Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Karena pemakaman Dika tidak memungkinkan dilakukan di malam hari, jadi pak Yuda memutuskan agar pemakaman anaknya di tunda hingga pagi tiba.


Setelah mengabari ka Ell, Naya langsung memutuskan untuk tidur di kamarnya. Meski masih banyak kegaduhan di kepalanya, ia masih terus memaksa ke dua netranya agar bisa terpejam dan mengobati luka hatinya.


Sementara pak Yuda masih terjaga memandangi foto anaknya di ruang kerja miliknya. Rasa bersalah masih terus singgah di benaknya, rasa sesal dan benci akan dirinya sendiri terus menjalar pada darah yang mengalir di tubuhnya.


"Tidak seharusnya Papah terus-menerus memaksa kamu agar menjadi seperti yang Papah mau. Ini kesalahan Papah Ka, ini salah Papah. Hik-hik."


Isaknya terjatuh pada kursi dan tersungkur. Tak lagi ia dapat berpura-pura tegar dan menyembunyikan lukanya. Ia benar-benar telah menyesali semua perbuatannya pada anaknya.


Ya, pak Yuda menyesal karena telah menjadi sosok ayah yang kurang baik untuk ke dua anaknya. Selalu memaksa agar ke dua anak itu menjadi seperti apa yang dia mau, hanya karena dia pikir apa yang dia lakukan itu yang terbaik untuk anak-anaknya.


.


setelah mendapat kabar dari Naya tentang kepergian Dika, ka Ell menjadi begitu khawatir pada Naya. Dia menjadi tidak bisa tidur dan tidak bisa tenang.


Jadi, ka Ell memutuskan untuk pergi ke Bandung. Memastikan keadaan Naya baik-baik saja dan sekalian melihat pemakaman Dika.


08.00


Tepat setelah Dika dimakamkan, ka Ell baru sampai di tempat. Dan hanya Naya dan ayah tirinya yang tersisa disana.


"Om,"


Ujar ka Ell, membuat pria paruh baya itu melirik dan menatapnya. Ia mencoba mengingat siapa pemuda yang kini memanggilnya itu.

__ADS_1


"Ell,"


Jawabnya, mengingat siapa dia.


Ka Ell tersenyum dan menyalimi paman itu.


"Om titip Naya,"


Tambah pak Yuda, menepuk pundak ka Ell. Dengan cepat ka Ell mengangguk. Setelah pak Yuda pergi, ka Ell segera menghampiri Naya yang masih berdiri di depan makam kakaknya.


"Na,"


Panggil ka Ell lembut. Membuat perempuan itu tersadar dan langsung memeluk tubuh Ell dengan keras. Seolah dia sedang menyampaikan kesakitannya yang begitu dalam.


Tutur ka Ell, mengusap kepala Naya dengan lembut. Isak perempuan itu kini pecah kembali. Sakit di dadanya kian semakin terasa, kerongkongannya kering membuat isaknya semakin terasa menyakitkan.


.


Mamah dan papah sedang duduk berdua di sofa. Kedunya tengah menikmati hari libur mereka di rumah, ya tanpa aku.


"Pah,"


Panggil mamah pada papah.


"Emm,"

__ADS_1


Jawab papah melahap jeruk.


"Sebentar lagi Alena kelas tiga, apa kita tidak harus memikirkan masa depannya untuk melanjutkan ke universitas?"


Tanya Mamah, membuat papah sedikit terdiam dan menatap istrinya.


"Sebenarnya papah juga memikirkan hal itu. Hanya saja, jika kita memutuskan untuk membatalkan pertunangan dengan keluarga pak Toni, mungkin keuangan perusahaan tidak akan sebaik sekarang ini."


Jawab papah kecewa.


"Benar juga, apa tidak seharusnya kita bicarakan hak ini dengan orang tua Radit?"


Tanya mamah lagi, membuat papah berpikir dan mengangguk.


"Benar, sepertinya kita memang harus membicarakan hal ini dengan mereka."


Jawab Papah membuat kedunya saling tersenyum.


"Bagaimana kalau besok kita bertemu dengan mereka, sebelum Alena dan Radit pulang dari Yogyakarta."


Tutur mamah memberikan pendapat pada papah.


"Papah setuju,"


Ujar papah, membuat mamah jatuh pada pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2