Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

"Alena, kakak tunggu kamu ditempat biasa."


Ka Dava mengirimkan ku lagi pesan. Ia yang baru saja keluar dari sebuah pusat perbelanjaan.


"Kakak jemput kamu sekarang."


Ia kembali mengirimkan ku pesan WhatsApp lagi, namun tak kunjung ka Dava menerima balasan dari ku.


Ia pun pergi membelah jalanan untuk menjemput ku, tanpa ada rasa ragu.


.


"Radit, aku harus pergi."


Ujarku pelan.


Namun, bukannya menjawab ia malah menggenggam tangan kiriku dan memeluknya. Membuat ku kaget bukan kepalang.


"Sebentar lagi."


Pintanya, masih dengan mata tertutup. Aku menghela napas dan kembali menyandarkan tubuh pada ranjang.


Melihat kondisinya yang seperti ini, Radit tidak terlalu seperti pria garang dan kasar. Ini sikap sesungguhnya yang ia sembunyikan. Pria manja dan emosian.


Memang menyebalkan jika mengingat bagaimana Radit memperlakukan ku dulu, tapi toh orang tuanya sudah mempercayakan dia pada ku. Jadi ya, mau tidak mau aku juga harus siap merawatnya jika dia sekarang ini.


"Radit, aku harus pergi sekarang."


Tuturku lagi, mengingat bahwa aku harus pergi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Giandra.


"Radit."


Panggilku lagi, karena kali ini dia sama sekali tidak merespon.

__ADS_1


"Syukurlah."


Senangku karena Radit telah tertidur. Dengan perlahan ku lepaskan tanganku yang masih di peluknya, dan segera beranjak pergi.


Sesaat ku pandangi wajahnya ketika hendak menutup pintu kamarnya. Ada rasa iba melihatnya terluka sampai seperti ini. Tapi aku senang karena ia bisa terlepas dari manipulasi cinta seseorang.


.


17.30


Ka Dava sedang duduk di mobilnya yang terparkir di tepi jalan. Terlihat wajahnya yang seperti orang kebingungan dan cemas. Ia terus saja memperhatikan arah jalan sana. Memastikan bahwa aku akan segera datang.


"Mengapa lama sekali."


Ujarnya kesal.


"Alena, bagaimana? apa kamu akan pergi ke rumah sakit? kakak sudah menunggu di tempat biasa."


Aku yang baru saja selesai mandi dan hendak menyisir rambut memilih melihat handphone terlebih dahulu.


"Hist, lupa lagi."


Ujarku melihat pesan yang di kirim ka Dava. Dengan cepet beranjak pergi ke luar.


"Bedebah memang kamu Radit."


Kesal ku sambil memakai sepatu. Dan pergi tanpa memberitahunya terlihat dahulu.


Aku berlari menyusuri jalanan yang tak terlalu jauh dari tempat ka Dava menunggu.


"Hah-hah-hah."


Napasku yang tak terkendali begitu memburu ketika sampai di depan mobil ka Dava. Dan pria itu segera turun dan menghampiri ku.

__ADS_1


"Alena minta maaf. Alena lupa ka."


Tuturku masih dengan napas ngos-ngosan. Ka Dava terkekeh dan membuka pintu mobilnya.


"Tak masalah, masuklah."


Jawabnya, melihat lembut dan sabarnya ka Dava aku semakin merasa tak enak hati padanya. Memang semuanya gara-gara Radit, em pria itu memang dalangnya.


Aku dan ka Dava segera pergi dari tepi jalan ini. Sesekali ka Dava melirik ke arahku dan tersenyum, membuat ku salah tingkah saja.


"Kenapa ka?"


Tanyaku penasaran.


"Tidak papa. Hahaha."


Jawabnya terkekeh.


"Kenapa terus tersenyum?"


"Alena, apa kamu sengaja membiarkan rambut kamu berantakan seperti itu? hahaha."


Ya ampun ka Dava, aku lupa.


"Ck, bukannya di benarkan malah asik mentertawakan."


Kesalku, membenarkan rambu yang lupa ku sisir tadi.


Mobil berhenti karena lampu merah. Ka Dava memperhatikan aku yang masih sibuk membenarkan rambut.


Tiba-tiba ka Dava mendekat dan membantu membenarkan rambut bagaian depan ku. Canggung? tentu aku begitu malu. Wajahnya begitu dekat ku, membuat diri ini tiba-tiba mematung.


Tak sengaja, netra kita saling bertemu dan. Membuat kita tersadar dan saling canggung. Ka Dava kemudian kembali duduk dan menyetir karena lampu merah itu telah berganti menjadi hijau.

__ADS_1


__ADS_2