Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Mentari telah turun dari ketinggian. Ia seolah akan segera berpamitan, mengulurkan tangan pada semua keadaan.


Mungkin sekarang sekitar jam 17.00. Atau pukul 16.30, entahlah.


"Al. Mau ikut?"


Tanya Giandra, ketika aku tengah asyik melahap bakwan jagung pembuatan si mbok di teras.


"Kemana?"


Ujar ku, balik bertanya dengan mulut penuh bakwan.


Namun Giandra hanya tersenyum simpul dan memapah sepedanya.


"Mbok Alena pergi sebentar dengan Giandra."


Teriak ku berlari menuruni tangga untuk segera menyusul Giandra. Sambil melingkarkan kamera di leherku.


.........


Kita sedang menyusuri jalanan, yang di samping kiri dan kanan kita adalah perkebunan teh.


Sesekali, Giandra melirik ke arah ku. Lalu berpaling.


Membuat ku keheranan.


"Kamu mau ajak aku kemana si An?"


Heran ku.


Namun, Giandra masih saja diam tidak mengatakan sepatah kata pun. Membiarkan pertanyaan ku tanpa sebuah jawaban.


"An kenapa kita tidak naik sepedanya? Dari tadi malah kamu bawa-bawa saja, tapi tidak digunakan sama sekali."


Oceh ku. Membuat langkahnya terhenti. Aku berbalik, memandangnya dengan tatapan heran.


"Al. Apa kamu tidak bisa menikmati perjalanan ini? Berhentilah bertanya dan membuatnya seperti sama sekali tidak bermakna."


Ujar Giandra terlihat serius.


Ia lalu pergi lebih dulu. Baju adat Yogyakarta yang selalu dikenakannya membuat ia benar-benar seperti pria tangguh. Dan aku, kembali mengambil foto dirinya.


Dengan blangkon berwarna coklat muda dan sepeda yang dituntunnya.


Membuat Giandra terlihat seperti sesosok manusia yang ingin terus ku pandangi.


"Al, cepatlah."


Teriaknya, membuat ku buru-buru menyusul langkahnya. Dan tak menghiraukan gambar yang ku ambil bagus atau tidak.


...................


Tak berapa lama, aku dan Giandra sampai di sebuah tempat. Masih di perkebunan teh, namun tak ku sangka ada pohon sebesar ini disini.


Senyum lebar tampak di wajah ku. Begitu pun di wajah pria di samping ku.


Setelah menyimpan sepedanya di dekat pohon kecil dekat jalan, Giandra dengan cepat menarik lengan ku mengajak tubuh ini agar lebih dekat dengan pohon itu.


"Bagaimana? Kamu suka?"


Tanya Giandra.


Ku tatap wajahnya yang berseri-seri.


"Emm. Sangat Bahkan."

__ADS_1


Jawab ku. Menatap tangga yang di buat di batang pohon itu.


"Mau naik dan melihat isinya? Pemandangan dari atas sana jauh lebih indah."


Ujar Giandra. Yang cepat ku angguki.


Aku dan Giandra pun menaiki rumah pohon itu.


Sungguh, aku tidak berpikir bahwa Giandra akan mengajak ku untuk pergi ke tempat seperti ini.


Tapi kalau boleh jujur. Rumah pohon ini benar-benar indah. Apalagi ketika aku sudah sampai diatasnya. Keindahan rumah pohon ini sangat menakjubkan.


Warna coklat asli papan kayu menambah keelokan perpaduan warna antara pohon dan rumah kecil ini.


Di pojok depan sana, ada sepasang burung merpati putih berada di sangkar yang pintunya tidak terkunci sama sekali.


"Apa mereka menetap di sini?"


Tanya ku, di angguki Giandra.


Kita pun mulai memasuki rumah pohon ini. Memang sangat bagus.


Beberapa hiasan kupu-kupu dan burung yang di buat dari kertas terpajang bergantungan di atap rumah pohon ini. Beberapa pot bunga juga tersimpan di setiap sudut ruangan ini.


"An."


Panggil ku, terkejut melihat beberapa foto terpajang di pojok sana.


Ya, foto-foto kebersamaan kita berdua. Sedari usia satu tahun sampai usia tiga belas tahun. Meski tidak sering bersama namun orang tua kita selalu mengabadikan itu.


"Dari mana kamu mendapatkannya?"


Tanya ku tanpa melirik ke arahnya. Karena ke dua mata ku lebih tertarik untuk memperhatikan foto di hadapanku saat ini.


Jawabnya. Membuat kita bertemu tatap.


