
"Mau di ambil apa tidak?"
Ketus ku, membuat Radit buru-buru mengambilnya.
"Terimakasih."
Ujarnya sedikit mengintip bingkisan itu. Namun ia lalu menyimpannya di atas meja.
"Ku kira kamu tidak ingat pada ku sama sekali."
Tambahnya, tak ku hiraukan.
Ketika melihat-lihat isi kamar Radit. Ternyata ruangannya jauh lebih tertata rapih dari kamar ku.
Semakin ku perhatikan ruangan ini, semakin aku tertarik untuk memeriksanya.
"Foto siapa ini?"
Tanya ku, melihat beberapa foto terpajang di dekat meja belajarnya.
"Gue dan Naya."
Jawab Radit masih duduk di kasur.
"Jadi, kalian tumbuh bersama?"
"Emm, seperti yang Lo lihat."
Tuturnya. Aku lalu melihat beberapa buku yang ada di rak besar. Membuat ku ingin menggidik ngeri, membayangkan Radit telah membaca buku sebanyak ini. Sungguh membosankan.
"Baiklah, aku pergi."
Ujar ku.
"E-Tunggu."
Jawab Radit, mengangkat satu lengannya.
Aku terdiam dan menoleh kearahnya. Pria itu lalu mendekat kearah ku dan menarik lengan ini.
"Mau apa kamu?"
Tanya ku sedikit ketakutan.
__ADS_1
Namun, Radit tidak menjawab. Ia hanya menyuruh ku duduk di bawah dan ia menyalakan pengering rambut.
"Rambut Lo berantakan dan masih basah. Kalau Lo tidur dengan keadaan seperti ini tidak baik."
Tuturnya, mulai mengeringkan rambut ku.
Tadinya, aku ingin pergi dan meninggalkan ruangan ini. Tapi, yang di bilang Radit ada benarnya juga. Kalau dia bisa di gunakan dan mau berbuat baik kenapa tidak? lagi pula aku sedang malas mengeringkan rambut ku.
"Jadi, apa yang membuat Lo betah berlibur di Yogyakarta?"
Tanya Radit, menghangatkan suasana.
Aku terdiam sesaat, berpikir jawaban apa yang cocok untuk ku ucapkan.
"Suasana yang nyaman,"
Jawab ku asal.
"Hah, ku rasa karena ada seseorang."
Membuat ku menatapnya dengan wajah terkejut, namun Radit segera kembali membenarkan kepala ku.
"Memang"
"Apa kalian di besarkan bersama juga?"
"Emmm, tapi pertemuan kita tidak sesering kamu dan Naya. Bahkan mungkin ceritanya tidak seindah kalian."
"Kenapa?"
Penasaran Radit. Namun, aku segera beranjak.
"Rambutnya sudah kering, aku mau tidur. Terimakasih."
Pamit ku, berdiri di hadapannya. Radit hanya bengong memperhatikan ku sambil mengangguk.
"Emmm."
"Good night,"
Ujar Radit, membuat ku terkejut sekaligus tersipu.
Tanpa menjawab 'selamat malam' itu, aku malah berlari pergi ke kamar.
__ADS_1
..................
"Na. Apa sebaiknya kamu tinggal di apartemen bersama kita?"
Tanya ka Ell pada Naya.
"Tidak mungkin, Naya tidak ingin membuat semuanya lebih rumit."
Jawab Naya lesu. Ia masih terbaring tak berdaya.
Dokter mengatakan bahwa kanker yang dia derita sudah sangat mengerikan.
"Lalu, kakak tidak mungkin membiarkan kamu tinggal sendirian."
"Naya baik-baik saja."
Yakinnya membuat ka Ell pasrah.
"Apa kamu akan memberitahu Radit soal ini?"
"Naya tidak memikirkan hal itu,"
"Tapi lambat laun, semuanya akan terbongkar."
"Setidaknya tidak untuk saat ini."
"Kakak serahkan saja pada ku."
Yakin ka Ell, memasukkan ke dua lengannya pada saku celana.
"Apa kakak masih marah perihal aku dan Radit?"
Tanya Naya, kembali mencairkan suasana.
"Tidak. Untuk apa kakak marah jika kenyataan hati kamu masih untuk kakak."
Jawab ka Ell, membuat Naya tersenyum senang.
"Terimakasih,"
Paraunya Naya merasa bersalah dengan semua kejadian yang telah terjadi di antara dua saudara pria itu.
"Tidak masalah."
__ADS_1
Tutur ka Ell, mengusap rambut Naya dengan perlahan.