
Lama aku duduk di sini, menunggu sebuah bis melintas ke arah selatan.
Awan tiba-tiba berubah menjadi gelap. Guntur sesekali terdengar dengan sangat keras.
"Duh sepertinya akan hujan."
Cemas ku, mengamati awan yang berarak cepat.
Lalu terdengar suara benturan gemircik air hujan dengan atap halte.
"Yah."
Lesu ku menyandarkan tubuh pada kursi.
...............
Radit. Pria itu tengah mengendarai mobilnya, dan memarkirkannya di depan sebuah Alfamart.
Setelah membeli beberapa barang yang di butuhkan, ia segera kembali ke dalam mobilnya dan melindungi kepalanya dengan tangan dari gemircik air hujan.
Ketika hendak membelokkan mobilnya menuju jalur pulang. Ia malah tiba-tiba memikirkan keadaan ku.
"Apa dia sudah pulang?."
Tanyanya pada diri sendiri.
Lalu, tanpa komando dari dirinya. Mobil itu melaju ke arah yang berlawanan dengan jalan pulang.
Ketika ia sudah hampir sampai di halte. Tiba-tiba ia menghentikan mobilnya.
"Kenapa juga gue harus mikirin dia?."
Acuhnya merasa angkuh.
Lalu, Radit kembali memarkirkan mobilnya dan pulang ke apartemen.
..............
Sampailah Radit di apartemennya.
Clek
Ia membuka pintu dan melepaskan sepatunya.
__ADS_1
"Dimana Alena?."
Tanya ka Ell tiba-tiba menghampiri keponakannya.
"Mana gue tahu."
Jawabnya acuh, dan pergi begitu saja.
"Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada dia?."
Tutur ka Ell, membuat langkah Radit terhenti.
Radit menghela napas dan membalikkan tubuhnya.
"Bukan urusan gue."
Jawabnya malas. Dan kembali melakukan langkahnya menuju kamar.
"Bukan urusan Lo? Justru dia adalah urusan Lo, dia itu tunangan Lo. seharunya Lo jaga dia, bukan malah memperlakukannya seenak jidat."
Emosi ka Ell, tapi Radit masih terus memapah kakinya menaiki tangga.
"Kalau gitu, Lo saja yang di jodohkan dengan si badut."
Merasa percuma dengan sikap keponakannya yang tidak pernah mau kalah. Ka Ell lebih memilih pergi ke dapur dan mengambil minuman bersoda dari kulkas.
............
Hujan semakin deras. Hari semakin gelap. Hawa semakin dingin. Dan aku, masih sendirian di halte.
"Bus libur kali ya. Dari tadi tidak ada satu pun yang datang ke sini."
Ketus ku, berdiri dan memperhatikan sekeliling.
Tut-tut-tut
Tiba-tiba, seseorang dengan sepeda motornya berhenti tepat di hadapan ku.
Ia kemudian turun dan menghampiri ku.
"Ka Dava."
Tutur ku, setelah pria itu membuka helmnya.
__ADS_1
"Belum pulang?."
Tanyanya, membenarkan rambutnya.
"Seperti yang kakak lihat."
Jawab ku, membuatnya terkekeh.
"Kalau gitu, kakak antar kamu pulang. Tapi setelah hujannya reda."
Ujarnya sambil duduk di kursi.
"Emm. Apa tidak papah jika Alena merepotkan kakak?."
Tanya ku, duduk di sampingnya.
"Tidak merepotkan kok, kalau untuk kamu Al."
Membuat ku tersipu.
...............
Semakin hari, aku semakin merasa nyaman dengan ka Dava. Entah, setelah mendengar penjelasan ka Ell malam itu, rasa ini sepertinya hilang begitu saja.
Untuk kali ini, aku merasa nyaman. Berada di dekat ka Dava, membuat ku merasa bahagia. Ia mampu membuat ku jengkel, tapi di sisi lain. Ia juga bisa membuat ku tertawan.
Sampailah aku di persimpangan. Ya, aku meminta untuk turun di sini karena takut rahasia pertunangan ku di ketahui ka Dava. Oh jangan sampai.
"Kenapa tidak sampai depan rumah saja?."
Tanya ka Dava, setelah aku turun.
"Papah suka marah kalau lihat aku dekat sama laki-laki."
Tutur ku kikuk.
Mendengar itu, ka Dava mengerti dan hanya mengangguk.
"Makasih ka, hati-hati."
Ujar ku. Ka Dava tersenyum, namun. bukannya kembali memakai helm, ia malah lebih memilih mengacak rambut ku.
"Iya. Kamu juga hati-hati."
__ADS_1
Lembutnya, membuta ku lagi-lagi merasa seperti di perlakukan layaknya seorang perempuan yang sesungguhnya.