
"Alena. Kamu tidak Papah?."
Tanya ka Ell pada ku, yang masih memijat-mijat kening karena pusing.
Aku menggeleng, membuat ka Ell menghela napas lega. Dan Nara gadis itu hanya ikut tersenyum.
"Al. Minuman kamu yang dari ka Dava."
Tutur Nara memberikan sebotol minuman itu pada ku. Ka Ell menoleh minuman yang ku raih dari tangan sahabat ku.
"Dari Dava?."
Tanya ka Ell, membuat Nara mengangguk.
"Emm."
Jawab ka Ell tersenyum getir.
"Na, siapa yang melempar bola basket ke kepala aku? Mau ku kasih pelajaran."
Kesal ku, memukuli botol minuman yang ada pada genggaman ku.
"Radit."
Jawab Nara yakin.
"Nara. Alena, Radit tidak sengaja dengan itu."
Sahut ka Ell.
"Mana mungkin dia tidak sengaja, awas saja kamu Radit."
Kesal ku, beranjak. Tak memperdulikan ka Ell atau pun Nara.
"Alena."
Panggil ka Ell tak ku hiraukan.
"Al."
Ikut-ikutan Nara mengejar ku.
Aku berjalan cepat menyusuri kolidor, mencari-cari manusia bernama Radit yang berhasil membuat emosi ku meluap-luap.
Dia memang laki-laki menyebalkan yang pernah ku temui. ketampanannya kalah dengan sikap jeleknya, Halah Radit kau sungguh bedebah untuk ku.
"Heh, kamu sengaja kan lempar aku pake bola voli?."
__ADS_1
Tanya ku, setelah menemukan Radit di kantin. Pria itu sedang duduk dengan ke dua temannya.
"Memang benar, ada masalah?."
Jawabnya meremehkan.
"Kamu."
Geram ku mengepal tangan dan menghentakkan kaki.
Radit terkekeh, aku menoleh pada Padil dan Boby. Sama saja mereka juga ikut terkekeh.
"Ahh."
Emosiku menjambak rambut Radit, membuat dia meringis kesakitan.
Banyak sorot mata tertuju pada ku, namun aku tidak perduli. Sekarang akau hanya ingin balas dendam pada Radit.
"Alena. Al, sudah."
Ujar Padil mencoba menenangkan ku.
"Lepaskan tangan Lo bedebah."
Pinta Radit, membuat ku semakin keras menjambaknya.
"A-aaaaaau."
"Al, berhenti."
Tutur Boby mulai cemas. Dan Padil pria itu terus menenangkan ku. Namun hasilnya nihil, emosi ku masih meluap-luap.
"Alena. Lepaskan tangan kamu."
Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang. Pangeran kodok ku. Membuat aku spontan melepaskannya.
"Bukankah kakak sudah bilang, kalau Radit tidak sengaja."
Tambahnya, setelah dekat dengan ku. Radit masih memegangi kepalanya yang masih terasa sakit. Padil dan Boby memastikan bahwa temannya itu baik-baik saja.
"Tapi ka."
Lesu ku.
"Hah-hah-hah."
Ku dengar suara napas Nara di belakang ku.
__ADS_1
"Sekarang lebih baik kamu kembali ke kelas."
Titahnya, berhasil membuat ku ingin menangis. kemudian suasana kembali normal.
Radit tersenyum devil melihat itu, dan ka Ell menggelengkan kepalanya melihat ku dan Radit.
Lalu ka Ell pergi. Sementara Radit hanya diam dengan muka datarnya.
"Ngeri juga perempuan itu."
Ujar Padil kembali duduk di kursinya.
"Bagaimana, masih mau Lo sama dia?."
Tantang Boby. Membuat Padil terkekeh-kekeh.
"Mau kah, tadi dia terlihat imut saat marah. Haha."
"Gila Lo Dil."
Ejek Boby ketus.
"Nyesel Lo jatuh cinta sama cewe gak waras kayak dia."
Sahut Radit.
"His, yang ada Lo yang bakalan nyesel. Awas saja."
Jawab Padil, membuat Radit mendengus kesal.
Boby hanya tersenyum menanggapi tingkah ke dua temannya.
.
Kelas
"Alena. Al."
Panggil Nara, namun aku terus saja berjalan menuju kelas.
"Alena."
Rengeknya setelah aku sampai di kelas.
Tiba-tiba aku menangis, entahlah sungguh tanpa ku mau.
"Kamu nangis Al?."
__ADS_1
Lesu Nara duduk di samping ku, ia lalu mengusap pundak ku menenangkan.
Maklumlah, aku belum pernah dibentak jika bukan oleh Mamah, jadi ya seperti sekarang.