
Ka Dava memalingkan wajahnya dari ku. Dan aku, masih menunggu jawaban darinya.
"Pernah,"
Jawabnya, menoleh pada ku.
"Apa, Giandra menginap di rumah kakak dan berlibur di sini?"
Tanya ku lagi.
"Emm."
"Berapa hari? mengapa tidak mampir ke rumah Alena? tega sekali dia."
Ujar ku sedikit kecewa.
"Lama sekali Al. Dia pernah bilang ingin bertemu dengan kamu, tapi. Pak De dan si mbok melarangnya."
Jelas ka Dava, masih fokus menyetir.
"Kenapa? Memangnya pak De dan si mbok juga ikut?"
"Mereka ikut Al,"
"Tidak mungkin jika mereka membiarkan Giandra merawat dirinya sendiri."
Tambahnya lirih, tak dapat ku dengar.
...........
14.30
Sebelum pergi ke rumah sakit, ka Ell memilih pulang terlebih dahulu ke apartemen. Untuk mandi dan berganti pakaian.
Ketika ka Ell hendak pergi, ia melihat Radit tengah meminum minuman soda di dekat wastafel cuci piring.
__ADS_1
Sesaat mereka saling pandang. Namun masih saling diam.
"Mau kemana dia? Terburu-buru sekali."
Gumam Radit, setelah ka Ell pergi dari sana.
Dan Radit, dia pergi ke sofa, menyalahkan televisi dan kembali meminum minuman miliknya tadi.
Sesaat, ia melirik handphonenya di meja namun kemudian ia fokus kembali pada siaran televisi.
"Kemana si badut? sudah ku peringatkan untuk kembali, tapi masih belum datang juga?"
Ketuanya, menyandarkan tubuh pada sofa.
.
18.00
clek
"Gue kira Lo tidak akan pulang ke sini,"
Tutur Radit di tangga dengan ke dua lengan di lipat di depan dada, ketika aku sedang membuka sepatu.
Radit menuruni satu tangga dan menatap ku sambil cengengesan.
"Lagi pula, kalau bukan mamah dan papah yang nyuruh, ogah aku ke sini."
Jawab ku ketus, menabrakkan siku ku pada tubuh Radit. Membuatnya hampir saja terjatuh.
Tapi anehnya, Radit sama sekali tidak membalas. Ia hanya memperhatikan ku sambil tersenyum.
Tunggu, untuk senyum kaki ini. Sepertinya Dia benar-benar tersenyum tulus. Ahhh, sudahlah. Tidak perlu di perdulikan.
.
__ADS_1
"Hah."
Ku hembuskan napas sambil membaringkan tubuh di atas ranjang.
Ku tatap langit-langit kamar dan tak sengaja melihat jam dinding di meja belajar.
"Ahhhh, aku harus segera mandi. Kalau tidak, aku akan tidur dengan banyak keringat."
Malas ku beranjak.
Tak lama, selesailah aku mandi. Dan segera memakai baju. Ya, kaos oblong berwarna putih dengan celana sedengkul berwarna abu. Cocok untuk tidur bukan?
ketika sedang mengeringkan rambut ku dengan handuk kecil di depan cermin. Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. Dengan cepat aku segera meraih selempang ku dan mengambil sesuatu.
Setelah menemukan bingkisan yang ku cari, aku segera pergi ke luar kamar. Sesaat, aku terdiam dan melihat di lantai bawah tidak ada siapapun.
Tok-tok-tok
Tok-tok-tok
Aku mengetuki pintu kamar Radit.
Tak lama, pria itu membuka pintu dan menampakkan wajahnya di balik papan coklat itu.
"Ada apa?"
Tanyanya, pergi dan duduk di kasur. Sementara aku masih mematung dengan wajah datar.
"Masuklah!"
Tambah Radit. Dengan malas, aku segera masuk dan berdiri tepat di hadapan Radit.
"Nah. Buat kamu."
Ujar ku, menyodorkan bingkisan yang ku bawa. Namun, Radit tidak langsung mengambilnya. Ia malah memperhatikan wajah ku yang terlihat jengkel sambil cengengesan.
__ADS_1