
Setelah selesai makan bakso. Aku dan Namara segera beranjak untuk pulang.
"Al,"
Panggil Namara, ketika kita sedang duduk di halte.
"Emm?"
Jawabku, memandang wajahnya.
"Terimakasih."
Ucapnya tulus, membuatku terdiam dan sedikit canggung.
"Tidak perlu, lagi pula aku senang makan bakso disana."
"Beruntung sekali mereka yang mengenal orang seperti kamu, pantas saja seseorang mengatakan bahwa kamu adalah seorang teman yang baik."
Pujinya yang lagi-lagi membuat kita saling canggung. Entah apa yang dimaksud Namara, aku tidak paham.
"Seseorang?"
Tanyaku merasa heran, aku merasa bahwa ada sesuatu yang di sembunyikan olehnya.
"Emm, Nara. Dia bilang kalau kamu teman yang baik."
Elaknya.
"Nah, busnya datang."
Tambahnya menunjuk angkutan umum itu. Segera ia beranjak dengan tingkahnya yang sedikit aneh, namun kemudian aku menyusulnya dengan wajah masih kebingungan.
.
"Al, kakak akan menjemput kamu sekitar jam 17.00”
Ka Dava mengirimkan pesan yang baru diketiknya. Setelah itu, ia segera menyimpan handphonenya ke dalam saku celana dan bergegas pergi ke luar rumah.
__ADS_1
"Dav."
Panggil seseorang, menghampirinya.
"Iya."
Jawab ka Dava terdiam menatap perempuan paruh baya yang masih terlihat segar itu.
"Kabari mamah jika Giandra telah siuman."
Titahnya dengan wajah khawatir.
"Emm, Mamah jangan cemas. Dava pamit."
Jawabnya, mengusap pundak sang ibu dan segera pergi.
.
16.05
Aku yang baru saja selesai mandi berniat mengambil segelas air minum. Namun, ketika hendak meminum air putih yang telah ku ambil, aku terdiam melihat roti dan susu yang masih utuh di atas meja.
Ketusku, duduk dan segera minum karena kerongkonganku sangat kering.
ketika aku hendak kembali ke kamar, aku merasa heran dan khawatir dengan keadaan Radit. Bagaimana kalau terjadi sesuatu, bagaimana kalau Radit sakit? Apa yang mesti aku katakan pada Bu Melly? Ah itu pasti sangat merepotkan.
Tok tok tok
Aku mengetuki pintu kamar Radit.
Tok tok tok
Tak kunjung di buka.
"Radit."
Panggilku berteriak.
__ADS_1
"Radit buka."
Tok tok tok tok
Clek
Kamarnya sama sekali tidak ia kunci. Baguslah. Segera aku menyelonong masuk untuk memastikan keadaan pria itu.
"Radit."
Kagetku melihat keadaannya yang sangat-sangat Ah tidak. Dia begitu pucat dan tak bertenaga.
Segera aku membenarkan posisi tidurnya dan menyelimuti tubuhnya. Lalu, aku bergegas mengambil air untuk mengompres dahinya yang begitu panas.
"Mengapa bisa separah ini?"
Cemasku, sembari mengompres Radit. Sementara pria itu hanya menggigil menahan dingin.
16.25
16.30
Aku terus mengompresi Radit agar suhu panas tubuhnya menurun. Setelah itu, aku segera membuat bubur untuknya. Meski sebenarnya aku tidak terlalu handal.
16.50
Aku kembali ke kamar Radit dengan semangkuk bubur dan segelas air putih.
"Radit, bangunlah. Kamu harus makan."
Ujarku setelah duduk di sampingnya. Ia membuka matanya dan menatapku. Aku kemudian membantunya untuk duduk dan bersandar pada ranjang.
"Nah."
Ujarku, mengasongkan sendok berisi bubur. Dengan perlahan Radit melahapnya. Sampai bubur itu tinggal setengah dan Radit meminta untuk berhenti makan. Aku segera memberinya minum dan membantunya untuk membaringkan kembali tubuhnya. Setelah menyelimuti tubuh Radit, aku beranjak untuk pergi ke kamar. Namun, Radit tiba-tiba menahan ku.
"Tinggallah di sini beberapa saat lagi."
__ADS_1
Ujarnya tanpa membuka mata. Apa yang harus aku lakukan?