
Disaat yang lain sedang duduk di pojok dekat meja, aku sibuk sendiri di sebuah ruang yang mungkin hanya cukup untuk tiga orang saja.
"Hey, di sini ada selimut dan bantal."
Teriak ku senang.
Dengan cepat mereka semua berlari ke arah ku, terkecuali Radit. Dia hanya duduk mengutak-atik laptop. Sementara Namara, gadis itu masih berdiri di balkon kamar sendirian.
"Wah, keren. Pemilik rumah pohon ini memang benar-benar mengerti."
Senang Farel.
"Emm, gak sia-sia Lo bawa kita ke sini Al."
Sahut Boby.
Aku hanya tersenyum menanggapi perkataan itu.
"Ambillah, segera berbenah untuk tidur."
Titah ku.
"Bener tu, sana bawa."
Ikut-ikutan Nara.
"Yeee nyuruh aja Lo bisanya. Sana bawa sendiri,"
Jawab Boby.
"Nah, sana bawa sendiri. Kita kaum Adam mau cari kayu bakar untuk api unggun."
Sahut Padil, merangkul ke dua teman laki-lakinya. Mereka lalu menatap Nara dengan serius, membuat emosi Nara semakin menyulut.
"Ist, mana ada cowo nyuruh perempuan buat ambil barang berat kayak gitu hah? Ambil dulu sana, aku mau ngusir nyamuk dulu wle."
__ADS_1
"Pergi bro, capcus."
Ujar Boby.
Mereka semua pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih tertegun. Dengan terpaksa, aku mencoba meraih selimut dan bantal yang ada di rak atas. Namun, itu terlalu tinggi hingga aku susah menggapainya meski sudah menggunakan kursi.
Tiba-tiba ......
Brak
Aku terjatuh, namun seseorang berhasil menangkap tubuh ku dalam dekapannya. Membuat netra ini saling bertatapan.
Alunan musik nyaring bersorak dengan suara jangkrik dan tawa dari anak-anak yang lain.
"So-sory,"
Tutur ku gugup, menjauhkan diri dari tubuh Radit.
"Emm, lain kali lebih hati-hati."
Jawab Radit, aku mengangguk dengan ragu.
Tambahnya, meraih bantal dan selimut itu. Sementara aku masih mematung karena terkesima.
Aku dan Radit kemudian membenarkan bantal dan selimut untuk kita semua tidur. Setelah itu, Radit kemudian duduk bersandar sambil memainkan laptop.
"Dimana Namara?"
Tanya ku, pada Nara yang masih menyemproti tempat ini dengan minyak wanginya.
"Tadi si dia balkon."
Jawab Nara, melihat ku sesaat dan kembali sibuk dengan kegiatannya. Kemudian aku beranjak untuk melihat Namara.
Benar, gadis itu sedang duduk di sana seorang diri. Menatap beribu bintang dan sesekali mengambil foto keindahan itu.
__ADS_1
Aku duduk di sampingnya, membuat dia sedikit terkejut namun kemudian ia memberiku senyum.
"Indah. Kamu beruntung mempunyai tempat seperti ini."
Ujar Namara, membuat ku tersenyum dan menatap langit bersamanya.
"Emm, tempat ini memang indah. Namun kenangan di dalamnya terlalu pahit Ra."
Jawab ku dengan wajah masih tersenyum. Berusaha Menyembunyikan sesak di dadaku.
"Aku kehilangan dua orang yang paling berharga di tempat ini."
"Aku kehilangan tawa ke dua manusia itu. Mereka benar-benar telah pergi, entah kenapa rasanya sesulit ini untuk merelakan."
Tutur ku, membuat Namara memandangiku dengan serius.
Ada gejolak di hatinya yang kian menyayat. Melihat netra ku yang mulai berbinar.
"Siapa mereka?"
Tanya Namara, seolah ia tidak tahu semuanya.
Aku menatapnya dengan dalam, tersenyum dan menggenggam tangannya.
"Woy,"
Namun, Nara tiba-tiba datang diantara kita. Membuat aku mengurungkan niat untuk memberitahu Namara tentang siapa dia manusia itu.
"Sudah ambil fotonya?"
Tanya Nara, meraih kamera di tangan Namara.
"Emmm, sudah."
Jawab Namara.
__ADS_1
'Ku pikir itu kamu Ra. Ternyata memang bukan.'
Batin ku, menatap Namara yang kini juga tengah menatap ku.