura tidak tahu saja."


Bimbang ku, segera membuka pintu.


"Pagi An."


Jawab ku, setelah membuka pintu.


Giandra hanya mengangguk dengan wajah datarnya yang tampan.


"Pagi mbok."


Sapa ku, duduk di meja makan.


"ya wis."


Jawab si mbok, menyodorkan piring pada ku.


Giandra yang duduk disebelah ku langsung menyodok nasi untuk dirinya sendiri.


Ketika si mbok dan Giandra sudah mulai makan. Aku malah terus mencuri pandang pada pria tampan ini.


"Kenapa?"

__ADS_1


Tanya Giandra, membuat ku salah tingkah.


"Ti-tidak kok,"


Jawab ku gugup.


"Oh iya mbok, dimana pak De?"


Ujar ku, mengalihkan pandangan membuat Giandra keheranan.


"Wis menyang sawah."


Jawab si mbok, membuat ku melongo karena tidak mengerti. Aku lalu menatap Ganindra.


"Pa De sudah pergi ke sawah."


Tutur Giandra yang lalu melahap nasi dengan segut. Membuat si mbok menggelengkan kepalanya. Sementara Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala.


..............


Radit dan ke tiga temannya sedang nongkrong di taman belakang.


Ketika sedang asyik duduk melamun. Tiba-tiba seseorang berteriak-teriak memanggil nama Radit.


"Dimana Alena?"


Tiba-tiba saja pria itu bertanya. Membuat ke tiga manusia di hadapan Radit melongo.


"Woy, dimana Alena?"


Ulangnya karena Radit hanya diam dengan tatapan kosong.


"Hah. Alena, dia pergi."


Jawabnya acuh dengan setengah kikuk.


"Kemana dia? Kita harus mulai latihan drama. Sebentar lagi pertunjukkannya."


Cemas Dika.


"Yaelah. Tanya Nara saja sana, ngapain juga nanya gue."


Kesal Radit.


"Lo kan memerankan pemeran utama bersama Alena. Jadi wajarlah."


Jawab Dika tak kalah ketus.


"Woy. Bukan berarti Radit juga harus tahu semua tentang Alena kan? Gua saja calon pacarnya tidak tahu apa-apa."


Sewot Padil pada Dika.


"Terserah. Pulang ini kita latihan."


Ujarnya pergi. Membuat Padil menghentakkan kakinya. Sementara farel dan Boby hanya cengengesan.


"Benar juga. Kenapa gue baru sadar kalau pujaan hati gue tidak sekolah ya?"


Pikir Padil membuat Boby menoyor kepalanya.


"Bodoh. Setelah dipatahkan, Lo masih saja sebut dia pujaan hati."


Nyinyir Boby, membuat Padil mengusapi kepalanya- yang kesakitan.


"Serah gue lah. Yang punya hati juga gue bukan Lo."


"Bodoh kok di pelihara si Dil?"


Ikut-ikutan Farel. Menertawai temannya.


"Berisik deh Lo pada."


Bentak Radit, yang tiba-tiba saja langsung pergi dari tempat itu.


"Kenapa tu orang? Gila kali."


Tutur Farel, yang lalu di toyor Padil dan Boby.

__ADS_1


__ADS_2