
Lama sudah aku menonton televisi. Dan tidak ada satu siaran pun yang ku sukai. Semuanya membosankan.
20.20
Radit baru saja selesai memasak. Aku yang baru datang ke meja makan sangat senang melihat ada makanan yang bisa mengganjal perut ku untuk malam ini.
"Gue dan Ell mungkin tidak akan pulang malam ini. Jadi Lo besok berangkat naik bus saja."
Ujar Radit sambil pergi setelah mengambil tasnya di sofa.
Aku yang mendengar itu hanya mematung sambil memegangi kursi makan.
"Ta-tapi. Aku takut tinggal sendirian di sini."
Protes ku ketika Radit hendak membuka pintu.
"Tidak usah manja. Lagian Lo bukan lagi anak kecil yang mempercayai tahayul."
Brak.
Pintu tertutup dengan rapat dan meninggalkan rasa kaget pada ku.
"Naya saja terus. Pergilah, aku tidak perduli. Lagi pula lebih baik mereka tidak ada bukan."
Gerutu ku mulai makan.
"Emm. Enak juga makanan manusia datar itu."
Puji ku sesaat dan kembali melahap omelette jagung dan telur serta daging sapi di hadapan ku.
................
Ketika Radit sampai, ternyata Naya sudah sadar. Ka Ell yang saat itu sedang menyuapi Naya makan langsung menyimpan mangkuk nasi itu di meja karena Naya sudah selesai makan.
"Sudah membaik?."
Tanya Radit, sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Naya.
"Sudah."
Jawabnya, dengan wajah berseri-seri.
Melihat itu, wajah ka Ell tiba-tiba menjadi ketus.
"Kakak, sebaiknya kakak pulang saja. Lagi pula sekarang Radit sudah kembali."
Tutur Naya membuat ka Ell semakin kesal.
"Ta-tapi Na."
"Kakak tidak perlu khawatir. Naya tidak papa, dokter juga bilang kalau Naya hanya kelelahan."
"Na."
"Di rumah Alena sendirian ka, kasihan dia."
Sesaat, ka Ell terdiam.
"Baiklah. Gue nitip Naya."
Pasrah ka Ell pergi.
Radit hanya mengangguk dan tersenyum simpul sambil memeluk tubuh Naya dengan lengan kirinya.
...........
Malam sudah semakin larut. Ka Ell yang pulang menggunakan motor, tidak langsung ke apartemen. Ia lebih memilih untuk singgah dulu di sebuah kedai kopi pinggir jalan.
Kopi di hadapannya sudah mendingin, sama seperti sikap Naya terhadapnya. Seperti benar-benar tidak ada lagi rasa cinta di hati perempuan itu untuk dirinya.
Jatuh cinta sendirian memang sangat menyakitkan, apalagi jika kita tetap mempertahankan rasa sementara ia meminta untuk binasa.
kakak. Kita satu nasib. Alena mencintai kakak, dan kakak mencintai Naya. Tapi, Naya mencintai Radit dan mereka memang saling mencintai.
Tuhan benar-benar membuat ku bingung. Mengapa rasa ini harus ada, dan mengapa harus pada orang yang tidak memiliki rasa yang sama.
..............
__ADS_1
Clek. Ka Ell baru saja sampai di apartemen. Setelah melepaskan sepatunya, ia segera bergegas. Namun, melihat aku yang sudah tertidur di sofa dengan televisi menyala membuat langkahnya terhenti.
Kakinya kini melangkah ke arah ku. Lama ka Ell menatap wajah ini, jika aku tahu mungkin akan sangat membuat diri ini dibanjiri keringat dingin. Tapi sayangnya aku tengah terlelap.
"Anak ini."
Umpatnya dengan senyum tipis.
Ka Ell lalu duduk di samping ku, tidak di sofa tapi dilantai.
Tangannya perlahan mengelus rambut ku, dan menuju pipi cabi milik diri ku.
"Mengapa kamu harus mencintai kakak? Dan mengapa kakak harus mencintai orang lain?"
Ujarnya, seperti merasa bersalah atau entahlah. Yang jelas wajahnya terlihat muram.
Ka Ell lalu berdiri dan membawa tubuh ku di pangkuannya untuk dipindahkan ke kamar. Sungguh hebat, padahal kecil juga aku berat, mana naik tangga lagi.
.............
"Huaaaaaaa."
Aku menggeliat, ruh ku baru kembali lagi menyatu dengan raga setelah lama pergi ke dunia antah berantah.
Setelah mematikan alarm, aku langsung pergi menuju kamar mandi.
