
Dalam hidup. Di satu waktu. Kita akan berada di satu fase dimana kita tidak lagi percaya akan cinta. Di patahkan asmara dan di jatuhkan harapan setelah sama-sama saling menguatkan.
Kita akan mengalami satu waktu patah hati yang teramat pahit dan itu cinta pertama. Entah itu cinta monyet atau pun hanya sebuah hubungan main-main. Namun, itu tidak akan mudah untuk dilupakan.
Dalam cinta. Memaksa orang lain untuk memiliki rasa yang sama adalah satu kejahatan yang begitu ganas. Atau, memaksa orang lain untuk melupakan rasanya adalah satu kesalahan yang teramat patal.
Kamu tahu. Cinta adalah rasa yang timbul tanpa alasan, tanpa perantara dan tanpa memikirkan apa pun resiko setelahnya.
Biarkan ia tumbuh tanpa harus dibunuh.
Cinta adalah satu anugrah yang membuat hidup terasa lebih bermakna. Percaya saja, kita tidak mungkin bisa hidup tanpa sebuah cinta.
Seburuk apapun makna cinta menurut mu. Ada begitu banyak kebaikan yang belum kamu temukan. Dalam buruknya sudut pandang mu tentang rasa yang datang pada mu, kamu memiliki kekeliruan dalam mendefinisikannya. Itu tidak salah, hanya sedikit kurang benar ketika kita menempatkan cinta hanya sekadar obsesi semata.
Rasa sakit setelah jatuh cinta adalah kebaikan yang kamu pandang sebagai sudut gelap keburukan.
Kamu membenci orang-orang yang telah menjalin kasih dengan mu, karena alasan kamu di patahkan. Padahal jika kita berpikir lebih dari sekedar hati yang kita miliki, dari rasa sakit itu ada banyak pelajaran yang kita dapatkan.
Baiklah dua hari telah usang. Aku dan Nara sedang duduk di bangku dekat pintu. Ya hari ini kelas kita sedang mengadakan runding mengenai peran untuk tugas drama Indonesia nanti.
"Jadi Nabil di perankan oleh Alena, dan Bram di perankan oleeeeeh. Emm Radit."
Ujar Wina sektretaris di kelas kita.
Sontak itu membuat ku begitu terkejut, kalau Radit jangan di tanya. Wajahnya terlihat sangat ganas.
Dan yang lain hanya berbisik-bisik sambil bertepuk tangan dan Seolah sangat setuju dengan keputusan itu.
__ADS_1
"Win. Kenapa aku?."
Tanya ku, protes.
"Nah, gue tidak mau menjadi pemeran utamanya. Apalagi dengan si badut."
Ujarnya dengan sorot mata tajam pada ku.
"Dih. Siapa juga yang mau jadi pasangan kamu, ogah."
Balas ku tak mau kalah.
"What. Lo bilang apa tadi? Badut? Maksud Lo Alena?."
Tanya Padil, keheranan.
Jelasnya membuat ku semakin geram.
"Cieee, punya nama panggilan sendiri buat Alena. Hmm."
Goda Farel membuat ku menggidik ngeri mendengarnya.
"Heh, apanya yang bisa di jadikan bahan olokan Lo."
Sinisnya membuat farel tiba-tiba mati kutu.
"Sudah-sudah. Ini sudah keputusan kita, jadi mau tidak mau ya kalian harus terima."
__ADS_1
Lerai Dika ketua kelas kita.
"Emm bener tu."
Setuju Nara dan yang lainnya. Terkecuali aku dan Radit.
"Naaa."
Malas ku padanya.
"Hehe. Sorry untuk saat ini aku tidak berpihak pada kamu Al."
Balasnya membuat ku memonyongkan bibir.
"Nah-nah. Teks kalian. Mulai besok sepulang sekolah kita akan latihan rutin."
Jelasnya sambil membagikan kertas pada kita.
"What."
Teriak Padil kaget setelah membaca teks drama miliknya.
"Eh, Lo kenapa si?."
Tanya Boby tak suka karena telinganya terasa sakit akibat suara temannya yang begitu keras.
"Tidak-tidak. Gak boleh terjadi ini, gak bisa."
__ADS_1
Tuturnya sambil memandangi kertas putih itu. Membuat kita hanya melongo keheranan dengan tingkahnya.