Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Naya memasuki ruang kepala sekolah dengan penuh emosi. Ia meletakkan map yang dibawanya dengan keras, membuat pria yang sedang berdiri di dinding kaca memperhatikan para murid yang sedang berolahraga itu langsung terkejut dan menatapnya.


"Maksud papa apa si? Papa mau Naya bersaing dengan Nabil untuk beasiswa itu hah?"


Ujar Naya, sudah tidak sanggup lagi menahan gemuruh di dadanya.


"kalau iya kenapa?"


Jawab pria itu, duduk di kursinya dengan tenang.


"Hah,"


Naya menghembuskan napasnya dengan kasar. Membuang wajahnya dan mengusapnya dengan perlahan.


"Lagi pula, kalau kamu lulus beasiswa ini kamu bisa membuka biodata di di sini."


Tambah ayah tirinya.


"Hah, Naya tidak perlu itu semua. Karena Naya tidak menginginkannya."


Kata-kata itu membuat wajah pria itu menjadi begitu ganas.


"Ikuti saja tesnya, dan ingat. Kamu harus bisa mengalahkan siswi itu."


Geramnya menahan emosi.


"Naya tidak akan pernah mengikuti tesnya."


Jawab Naya, pergi begitu saja dari ruang bercat abu-abu itu.


Brak


Pak Yuda memukul meja dengan begitu keras.


"Ahhhh,"


Teriaknya, merasa kesal dengan sikap anak tirinya.

__ADS_1


.


Perlahan, hujan mulai reda. Hari semakin sore dan kita semua masih duduk di balkon rumah pohon ini.


Samar-samar, jingga merah mulai muncul di ufuk barat. sinar mentari menerobos awan hitam, menyentuh permukaan bumi untuk mengucapkan selamat tinggal.


"Wah, keren banget."


Puji Nara, melihat senja yang kini telah benar-benar hadir diantara kita semua. Lalu, Namara menyimpan kameranya dan menyalakannya. Ia langsung berlari dan duduk di samping Nara, kamera itu dengan sendirinya mengambil foto kami yang duduk berjajar menikmati kepergian senja.


Tak lama, handphone ku berdering. Ku raih gawai itu di saku celana dan segera mengangkat telpon yang masuk.


"Alena, kenapa tidak ada kabar. Kalian baik-baik saja kan, Tante sama om nanyain kalian terus karena susah di hubungi."


Ujar ka Ell di sebrang sana.


"Emm, kita baik-baik saja. Maaf tidak langsung menghubungi karena kita langsung sibuk dengan tugas."


Jawab ku, menatap Radit yang kini juga tengah menatap ku.


"Baguslah kalau gitu. Oh iya, dimana Radit kakak harus bicara dengan dia."


Aku memberikan telpon ku pada Radit.


"Kenapa?"


Tanya Radit dengan nada datar.


"Tante sama om nitip pesan buat jaga calon mantunya disana. Dan Lo, awas saja kalau menterlantarkan dia disana,"


Tutur ka Ell mengancam.


"*Emm, gue tahu. Dia milik gue dan gak mungkin kalau gue tidak menjaganya."


"Hah, syukurlah kalau Lo sudah sadar."


"Kalau gitu sebaiknya Lo belajar, biar nilai Lo lebih bagus dari gue. By*."

__ADS_1


Radit menutup telponnya, membuat ka Ell mendengus kesal di sana.


"Nah,"


Radit memberikan handphone itu pada ku.


"Apa tidak sebaiknya kita pulang sekarang?"


Tanya Radit.


"Kita nginep aja disini. Permandangan malam hari pasti jauh lebih indah kalau di sini."


Sahut farel, menghampiri kita.


"Nah, gue setuju."


Sahut Boby, di angguki Padil.


"Tapi kita tidak membawa apa-apa,"


Lesu Nara.


"Yaelah, gak usah manja deh Lo."


Ledek Boby.


"Brengsek memang, kalau kita kedinginan terus di gigit nyamuk gimana hah?"


Kesal Nara, membuat ku terkekeh.


"Kita kan bawa switer Na. Terus kamu juga kemana-mana selalu bawa parfum kan."


Ujar Namara.


"Namara."


Kesalnya, menghentakkan kaki.

__ADS_1


__ADS_2