Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Ketika aku dan Radit memilih untuk mampir ke suatu tempat untuk sekedar menghiburku, di sekolah Nara merasa khawatir dengan keadaan ku. Begitupun Namara, ia selalu melirik kursi milikku yang masih saja kosong.


"Bro, Radit kemana? Apa dia mati?"


Bisik Boby, membuat ke dua temannya menoleh. Farel lalu menoyor kepalanya.


"Sembarangan, ngawur banget si Lo."


Jawab Padil


"Tahu, gak waras memang."


Timpal Farel, memilih mengacuhkan Boby.


"Yaelah, gue cuma nanya kali."


Belanya kembali tidur.


.


"Lo mau eskrim rasa apa?"


Tanya Radit, membuatku mendoak dan menatapnya.


"Terserah, asal jangan coklat."


Jawabku, di angguki Radit. Pria itu kemudian pergi untuk membeli sementara aku lebih memilih menidurkan kepala dan melihat ramainya jalanan.


"Rasanya ini tidak benar-benar nyata."


Gumamku, menghela napas. Tak lama, Radit kembali dengan dua porsi eskrim di tangannya.


"Punya Lo."


Tuturnya menyodorkan eskrim rasa strawberry padaku. Sementara dia membeli eskrim rasa jagung.


"Rasa apa itu?"


Ujarku, melihat eskrim milik Radit yang terlihat enak.


"Jagung,"


Jawabnya, mulai menikmati eskrim miliknya.


"Apa rasa jagung enak?"


Tanya ku, ketika melihat begitu lahapnya dia makan.


"Emm,"


Jawabnya, acuh.


"Aku pengen coba,"


Ucap ku merebut mangkuk eskrim di tangannya.


"Alena, itu punya gue."


"Aku bilang pengen coba,"


"Ck, Lo kan sudah gue belikan rasa strawberry."


"Bawel banget si, pelit pula."


Ketusku, membuatnya terdiam. Lalu, aku mencicipi eskrim milik Radit.


"Emm, Alena ingin eskrim punya kamu saja."


Ujarku, merasa rasa jagung lebih enak. Radit lalu membuang napas dengan kasar, dan meraih mangkuk eskrim rasa strawberry.


"Tidak boleh, yang ini juga punya aku."


Ganasku, menepuk lengannya.


"Serah Lo sajalah."


Kesalnya pasrah.


"Pelit."


Umpatnya tak mampu ku dengar, karena aku sibuk dengan eskrim yang menggugah lidahku, bahkan aku sampai lupa dengan kesakitan dalam hatiku.


Melihat aku bisa menghabiskan dua mangkuk eskrim, Radit tersenyum dan menatapku dengan dalam.


"Apa?"


Tanyaku ketus.

__ADS_1


"Rakus sekali, bahkan lebih rakus dari sapi."


Cibirnya, membuat darahku naik.


"Dasar manusia datar."


Ejekku, menatapnya dengan sinis, dan Radit memperlihatkan senyum devilnya, menyebalkan.


.


14.20


Kelas TMM 1 baru saja di bubarkan karena jam pelajaran baru selesai. Nara sedang sibuk membereskan buku-bukunya ke dalam tas.


"Na, mau pulang bareng?"


Tanya Boby menghampiri.


"Kamu ngajak aku pulang bareng atau gimana?"


Tanya Nara balik. Membuat Boby menggigit bibir bawahnya.


"Heheh, iya na. Pulang bareng mau?"


Ulang Boby,


"Boleh."


Jawab Nara,


Farel dan Padil saling pandang dan mengangguk dengan senyum yang entah apa yang ada dalam benak mereka.


"Ck, mau embat temen calon pacar gue ya?"


Goda Padil, menghampiri Boby diikuti Farel.


"Hati-hati Na, dia buaya udara. Berbahaya,"


Sahut farel, dan Boby hanya mendengus menendang kaki kanan Farel.


"Maksud kalian?"


Tanya Nara, membuat ketiga manusia itu saling pandang dan cengengesan.


"Tidak,"


Ketika hendak pergi, Padil melihat bangkuku yang masih kosong, dan tas milikku masih berada di sana.


"Oh iya, ngomong-ngomong, kemana calon pacar gue?"


Ujar Padil, menyimpan satu lengannya di pundak Boby.


"Tidak tahu, ka Dava membawanya pergi ketika jam istirahat tadi,"


Jawab Nara, menggendong tasnya.


"Sialan, senior itu memang cari masalah."


Kesal Padil, memainkan kakinya.


"Ck, ngomong sana depan muka tu senior. Mental Banci Lo."


