
Sesampainya di tempat tujuan, kita langsung bergegas menuju penginapan. Seperti Biasanya, Nara dan Namara menolak untuk satu kamar ku. Padil dan farel serta Boby juga menolak untuk satu kamar dengan Radit, ya rencana mereka memang begitu menyebalkan.
Aku duduk di kasur setelah menyimpan tasku. Sementara Radit ia duduk di sofa mengutak-atik handphonenya.
"Mandi gih, badan kamu udah bau kayak bunga bangkai tahu."
Titah Radit berjalan ke arah ku dan menyodorkan handuk berwarna putih yang masih terlipat rapi.
"Gak, nanti saja. Masih cape juga."
Tolak ku, membaringkan tubuh, membuat Radit tersenyum.
"Ayo mandi, keburu malam nanti."
Ujar Radit lagi.
"Gak mau dit,"
Jawab ku menggeliat,
"Mau tidur saja."
Tambah ku, membuat Radit menghela napas.
"Mandi dulu baru tidur, mau nanti kamu gatal-gatal hah? Ayo mandi,"
Tuturnya menarik lengan ku agar tubuh ini terbangun.
"Ihhhh, gak mau."
__ADS_1
Rengek ku, menahan tubuh agar tidak bangun.
"Alena sayang, kamu harus mandi dulu. Yaaah,"
Manja Radit membuat ku menggidik ngeri,
"Ihh apa si pake panggil sayang, geli tahu."
Ketus ku, mengambil handuk di lengan Radit dan pergi ke WC. Sementara Radit masih duduk di kasur sambil cengengesan.
.
Naya di bawa supir pribadi ayahnya menjauh dari sekolah. Banyak pertanyaan dalam benaknya. Ada kegaduhan dan cemas dalam dadanya. Namun ia masih diam saja tak berdecak sekalipun.
"Pak, mau kemana kita?"
"Bapak nyuruh bawa si non ke rumah sakit."
Jawab sopir itu, melihat wajah Naya dari kaca kecil.
"Rumah sakit, mau apa pak?"
Tanya Naya lagi, semakin penasaran. Kenapa juga ayahnya nyuruh supirnya bawa dia ke rumah sakit. Padahal jelas-jelas dia masih sehat-sehat saja.
"Non bisa lihat nanti, soalnya bapak juga tidak memberitahu untuk apa si non dibawa kesana,"
Jawa supir itu, dengan wajah sedikit cemas. Seperti ada sesuatu yang di sembunyikan. Namun Naya memilih untuk tidak lagi bertanya.
.
__ADS_1
Menjelang magrib, aku dan yang lain segera keluar dari penginapan untuk melihat senja dengan ombak yang mengiringi kepergian sang mentari.
Disaat semua orang telah duduk untuk menyaksikan senja. Aku lebih memilih pergi, dan menuju sebuah batu untuk menyendiri disana.
Ku tatap senja dari sisi ini. Ombak yang bergemuruh, bernyanyi bersama angin yang membuat para burung menari dengan indah.
"An, aku lupa bahwa kamu dan aku tidak pernah berpisah. Kamu, Namara, dan aku tetap bersama. Meski di dimensi yang berbeda,"
Tutur ku, memeluk tubuh ini.
"Maka, biarkan aku tetap bersama dengan kamu di dimensi yang sama,"
Tiba-tiba, aku mendengar suara Radit dari arah belakang. Dan benar saja, dia menghampiri ku dan duduk di samping ku.
"Kamu tahu, kenapa tuhan memisahkan kamu dan Giandra?"
Tanya Radit, membuat kita saling bertatapan.
"Karena kamu takdir aku Al,"
Tambahnya, membuatku semakin dalam menatap netranya. Dan benar, aku melihat ketulusan hatinya yang keras. Aku merasakan kasihnya dalam sikapnya yang angkuh.
"Mungkin kamu ada benarnya juga."
Jawab ku tersenyum dan memalingkan netra pada senja yang telah tiba. Dan perlahan, Radit mendekap tubuh ku ke dalam pelukannya.
Sementara yang lain, hanya terkagum-kagum melihat mentari yang mulai pergi itu, mereka tidak sadar bahwa kedua temannya tidak ada disana bersama mereka.
Boby diam-diam mencuri pandang pada Nara yang masih tersenyum manis. Sementara Padil mulai memberanikan diri menggenggam tangan Namara yang mulai merasa malu diperlakukan seperti itu. Kalau Farel jangan ditanya, dia sedang memandangi seorang gadis perempuan yang sedang duduk bersama kedua temannya di pojok sana.
__ADS_1