
Setelah selesai memasak, ka Ell segera memanggil ku ke kamar.
clek
"Al, mari makan!."
Ajaknya pada ku yang sedang mendengarkan musik di kasur sambil tengkurapan.
Dengan semangat aku mengangguk sambil beranjak mengekor, mengikuti ka Ell menuruni tangga menuju ruang tengah.
Ka Ell duduk tepat di hadapan Radit.
"Al. Ayo duduk."
Ujar ka Ell, saat aku terdiam sejenak menatap Radit dengan malas.
"Hehe, iya ka."
Jawab ku duduk di sampingnya. Membuat Radit menatap kami saling bergantian, tapi ku acuhkan saja.
"Nah."
Tutur ka Ell menyodorkan piring berisi nasi pada ku.
Segera ku raih piring itu sambil membalas senyum manis pria baik di samping ku.
Radit si hanya melongo melihat kita berdua.
"Mau sama ayam goreng, atau bakwan ayam?."
Tanya ka Ell pada ku.
"Emmm. Dua-duanya ka."
Jawab ku yakin, membuat ka Ell terkekeh.
"Rakus banget si Lo."
Sinis Radit pada ku.
__ADS_1
"Terserah aku dong. Lagian masakan ka Ell pasti enak, jadi Alena tidak mau kalau kamu yang lebih banyak makan."
Jawab ku tak kalah sinis, dan langsung makan.
Ka Ell duduk sambil tersenyum melihat Radit yang sedang menahan emosinya, lalu ia juga menatap ku dengan padam.
Sibuk lah kami bertiga dengan makanan masing-masing. Meski sesekali aku sering curi pandang pada ka Ell. Tapi, Radit juga sama. Dia sering melirik aku dan Ell, entah apa yang dia mau. Memang manusia datar.
Setelah selesai makan, Radit langsung pergi ke kamarnya. Sementara aku dan ka Ell membereskan meja makan.
"Ka, kalau kakak mau tidur, tidur saja. Biar Al saja yang mencuci piring."
Ujar ku, setelah menyimpan setumpuk cucian itu di atas wastafel dapur.
"Yasudah, kalau sudah selesai langsung tidur! Besok kita sekolah."
Jawabnya tersenyum pada ku.
"Oke Ka."
Antusias ku. Setelah ka Ell pergi, aku langsung meraih botol Mama lemon. Ku pandangi botol itu, dan membukanya.
Pusing ku sendiri, memandang cucian.
"Hah. Mamah, Alena tidak bisa mencuci piring."
Rengek ku tertunduk.
"Cih, gak bisa apa-apa masih saja so becus."
Timpal Radit dari tangga. Sambil berjalan ke arah ku.
"Eh, memangnya kamu bisa apa? Tidak bukan, jadi lebih baik diam saja."
Ujar ku tak mau kalah.
Radit membuka kulkas, meraih sebotol minuman bersoda tanpa memperdulikan ucapan ku.
"Hais, tuli memang."
__ADS_1
Cibir ku, kembali pada cucian dan kebingungan lagi.
Drap
Drap
Ka Ell menuruni tangga.
"Al. Kamu masih belum selesai juga?."
Ujar ka Ell sedikit berteriak. Membuat ku sedikit terkejut.
"Hehe, be-belum ka."
Gugup ku cengengesan.
"Kapan dia mau selesai, mulainya saja dia tidak tahu."
Sahut Radit, membuat aku memonyongkan bibir.
Mendengar itu, ka Ell berjalan menghampiri kita. Ia lalu mengambil botol sabun cuci piring di lengan ku.
"Cuci gelas terlebih dahulu. supaya tidak bau amis."
Tuturnya mulai bekerja. Aku mengangguk ngerti dan membantu ka Ell.
Lagi-lagi, Radit hanya memperhatikan kita sambil bersandar di dekat kulkas.
Merasa tidak nyaman melihat aku dan Ell yang terus-terusan saling lempar canda dan tawa, Radit memilih pergi.
Dan dengan sengaja menyenggol tubuh ku yang sedang menghadap ka Ell.
"Dasar curut."
Emosi ku, Radit menatap ku dengan tatapan benci.
"Apa?."
Tantang ku, membuatnya pergi dengan segera.
__ADS_1