"Seseorang?"


"Emmm,"


"Siapa?"


"Dava."


Jawabnya, yang sontak membuat ku berpikir lebih keras.


...................


"Gue minta agar Lo tidak mengganggu Naya lagi."


Tutur Radita yang sedang menikmati cemilannya di sofa, ketika ka Ell yang baru saja pulang melewatinya.


Langkah tangguh pria itu terhenti. Menatap tajam bola mata Radit.


"Brengsek."


ujar ka Ell lalu meninggalkan Radit. Terlihat jelas bahwa Radit begitu marah mendengar perkataan itu. Namun sebisa mungkin ia menahan amarahnya.


Brak


Ka Ell membanting tasnya di lantai dengan sangat keras.


Bugh


Ia menendang bagian kaki ranjang, dan lemari. Melupakan emosinya pada semua barang yang ada di meja belajar.

__ADS_1


"Brengsek Lo dit. Aaaaaahhhh."


"Aaaaaah."


Teriaknya frustasi. Seberapa pun ia berusaha melampiaskan amarahnya dengan menghancurkan sesuatu. Tetap menangis pemenang sebagai penenang diri.


Ia terpojok di sudut ranjang, mengacak rambutnya dan beberapa memukul lantai dengan kepalan tangannya yang kini sudah lagi tidak bertenaga.


"Kakak benar-benar mencintai kamu Na. Kakak tidak ingin kehilangan kamu lagi hik."


Ujarnya terisak.


Merasa lelah dengan semua yang dilakukannya, ka Ell memeluk dirinya sendiri dengan isak kan yang semakin menjadi.


Siapa yang bisa tetap tangguh, jika pondasi yang mati-matian kita kokoh kan tiba-tiba di hancurkan oleh seseorang yang kita cintai. Apa yang bisa kita lakukan? Berhenti mencintainya? Dan membuat dia menyesal telah melakukan hal itu? Rasa-rasanya tidak mungkin.


.................


"Ya. Dava paman ku."


Jawab Giandra. Menatap diri ini yang masih saja tidak percaya dengan apa yang di katakan nya.


Ku hembuskan napas dan menatap hamparan kebun teh dari balkon rumah pohon ini.


Tidak ada lagi percakapan di atara kita setelah Giandra menjelaskan hubungan antara dirinya dan ka Dava.


Indah, Yogyakarta benar-benar membuat ku jatuh cinta. Apa pun yang ada di kota ini selalu membuat ku betah dan ingin singgah.


"Jadi. Sejak kapan kamu membuat rumah pohon ini?"


Tanya ku penasaran.


"Satu tahun yang lalu,"


Jawab Giandra tersenyum simpul.


"Mengapa kamu memutuskan untuk membuatnya?"


Sesaat, Giandra terdiam dan menatap wajah ku dengan lekat.


"Untuk mengobati rindu yang meracau kacau karena kamu. Untuk mengobati lelah yang singgah karena kenyataan yang tidak bisa di sanggah. Untuk menikmati senja dengan sepucuk harap agar dapat berjumpa."


Tuturnya, membuat ku memandangnya dengan tatapan serius. Lagi-lagi Giandra tersenyum, dan mengalihkan pandangannya pada perkebunan teh.


"Hah. Aku hanya ingin mempunyai tempat istirahat. Sendirian. Tempat untuk menenangkan pikiran, atau hanya untuk berbagi cerita dengan senja."


Tambahnya.


"Cerita apa?"


Tanya ku, semakin penasaran.


"Kepahitan hidup. Ketidaksiapan ku menghadapi kenyataan."


"Maksud kamu An?"


"Hah. Sudahlah, tidak perlu membahas hal yang hanya membuat mu berpikir lebih keras. Apalagi jika itu karena aku."


"Kenapa?"


"Lihatlah, senja sudah datang."


Ujarnya, membuat netra ku beralih dan benar saja. Senja sudah tiba, sangat indah dan memanjakan mata. Dengan cepat, ku Potret suasana ini. Meski sebenarnya aku begitu penasaran dengan isi Giandra.


Ada resah yang tampak di wajah Giandra, namun ia tetap egois menyembunyikannya dari ku. Ada gemuruh dada yang sedang dikendalikannya. Namun ia tetap bersih keras untuk tidak memperlihatkannya. Ada rasa takut yang menusuk dirinya, namun ia masih saja diam, tidak meminta bantuan dari ku. Ada rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya, namun ia tetap menikmatinya sendri tanpa mau berbagi.

__ADS_1


__ADS_2