
Ketika sedang berdiri di depan cermin. Sambil menunggu Nara yang masih berganti baju.
Tiba-tiba seseorang datang ke WC perempuan, membuat para kaum hawa berbisik-bisik sambil terkekeh-kekeh.
"Radit, Radit." Tutur mereka.
"Ah, ganteng banget, apalagi rambutnya masih basah begitu." Timpal yang lain.
"Hah, bagaikan pangeran."
Dan begitulah perkataan alay perempuan ketika melihat laki-laki cool.
Aku hanya diam memperhatikannya acuh tak acuh.
Lalu, Radit menyodorkan kaos berwarna putih pada ku. Aku hanya diam mengangkat ke dua alis.
"Baju Lo kotor, pakai baju gue saja." Ujarnya.
"Tidak perlu." Acuh ku merasa kesal dengan perkataannya sewaktu kegiatan tadi.
Radit menghela napas dan menyimpan lengannya di samping tubuh kekarnya.
"Lo mau di sangka orang gila di bus hah?."
Bentaknya membuatku bertambah kesal.
"Ya. Ya biarin saja." Kikuk ku.
"Terserah." Jawabnya sambil beranjak.
Namun dengan sigap, aku menahan lengan kanannya.
Spontan, Radit melirik tangan ku yang masih menggenggam erat pergelangannya.
Dengan rasa malu, aku melepaskan tangan ku, karena masih banyak perempuan di WC yang masih memperhatikan kita.
"Bagaimana? Jadi Lo sudah berubah pikiran." Tuturnya dengan nada mengejek.
Aku memainkan bibir dan mengulurkan lengan ku. Dengan tawa yang di tahan, Radit memberikan Pakaiannya.
"Al." Panggil Nara terpotong karena melihat Radit.
Sementara aku hanya diam, karena tidak mendengar suara Nara.
__ADS_1
Sejenak Radit meliriknya dan berlalu.
.
"Yuk." Ajaknya.
"Aku ganti baju dulu, sebentar."
Dengan wajah keheranan Nara memperhatikan ku yang berlari kecil ke dalam toilet.
"Bukannya tidak membawa baju? Terus itu baju siapa?." Herannya.
"Radit. Hah?."
Kagetnya mengingat bahwa tadi Radit lah yang berbincang dengan teman barunya, ya siapa lagi kalau bukan aku.
Setelah selesai berganti pakaian, aku dan Nara kembali ke kelas untuk mengambil tas dan segera pulang.
"Alena."
Teriak seseorang, membuat ku terdiam karena telinga ku sangat hafal dengan nada suara itu.
"Ka Ell."
Heran ku berhenti melangkah, begitupun Nara.
Sapanya setelah berada tepat di depan hadapan kita berdua.
"Hai ka."
Jawab Nara ramah.
"Kakak boleh pinjam Alena?."
Godanya pada Nara.
Mendengar itu, Nara hanya diam kebingungan sambil sesekali melirik ke arah ku.
Ka Ell lalu mengedipkan mata kirinya pada Nara, membuat gadis itu tersenyum seketika.
"Oh, tentu boleh ka."
"Aku duluan ya Al. By."
__ADS_1
"Na, Nara. Kok duluan? Na."
Teriak ku, berharap Nara berubah pikiran.
"Tenang saja, ka Ell pasti jaga kamu Al. Dah."
Jawabnya sambil berlari kecil meninggalkan aku dan ka Ell di koridor sekolah.
Koridor
Aku dan ka Ell berjalan berdampingan, namun hanya saling diam.
Sedari tadi tidak ada percakapan, hanya sesekali saling lirik lalu kikuk sendiri. Ah tuhan, seperti ini kah rasanya senang namun juga tidak tenang?.
"Al."
Panggilnya, ketika aku nyelonong ke arah gerbang, namun ka Ell belok ke arah parkiran.
"Emm."
Jawabku kebingungan.
Ka Ell tersenyum sambil menunjuk sebuh mobil.
Dan aku hanya mengernyitkan dahi, masih tidak paham.
"Kita pulang naik mobil."
Tuturnya membuat ku hanya mengangguk.
.
Toko buku
Seorang gadis tengah memilah-milah buku, mungkin hendak membelinya atau hanya sekedar melihat saja.
Tak lama kemudian, ia mengambil sebuah buku dan membawanya ke kasir.
"Semuanya 57.000." Ujar sang kasir.
Lalu gadis itu mengeluarkan uang sejumlah seratus ribu dan memberikannya.
Sementara dari Jalan depan toko buku itu, sebuah mobil berwarna hitam terparkir, dan seorang pria yang mengemudikannya tengah memperhatikan gadis yang berada di toko bunga itu.
__ADS_1
"Naya, aku benar-benar tidak bercanda dengan perasaan ini."
Gumamnya kembali pergi meninggalkan toko buku itu.