Cibir farel berlari meninggalkan mereka. Dan dengan cepat Padil menyusulnya.


"Sialan Lo Rel."


Teriak Padil, membuat Nara dan Boby hanya tersenyum dan beranjak untuk segera pulang.


.


Namara, gadis itu sedang berada di sebuah jembatan. Berdiri sendirian sambil memandangi laju air deras dibawah sana.


"Aaaaaah,"


Teriaknya, tak menghiraukan sekeliling.


"Namara, aku harus bagaimana?"


Ujarnya, melipat ke dua lengannya di pagar jembatan itu.


"Na, Giandra."


Isaknya, tak mampu menahan tangis. Ya, dia tahu mengenai kepergian Giandra. Dan itu sangat membuat hatinya terluka.


"Hik,dia juga telah pergi. Lantas, bagaimana dengan aku Na? Bagaimana?"


Lirihnya. Mengusap air mata di pelupuk bertanya.

__ADS_1


"Aku tahu, kamu akan sedikit lega karena dia telah berada didalam yang sama denganmu. Tapi, apa yang perlu aku lakukan Na? Aku takut."


Paraunya, mencoba menenangkan hati dan pikirannya.


"Baiklah, aku tidak akan lagi mengecewakan kamu. Aku berjanji Na, aku berjanji untuk menjadi seperti yang kamu mau."


Tuturnya berusaha tegar, meski dadanya masih terasa sesak dan pikirannya meracau kacau.


.


17.00


Aku yang baru keluar kamar dan menuruni tangga, melihat Radit yang sedang duduk di sofa. Segera aku menghampirinya dan duduk di samping pria itu.


"Radit, aku ingin pulang dulu ke rumah."


Ujarku, membuatnya mengalihkan pandangan pada ku.


"Kenapa?"


Tanya dia, mengacuhkan televisi.


"Aku hanya ingin menenangkan pikiran dulu,"


Jawabku, Ia membenarkan posisi duduknya dan menghadap pada ku.


"Apa disini Lo tidak mendapatkan ketenangan?"


Membuatku mendoak, menatap netranya yang berbinar.


"Bukan seperti itu, aku hanya.....Emmm."


"Baiklah, hanya untuk satu hari."


"Hah? tidak mau, itu tidak cukup."


"Lalu?"


Tanya Radit, melipat kedua lengannya di depan dada.


"Yaaaa, sampai aku mau kembali lagi kesini."


"Asal tidak lebih dari tiga hari."


Jawab Radit, membuatku memonyongkan bibir. Lagi pula, kenapa aku harus meminta ijin padanya. Seharusnya kalau aku mau pulang ya pulang saja. Tapi rasanya itu tidak sopan, membiarkan dia sendirian di sini.


"Emm, janji. Tapi antarkan aku sekarang ke rumah."


Ujarku, membuat Radit mengangguk cepat dan beranjak. Aku tersenyum senang dan segera pergi ke kamar untuk membawa tas milikku.


.


Ka Ell, dia baru saja sampai di puskesmas dan sedang berjalan menuju ruang tempat Naya tinggal. Wajahnya berseri, senang karena ia mendapatkan kabar dari dokter bahwa Naya akan segera sembuh tanpa terapi.


Clk


Ka Ell membuka pintu, namun senyumnya kini tiba-tiba hilang begitu saja ketika mendapati ranjang di sudut sana kosong tanpa penghuni.


"Na,"


"Naya,"


Teriaknya, memasuki ruang bernomor 25 itu dan mencari-cari keberadaan Naya. Namun, ia tak menemukan perempuan itu. Ka Ell lalu membuka lemari milik Naya dan tak ada satu pemain perempuan itu yang tersisa.


"Tidak mungkin."


Tuturnya, berlari keluar, untuk menanyakan Naya pada penjaga puskesmas itu.


"Pa, apa Pasie di ruang dua puluh lima sudah keluar?"


Tanya ka Ell, bimbang.


"Sudah sedari pagi tadi."


Jawabnya, berhenti menyapu halaman.


"Sial,"


Umpat ka Ell.


"Aden namanya Ell?"


Tanya bapak itu, di angguki ka Ell.


"Ini, si nengnya nitip ini untuk Aden."


Ujarnya, memberikan sebuah amplop pada ka Ell. Dengan cepat ka Ell meraihnya. Ingin sekali rasanya ia membuka amplop itu di sana saat itu juga. Tapi, tidak mungkin. Jadi ka Ell memutuskan untuk pamit dan kembali pergi dengan roda duanya agar segera sampai dirumah Tantenya.

__ADS_1


__ADS_2