06.45
Lama aku menatap wajah ku di cermin, entah kenapa aku tiba-tiba merasa rindu orang tua ku. Sudah lama sekali aku tidak mendengar pertengkaran kecil mereka di rumah. Aku rindu teriakan ke duanya.
'Mamah, Papah, Alena kangen kalian.'
Batin ku menjerit,
Setelah merasa bosan sendiri. Aku langsung pergi kelantai bawah setelah membawa ransel ku di atas ranjang.
Ketika sedang menaiki tangga, langkah ku melambat saat netra ku melihat sudah ada makanan di meja. Padahal aku sama sekali tidak memasak.
"Siapa yang memasak sepagi ini?"
Tanya ku, sambil celingak-celinguk melihat makanan yang terlihat lezat.
Aku menemukan selembar kertas kecil berbentuk kotak berwarna biru.
"Ell."
"Ka Ell."
Setelah tahu bahwa itu pesan yang ditulisnya.
"Hah. Jadi, ka Ell juga yang pindahkan aku ke kamar?"
Kaget ku, tersadar bahwa aku semalam tertidur di sofa.
"Ahhhhhh."
Kesal ku.
"Ka Ell lihat wajah jelek aku saat tidur dong, ist."
Umpat ku pada diri sendiri.
"Yasudahlah, lebih baik aku makan saja."
Pasrah ku memilih langsung makan, mengingat bahwa makanan ka Ell begitu lezat.
..............
Sekolah.
Aku baru saja sampai di kolidor. Melihat Nara yang sedang asyik berbincang dengan Boby, akhirnya aku memilih untuk menghampiri mereka.
"Hai."
Sapa ku basa basi. Membuat keduanya menatap ku dengan seksama.
"Al."
__ADS_1
Jawab keduanya berbarengan, membuat ku sedikit kebingungan.
"Sedang apa kalian disini?,"
Tanya ku, sedikit ketus.
"Ada deh."
Jawab Boby asyik.
"Dih."
Jijik ku dengan jawaban pria itu, sementara Nara hanya cengengesan tidak jelas.
"Aku hanya sedang bertanya mengenai Naya, barangkali Boby tahu."
Tutur Nara kemudian, setelah melihat wajah ku yang jengkel.
"Owhhhh."
Sahut ku mengangguk-anggukkan kepala.
"Jadi, bagaimana dengan keadaan perempuan itu?."
Tambah ku penasaran. Separah apa si dia, sampai-sampai Radit tega meninggalkannya sendirian.
"Perempuan. Naya maksud Lo?"
Tegas Boby, segera ku angguki dengan malas.
"Dia baik-baik saja. Hanya sedikit kelelahan."
"Yasudah sebaiknya kita ke kelas."
Ujar Nara, membuyarkan lamunan ku. Kemudian kita pun segera pergi menuju kelas. Aku berjalan paling belakang dengan wajah menunduk dan ke dua lengan memegangi tas.
"Segitu saja, Radit sangat khawatir. Dia sama sekali tidak perduli jika terjadi apa-apa pada ku. Padahal aku tinggal sendirian di apartemen."
Gerutu ku pelan.
"Untung saja ka Ell pulang."
Tambah ku.
Bruk.
Aku menubruk seseorang, membuat kening ku sedikit sakit. Karena tepat saja dahi ini mendarat di dada bidang seorang pria.
"Radita."
Ujar ku, setelah kepala ini mendoak.
Ia hanya diam dengan wajah datarnya. Ke dua lengan yang berada di saku celana dengan menggunakan headset bluetooth.
Merasa kesal padanya, aku memilih segera pergi karena Nara dan Boby sudah tidak lagi ku lihat.
"Nga-ngapain?"
Tanya ku, karena Radit tiba-tiba saja menahan lengan ku.
"Lo sudah makan?."
Tanyanya, masih dengan wajah datar.
"Sejak kapan kamu khawatir pada ku?"
Jawab ku malas.
"Jawab saja. Tidak perlu balik bertanya, tidak sopan."
Bentak Radit membuat ku tiba-tiba merasakan sesuatu yang menyayat di hati.
"Radit."
Tiba-tiba seorang perempuan dengan wajah pucat nya datang. Dengan cepat Radit melepaskan cekalannya dari lengan ku. Dan wajahnya kini berubah menjadi lebih bersahabat dan manis.
"Pantas saja,"
__ADS_1
Gumam ku, memilih pergi.
ku pikir, Radit akan kembali menahan ku. Nyatanya dia lebih tertarik dengan perempuan yang baru datang itu. Menyebalkan. Tapi ya sudahlah, lagi pula aku tidak mengharapkan dia.