Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Mentari datang dan pergi tanpa mengetuk pintu dan memberi salam perpisahan. Waktu pun bergulir terlalu cepat dengan kenangan. Dua hari telah usang, aku dan yang lain kini sedang sibuk dengan perayaan karena tugas kami telah selesai.


Ya, kami merayakannya di depan penginapan. Dimana lagi kalau bukan disini?


"Huaaa,"


Nara terus menerus menguap, begitupun Namara dan yang lain. Hanya aku dan Radit yang masih terlihat segar tak mengantuk.


"Gue mau tidur, bye."


Pamit Padil, di susul dua temannya.


"Emm, aku juga. Ayo Ra."


Sahut Nara, di ikuti Namara.


Sedang aku, hanya saling tatap dan gugup dengan Radit. Hembusan angin membuat bulu tangan ku merinding. Namun, suasana ini masih membuat ku betah berada di sini.


Di saat aku sedang asyik menatap bintang, Radit beranjak duduk mendekat ke samping ku. Perlahan, ia menggenggam tangan kiri ku. Membuat netra ini saling bertemu tatap.


"Tidak papa bukan?"


Ujar Radit tersenyum, membuat mata ku membulat.


"Al, aku tidak akan melepaskan kamu. Orang tuaku sudah dengan tepat memilih kamu untuk ku."


Tuturnya lagi, semakin membuat debar jantung ku tak karuan.


"Ta-tapi dit. Aku masih belum mencintai kamu."


Jawab ku gugup.

__ADS_1


"Tak masalah, cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Tidak perlu terburu-buru, aku akan berusaha agar kamu bisa mencintai aku juga."


Aku tersenyum, mendengar perkataan lembut yang di ucapkan Radit.


.


Sementara di tempat lain, seorang perempuan tengah merasa cemas di kamarnya seorang diri. Ia terus saja mondar-mandir, untuk sekedar menenangkan keresahannya.


"Aaaah,"


Pusingnya, mengacak rambut, dan duduk dengan cepat di ranjangnya.


Tok


Tok


Tok


Naya sedikit terkejut mendengar pintu kamarnya ada yang mengetuk. Dengan perlahan ia kemudian membuka pintu itu.


Tuturnya melihat kakak tirinya sedang berdiri di depan kamarnya.


"Kakak boleh masuk?"


Tanyanya dengan kedua tangan di dalam saku.


Naya buru-buru mengangguk, dan membiarkan Dika masuk.


Sebenarnya Naya sedikit merasa aneh dengan sikap kakaknya, tapi ia mencoba mengelaknya.


"Kenapa? Tumben sekali kakak datang ke sini?"

__ADS_1


Tanyanya tanpa basa basi, membuat Dika yang saat itu duduk di kasur menatapnya dengan senyum manis.


"Sebenarnya, besok kakak akan ikut pelatihan panjat tebing. Mungkin untuk beberapa hari kakak tidak akan pulang ke rumah."


Jawabnya dengan serius.


"Lalu?"


Penasaran Naya.


"Tolong jaga Ayah, perhatikan kesehatannya. Dan, kakak minta pada kamu untuk menurut pada apa yang ayah ingin."


"Kak, sebenarnya kakak datang ke sini untuk bernegosiasi, berpamitan, atau apa?"


Kesal Naya, mendengar perkataan terakhir kakaknya.


"Na, tidak semua yang Ayah lakukan dan dia pinta itu salah. Coba pikirkan baik-baik, perlahan cobalah mengerti dengan sikapnya."


"Tapi kak, Ayah sendiri tidak pernah mengerti dengan Naya. Dia tidak pernah mau memahami sikap anaknya, keinginannya dan perasaan seorang anak."


Dika menarik napas panjang. Membiarkan adiknya untuk tenang terlebih dahulu.


"Beiklah, kakak datang ke sini hanya untuk berpamitan. Sebaiknya sekarang kamu tidur, ingat besok ada lebih dari tiga ratus soal yang harus kamu jawab."


Tutur Dika, tak di hiraukan Naya. Gadis itu hanya diam memandang ke luar pintu kaca balkon.


Cup


"Selamat malam,"


Pamit Dika mengecup dahi adiknya dan segera bergegas.

__ADS_1


Naya yang saat itu masih mematung langsung menjatuhkan tubuhnya pada kasur.


Menatap langit-langit dengan pandangan kosong.


__ADS_2