
Kita semua telah bersiap untuk segera pergi ke suatu tempat untuk pengambilan gambar.
"Al, Lo mau ajak kita kemana hari ini?"
Tanya Padil, sembari berjalan ke arah ku.
"Nah, bener tu."
Sahut Nara.
"Kebun pak De dan si Mbok."
Jawabku, sambil membenarkan rambut.
Mereka mengangguk, percaya padaku.
"Yuk, berangkat. Keburu siang."
Ajak ku sambil berjalan lebih dulu. Dan yang lain mengekor di belakang.
.
Di sepanjang perjalanan, tawa lepas dan wajah bahagia mereka terlihat jelas. Mereka begitu menyukai permandangan di kota ini. Aku senang, tidak membuat mereka kecewa.
"Wah, luar biasa. Indah banget Al."
Kagum Farel, sembari sesekali mengambil gambar begitupun yang lain.
Aku tersenyum melihat kebahagiaan mereka. Namun, ketika aku melirik ke arah Radit, pria itu tengah mengambil gambar sebuah gunung yang terlihat jelas dari jalan sini. Tanpa ku kira, aku meraih kameraku dan mengambil gambar pria itu.
.
Setelah sampai di puncak, kini wajah mereka terlihat begitu lesu. Keringat mengucur di dahi dan tubuh mereka.
"Hah, cape banget Al. Gak kuat."
Ujar Nara yang tepat di tempat. Dengan cepat Boby menghampiri Nara dan membiarkannya tidur di pahanya. Pria itu mengipasi Nara dengan lengannya.
__ADS_1
"Woy, air woy."
Teriak Boby, dengan cepat aku memberikan sebotol air dari dalam tasku padanya.
Namara yang saat itu masih tertinggal di bawah, sangat terlihat pucat.
"Padil, Namara. Dimna dia?"
Tanya ku cemas.
"Biar gue lihat dibawah."
Jawabnya berjalan ke bawah.
.
"Ra, Lo gak papa?"
Tanya Padil, mendapati Namara yang sedang duduk memeluk ke dua kakinya. Bukannya menjawab, Namara malah langsung memeluk tubuh Padil dengan erat. Membuat pria itu terkejut bukan main.
"Aku takut, hik."
Ya, Namara ketakutan untuk naik ke atas sana. Dia takut mengingat semua kenangan yang di laluinya disana. Ia takut kembali menangis dan membenci dirinya sendiri.
.
Di saat semua orang sedang beristirahat. Namara dan Padil baru datang menghampiri kita. Aku segera beranjak menghampiri perempuan yang begitu terlihat pucat.
"Ra, kamu baik-baik saja?"
Tanya ku khawatir. Dengan senyum tulusnya ia menjawab bahwa ia baik-baik saja.
Aku langsung memapahnya untuk segera duduk dan memberinya minum.
"Al, laper gue. Mana gak pada bawa makanan lagi."
Gerutu Farel yang sedang melempar-lemparkan batu kerikil.
__ADS_1
Aku terdiam dan sedikit berpikir.
"Kita temui pak De dan si Mbok saja, mereka pasti bawa makanan."
Jawabku membuat mereka semua sumringah.
Kita pun segera bergegas pergi. Tak jauh dari tempat kami istirahat, sebuah saung sudah terlihat jelas dengan dua penghuni.
"Pak De, Mbok."
Teriakku, membuat dua manusia itu melirik.
Aku berlari menghampiri mereka dan langsung memeluk tubuh si Mbok. Dengan haru pak De ikut memeluk tubuhku.
.
Setelah pelukan itu selesai, kita semua di ajak duduk dan makana bersama. Kebetulan makanan yang si Mbok bawa juga lumayan banyak.
"Kowe lagi ngapa nang kene?"
Tanya pak De.
"Tugas sekolah Pak De,"
Jawab ku.
"Oh, sampeyan manggon ing ngendi?"
Tanya Pak De lagi.
"Penginapan yang dekat rumah pak De dam Mbok itu."
"Oh ya. Ati-ati banjur. Yen ana apa-apa, aja sungkan-sungkan menyang omahe Mbok lan Pak De,”
Sahut si Mbok.
"Iya Mbok."
__ADS_1
Tuturku, membuat mereka hanya mati kutu mendengarkan.