
Jam pembelajaran tengah berlangsung. Di depan seorang guru muda nan cantik jelita tengah menerangkan materi drama, ya dia guru bahasa Indonesia.
Namun. Bukannya aku memperhatikan pelajaran di jam sekarang, saraf otak ku malah terus sibuk memikirkan perkataan ka Ell pada ku.
"Hah."
Aku menarik napas, membenarkan duduk ku dan bersandar pada kursi.
Ku mainkan ballpoint di lengan ku.
"Mungkin iya untuk sekarang kamu belum mencintai Radit. Tapi entah di kemudian hari."
Kata-kata itu yang saat ini mengganggu konsentrasi ku. Hanya kata-kata ini juga yang terus mengiang di telinga ku.
Perlahan aku melirik ke arah belakang, ku tatap wajah Radit dengan damai.
Dia memang tampan. Tapi entah kenapa aku sama sekali tidak tertarik dengan ketampanannya, justru ia sangat menyebalkan bagi ku.
Lamunan ku buyar saat ke dua netra ku melihat Radit mengernyitkan dahi dan ia juga menatap ku dengan tatapan tajam.
Dengan cepat aku kembali duduk dengan benar.
"Baiklah. Tugas kalian adalah membuat sebuah video drama, drama apa pun itu. Ibu beri waktu kalian selama dua Minggu."
Ujar Bu Mia.
"Ahhhh."
Jawab malas kami. Tentu siapa juga yang ingin di beri tugas oleh gurunya. Kami hanya ingin mendengar kabar hari libur, bukan kah itu cukup menyenangkan.
"Bu, video drama di buat oleh satu kelas?."
Tanya Farel.
"Iya farel. Ingat semua orang harus kebagian peran, jangan sampai ada yang nganggur."
"Siap Bu."
"Baiklah, untuk pertemuan hari ini ibu cukupkan sampai di sini. Selamat siang."
__ADS_1
"Siang. Terimakasih banyak Bu."
Jawab kami, Bu Mia pergi meninggalkan kelas. Lalu para penghuni kelas TMM 1 ini kembali ricuh dan gaduh.
"Wah. Seru tuh Al kita dapat tugas bikin video drama."
Ujar Nara antusias pada ku.
"Apa nya yang seru si Na. Yang ada aku malas Na."
Jawab ku membereskan buku.
"Ck. Murid pintar ternyata bisa malas juga."
Ledeknya pada ku.
"Maaf Nara, Alena tidak sepintar itu."
"Wle. Mual aku lihat kamu lebay kayak gitu."
"Hahahah."
"Kamu kenapa Al?."
Tanya Nara melihat wajah ku yang berubah jadi muram.
"Tidak kok Na. Yuk pulang."
"Bener tidak papah?."
"Iya Na. Kenapa juga aku harus bohong."
"Yasudah deh, yuk."
Aku dan Nara menyusui koridor dengan canda. Namun, senyum ku di buat hancur lagi ketika aku melihat Radit dan Naya tengah berbincang di depan kelas TKJ 2, jelas itu kelas Naya. Perempuan cantik, lembut dan ya sempurna deh.
"Al. Kok diem si?."
Tanya Nara, membuat Radit dan Naya melirik ke arah kita dan aku menjadi kikuk.
__ADS_1
"Al. Al, kok aku di tinggal?."
Teriaknya, dengan cepat menyusul ku.
"Kamu tidak pulang bareng Alena?."
Tanya Naya pada Radit, ketika ke duanya memutuskan untuk segera pulang.
"Dia bisa pulang sendiri."
Jawab Radit di angguki Naya.
di parkiran, ka Ell sudah menunggu Radit tepat di depan mobil milik keponakannya itu.
"Alena."
Panggilnya, membuat langkah ku terhenti. Aku menatapnya, dan bruk. Nara menabrak ku.
"Nara."
Malas ku.
"Salah kamu juga berhenti ngedadak."
Jawabnya polos. Aku tertunduk, Nara memperhatikan ku, lalu menatap ke sekeliling dan menemukan ka Ell.
"Al, kenapa? Biasanya tiap kali lihat ka Ell kamu seneng. Lah ini malah lemes kayak gini?."
"Alena."
Teriak ka Ell lagi.
"Al."
"Al, di panggil ka Ell tu."
Ujar Nara.
"Tahu."
__ADS_1
Jawab ku ketus membuat Nara kesal. Dengan gontai aku menghampiri ka Ell di ikuti Nara.