
Malam ini, tepat pukul 22.02. Aku kembali pulang ke apartemen, di antar ka Dava.
Karena besok hari Sabtu, jadi aku memutuskan untuk pulang dulu ke rumah di hari Minggu. Mau tidak mau aku harus membereskan dulu tugas yang aku punya.
Tok tok tok
Setelah selesai mengerjakan tugas matematika, aku segera membereskan meja belajar. Namun, aku mendengar ketukan pintu kamar.
Clek
Ku buka pintu, dan ku lihat wajah kusut Radit dengan tubuhnya yang terlihat lesu tak bertenaga.
"Radit."
Ujarku, namun tubuh tingginya tiba-tiba terjatuh pada tubuh mungilku.
"Radit."
Panggil ku lagi, jadi mau tidak mau aku membawanya ke kamarku.
Setelah membaringkan di ranjang, aku segera mengambil handuk kecil dan air hangat. Ku lap kedua lengannya dan wajahnya yang mungkin sudah tidak mandi beberapa hari.
"Kemana saja? mengapa tidak ada di apartemen?"
Tanya Radit, memandangiku yang masih melap tangan kanannya.
"Rumah sakit."
Jawabku simpel.
"Siapa yang sakit?"
Tanyanya lagi, membuatku menghela napas dan terdiam sejenak.
"Giandra, sudah hampir satu minggu dia belum juga siuman."
Jawabku lesu.
"Pantas saja. Apa sakitnya separah itu?"
"Aku tidak tahu."
Ujarku menunduk. Dan Radit dia lebih memilih memandangi langit-langit kamarku.
.
Ka Ell telah kembali ke rumah Tante Melly. Dan Naya, dia bersama kakak tirinya di puskesmas. Sebenarnya ka Ell tidak ingin meninggalkan Naya, namun ia paham bahwa ada permasalahan yang harus mereka selesai.
Ketika sedang asyik melamun di balkon kamar, tiba-tiba handphonenya berdering.
__ADS_1
"Hallo."
"*Kakak, apa kakak benar tidak akan pulang ke apartemen?"
"Emm, kakak pulang ke rumah Tante Melly,"
"Emmm, baiklah."
"Bagaimana dengan Radit? Apa dia baik-baik saja?"
"Dia sakit, bahkan tidak masuk sekolah pagi tadi."
"Apa sekarang sudah membaik?"
"Suhu tubuhnya sudah kembali normal. Dia sekarang sudah tidur."
"Syukurlah, sebaiknya sekarang kamu segera tidur."
"Emm, Alena tutup telponnya."
"Emm*."
Tuuut
Setelah telpon mati, aku kembali masuk ke dalam kamar dan membiarkan pintu balkon yang terbuat dari kaca itu tanpa tirai.
"Namara, apa benar kamu sudah tiada? lantas siapa dia?"
Ujar ku, menatap foto wajahnya yang memang sangat persis seperti murid baru itu.
"Alena."
Panggil Radit, membuat ku sedikit terkejut. Buru-buru ku rapihkan kembali kotak itu dan kubiarkan di atas meja belajar.
"Gue lapar."
Tambahnya setelah ku hampiri.
Mendengar itu, aku menatapnya malas.
"Kalau tidak mau tidak usah."
Ujar Radit membuang wajahnya dengan gemas. Membuatku terkekeh.
"Baiklah, tunggu sebentar."
Jawabku, beranjak pergi ke lantai bawah.
Ku lihat bubur yang lihat bubur yang tadi siang ku buat untuknya.
__ADS_1
"Untunglah masih ada."
Senangku.
"Benar juga, dia belum makan lagi jika bukan sore tadi, malang sekali anak itu."
Tambah ku, segera membawa semangkuk bubur itu ke kamar.
Clek.
ku tutup pintu kamar dan duduk di samping Radit. Ia lalu membenarkan posisi tubuhnya untuk duduk dan bersandar pada ranjang.
"Kamu bisa makan sendiri kan?"
Tanyaku, membuatnya menatap ku dengan tatapan yang entah apa.
"Tidak,"
Jawabnya ketus.
"Nah."
Ujarku, menyuapinya dengan paksa. Radit sesekali tersenyum melihat tingkahku.
"Ternyata Lo baik juga."
Pujinya tulus.
"Baru nyadar apa? hah?"
"Ck, kemarin-kemarin Lo memang ngeselin,"
"Yaelah, gak nyadar diri banget si."
Ketusku, memonyongkan bibir padanya.
"Hahah,"
Tawa Radit terdengar lepas tanpa beban apapun. Baru kali ini aku melihatnya, baru kali ini aku bisa menikmatinya, dan itu karena aku. Sungguh indah, tampan sekali wajahnya. Padahal sebelumnya dia terlihat seperti raja yang kejam.
Aku ikut tersenyum, dan membukanya sedikit merasa canggung.
"Lo bisa tidur di sofa kan? Malam ini gue tidur di ranjang Lo."
Ujar Radit, menutup tubuhnya dengan selimut milikku.
"Hah? gila memang, parah banget si."
Kesalku, menghentakkan kaki dan menahan tanganku yang ingin memukulnya.
__ADS_1