
23.45
Di saat Radit telah terlelap dalam tidurnya, aku masih saja terjaga mengutak-atik handphone di sofa. Merasa bosan, aku menyimpan handphone di sofa dan beranjak menuju balkon.
Angin berhembus, menyapa diriku dengan begitu lembut. Suara hewan yang masih terjaga di malam Selaru ini mengisi kesunyian dan kekosongan.
"An, aku kembali lagi."
Gumamku, menyatukan ke dua lengan dan menatap langit.
"Tapi an, semuanya telah berubah. Semuanya terasa tak sama. Tempat ini tidak lagi memberikan ku cukup kebahagiaan, tempat ini tidak dapat lagi mempertemukan kita. An, hik."
"A-aku, aku rindu kamu An. Mengapa kamu melakukannya? hik-hik-hik."
Sudah, aku benar-benar tidak dapat menahan tangis ku. Terlalu menyesakkan dada. Ini terlalu menyiksa.
Ku seka air mata dan mencoba tersenyum. Ketika melihat kamar Nara, tak sengaja aku melihat Namara yang juga sedang berdiri di balkon kamar seorang diri.
"Sedang apa dia? mengapa belum tidur."
Gumam ku, memilih kembali masuk ke dalam kamar, karena angin malam sudah terlalu ganas. Melihat Radit yang tertidur di kasur dengan sangat pulas. Aku mendengus kesal mengambil selimut dan bantal lalu menuju sofa.
__ADS_1
Ya, aku tidur di atas sofa. Tidak mungkin jika aku dan Radit satu ranjang. Memang keterlaluan sekali mereka.
.
Namara, dia masih berdiri di balkon kamar memandang luasnya permandangan yang di penuhi lampu rumah para warga. Matanya sembab, tangisnya masih saja berderai, dan hatinya sedang ia usahakan agar bisa berdamai dengan kenyataan.
"Namara, bagaimana ini? bagaimana cara aku mengatakan bahwa aku bukan kamu. Aku Renjana bukan Namara."
Isaknya memegangi dada kirinya.
"Na, aku minta maaf. Aku tidak bisa terus menerus seperti ini. Walaupun Alena harus membenci ku, aku tidak perduli."
Gumamnya terisak dalam kegalutan.
.
Radit terbangun dari tidurnya karena ingin ke kamar mandi. Ketika ia baru saja turun dari ranjang, ia melihat tubuh ku terbaring di sofa. Ia menggelengkan kepalanya dan pergi.
Tak lama, ia kembali. Kakinya melangkah menuju ke arahku. Ia duduk di lantai dan menatap wajahku yang telah terlelap. Sunggingan di pipinya terlihat manis. Wajahnya teduh dan perlahan ia mengusap wajahku dengan gugup.
Radit beranjak dan mengangkat tubuhku dalam dekapannya, lalu aku di baringkan di atas ranjang.
__ADS_1
Cup
Radit mencium dahiku dengan penuh kasih. Entah apa yang merasuki dirinya. Aku tidak paham.
"Lo cantik Al,"
Gumamnya, Radit lalu menyelimuti tubuhku dan kembali menuju sofa untuk melanjutkan mimpi indahnya di sana.
.
Pagi telah datang. Mentari menyapa dan burung bernyanyi dengan irama yang nyaring nan merdu. Aku terbangun dari tidur dan terkejut mendapati tubuhku yang sudah berada di di atas ranjang.
"Kok disini?"
Heranku menggaruk kepala. Aku lalu membiarkan kebingungan itu begitu saja dan beranjak untuk menuju kamar mandi. Namun, langkah ku terhenti ketika melihat Radit yang masih tertidur di atas sofa tanpa selimut.
"Wah, benar-benar telah berubah menjadi pria baik dia."
Gumam ku terkekeh dan segera pergi.
Namun, setelah aku pergi. Radit membuka ke dua matanya dan tersenyum.
__ADS_1
Ternyata dia sudah bangun, hanya berpura-pura tidur saja. Manipulasi yang sempurna.
Yang lain juga telah bangun dan sedang bersiap untuk perjalanan kita hari ini. Mereka begitu terlihat bersemangat, apalagi dengan kamera mereka masing-masing. Mereka terlihat keren dan seorang profesional. Hahaha, jijik amat.