
Nara dan Boby sedang duduk di halte. Mereka sibuk memperhatikan lalu lalang kendaraan dan bisingnya jalanan.
"Oh iya na, kenapa kamu tidak di jemput supir?"
Tanya Boby, mengingat biasanya Nara pulang di jemput roda empat.
"Supir aku sedang pulang kampung. Jadi ya, mau tidak mau."
Jawabnya, sedikit lesu.
Boby tersenyum, melihat wajah imut Nara yang terlihat cemberut.
"Nah, busnya datang."
Tambah Boby, kedunya segera beranjak dan membawa barang belanjaan Nara untuk segera menaiki bus.
Mereka duduk berdampingan, meski sebenarnya ada rasa canggung yang tiba-tiba mereka rasakan. Namun, keduanya bersikap seolah tidak ada kejanggalan dalam hati. Padahal tingkah mereka sudah jelas terlihat.
Setelah bus berhenti tepat di depan toko kue ibunya Nara. Perempuan itu segera turun. Namun, Boby juga ikut turun dan masih membantunya membawakan belanjaannya.
"Bukannya rumah kamu masih jauh?"
Tanya Nara, setelah bus berlalu. Membuat Boby tersenyum.
"Emm, tapi tidak mungkin bukan kalau gue biarin Lo bawa belanjaan sebanyak ini?"
Jawabnya, yakin. Yang membuat rona merah muncul di permukaan pipi Cabi Nara.
"Yasudah, dibawa kemana belanjaan ini?"
Tambahnya, Nara segera beranjak karena tak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya yang merasa begitu senang.
__ADS_1
.
20.00
"Alena, sebaiknya kamu segera pulang. Ini hampir larut."
Ujar ka Dava, menghampiri aku yang masih duduk di samping Giandra.
"Alena masih ingin disini ka."
Jawabku, tanpa menatap wajahnya.
"Alena. Besok kamu harus kembali sekolah, jadi sekarang kakak akan mengantarkan kamu pulang."
"Tunggu sampai Si Mbok dan Pak De datang, boleh?"
"Mereka akan tiba tengah malam. Lagi pula, ada perawat yang menjaga Giandra."
"Giandra, besok aku pasti kembali. Dan, segeralah bangun."
Pamit ku, ka Dava hanya tertegun. Lalu, aku segera beranjak di ikuti ka Dava.
.
"Ka Ell, sebaiknya kakak pulang. Naya khawatir dengan Radit,"
Ucap Naya, menggenggam lengan ka Ell yang sedang duduk di sampingnya.
"Baiklah, tapi ingat. Jangan sampai lupa minum obat."
Jawab ka Ell, membalas genggaman tangan Naya. Keduanya saling bertemu tatap dan tersenyum.
__ADS_1
Cup
ka Ell mencium kening Naya, ketika hendak pergi.
"Kakak."
Kagetnya, tersipu. Sementara ka Ell hanya tersenyum mengacak rambut Naya dengan penuh kasih.
"Mungkin besok kakak akan kembali lagi sore."
"Emm, tidak papa. Naya mengerti. Dan tolong buat Radit tidak salah paham dengan semua ini"
"Akan kakak Usahakan. Kamu jangan terlalu memikirkannya, kakak khawatir dengan kesehatan kamu."
"Iya, terimakasih."
"Emm."
Ka Ell mengangguk, mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan Naya. Meski sebenarnya ia tidak ingin membiarkan perempuan itu sendirian. Tapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena ada begitu banyak yang harus ia lakukan.
Setelah ka Ell pergi, Naya mengambil handphonenya dan memeriksa beberapa pesan.
"Naya, kamu harus kembali ke Bandung. Biar kakak yang mengurus perpindahan sekolah kamu. Kakak khawatir jika kamu disana tinggal seorang diri tanpa ada yang mengawasi."
Pesan yang di dapatkan dari seorang pria bernama Dika, kakak tirinya.
"Sejak kapan kakak perduli perihal kehidupan Naya? sejak mamah pergi. Dan papah menghilang, bukankah kakak juga sibuk mengurus diri."
Begitulah balasan yang ia kirimkan. Dan setelahnya, Naya memilih kembali membaringkan tubuhnya yang terasa pegal.
Dokter bilang, bahwa Naya perlu terapi fisik untuk penyembuhannya, namun itupun harus menunggu sampai ia benar-benar diperbolehkan melakukannya.
__ADS_1