
"Dimana Radit?."
Tanya ka Ell ketika aku baru saja sampai di hadapannya. Seolah tidak ada yang terjadi diantara kita. Mungkin ia lupa, atau entahlah.
"Sedang berbincang dengan pujaan hatinya."
Jawab ku so manis.
"Pujaan hati?."
Tegasnya, yang langsung ku angguki.
Lalu aku melihat Radit dan Naya tengah menghampiri kita dan ka Ell pun melihat itu.
Ku dengar hembusan napas ka Ell yang terdengar sangat berat.
Nara. Dia hanya celingak-celinguk tidak mengerti dengan semua ini.
Ketika Radit dan Naya sudah tepat di hadapan kami. Aku memutuskan untuk segera pergi. Namun ka Ell menahan ku dengan cepat.
"Mau kemana?."
Tanya ka Ell, aku menatap netranya lalu beralih pada Radit dan Naya.
"Pulang dong ka."
Jawab ku malas.
"Kita kan pulang bareng."
Ujar ka Ell, aku menarik napas dengan kasar. Ku tatap Radit, dan pria itu seolah tidak perduli.
"Alena tidak barang kalian. Nara minta Alena menemaninya untuk berbelanja."
Ujar ku.
Ka Ell dengan cepat menatap Nara. Lalu gadis itu mengangguk dengan semangat.
"Baiklah, pulang sebelum jam sepuluh malam."
"Iya ka."
Jawab ku langsung berlalu, dan Nara mengekor di belakang ku.
Setelah aku pergi, Radit langsung melemparkan kunci mobil pada ka Ell. Seolah menyuruh pria itu untuk mengemudi, dan Radit langsung masuk ke dalam mobil bersama Naya.
Dengan malas, ka Ell menancap gas mobil itu dan membelah jalanan.
Sepanjang perjalanan, ka Ell terus saja memperhatikan Radit dan Naya dari kaca, ke dua manusia itu terlihat sangat bahagia. Seperti dunia milik mereka berdua ck.
__ADS_1
.
Oke beralih pada ku.
Aku dan Nara baru saja turun dari bis, dan langsung menuju mall.
"Nara, kenapa kamu membeli perlengkapan untuk membuat kue?."
Tanya ku setelah kami mulai menelusuri pusat perbelanjaan ini.
"Emm, Mamah ku jualan kue Al."
Jawabnya sedikit menunduk. Ya mungkin ada rasa malu yang Nara sembunyikan.
"Wah. Berarti kamu juga bisa bikin kue dong?."
Tanya ku lagi antusias. Nara mengangguk dengan senyum yang merekah membuat ku sedikit tenang.
"Boleh dong lain kali ajari aku bikin kue."
"Tentu Al."
"Makasih."
"Emmmm."
.
Setelah aku dan Nara selesai membeli perlengkapan yang di butuhkan sahabat ku ini. Kita memutuskan untuk menikmati eskrim ya sekedar melepas dahaga.
"Emm iya Al. Kenapa ka Ell tadi maksa kamu buat pulang bareng?."
Tiba-tiba Nara menanyaiku perihal itu.
Aku tersentak, menatapnya dengan kikuk.
"Emm itu, emmm. Emm, mungkin karena arah kita sama."
Gelagat ku.
"Emmm. Terus kenapa tadi ka Ell tanya Radit pada kamu?."
Tanyanya lagi.
"kalau itu Emm, aku sama Radit kan satu kelas. Wajarlah kalau ka Ell tanya aku."
"Benar juga."
"Kenapa memangnya Na?."
__ADS_1
"Tidak ada. Hanya penasaran saja."
"Emm. Mau makan dulu?."
Tanya ku mengubah topik.
"Jam berapa sekarang?."
"Sembilan dua puluh."
"Aku temani saja ya."
"Kenapa?."
Heran ku.
"Aku tidak membawa uang lebih Al."
"Biar aku yang traktir."
"Serius?."
"Emm. Yuk."
Ajak ku. Nara dengan cepat menyusul ku dan menggandeng lengan kiri milik ku.
.
Ka Ell menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Benar turun di sini Na?."
Tegas Radit.
"Iya."
"Kenapa tidak ikut kita ke apartemen?."
Tanyanya lagi, membuat Naya terkejut.
"Dit."
Bentak ka Ell.
"Iya-iya, hanya bercanda. Hati-hati Na."
"Emm kalian juga."
Jawabnya setelah turun dari mobil.
__ADS_1
Radit melambaikan tangannya, di balas Naya. Dengan secepat gesit mobil itu melaju kembali dengan kecepatan tinggi.