
10.30
Jam istirahat tengah berlangsung, para siswa yang biasanya pergi ke kantin dan menghabiskan makanan di sana, kini lebih memilih memenuhi area lapang untuk menonton pertandingan basket.
Seperti yang di bilang Padil semalam di grup, kelas ku dan kelas TKJ 1. Kalau tidak salah itu kelas Naya. Ck.
Sorak dan tepuk tangan membuat gaduh sekolah ini. Gerakan tangan dan loncatan kaki kerap kali terjadi. Para penonton sangat antusias menyaksikan pertandingan sengit ini.
Maklum skor yang di dapat sudah mencapai 14, 16. Emm, kelas ku kalah.
"Radit. Radit. Radit."
Terdengar keras di telingaku, para kaum hawa berteriak menyemangati pria menyebalkan itu.
"His, apa lebihnya dia? Ogah banget teriak-teriak nyemangati tu cumi."
Ketus ku, sambil menyimpan ke dua lengan ku di depan dada.
"Al. Al. Al."
Teriak Nara menepuk-nepuk tangan ku, namun dengan netra yang fokus pada pertandingan.
"Yeeeeeee, masuk."
Senang Nara di susul sorak para siswa.
"Keren."
"Wuuuuu"
Piiiiiiip.
Suara Pluit di tiup wasit, ya wasit yang masih berstatus siswa di sini juga.
Pertandingan selesai dengan skor 20, 16. Kelas ku memang dari TKJ 1. Dih Naya maaf untuk yang satu ini, kamu harus mengakui bahwa Radit memang menyebalkan. Ia baru saja membuat kelas kamu kalah Na. Hehehe.
__ADS_1
Di saat para siswa sibuk menonton permainan bola basket, ka Ell malah pergi ke rumah sakit dengan sembunyi-sembunyi. Untuk apa lagi kalau bukan menemui Naya.
"Apa kamu sudah meminum obat?"
Tanya ka Ell pada Naya. Dengan tenaga yang belum sepenuhnya pulih. Naya mengangguk dan tersenyum simpul.
"Datanglah ke sini setelah sepulang sekolah."
ujar Naya, membuat ka Ell menatapnya dengan serius.
"Apa kamu baik-baik saja? Bukannya dulu kamu bilang bahwa penyakit ini sudah sembuh total?"
Desaknya bertanya.
"Emmm, Naya minta maaf."
Jawab perempuan itu di angguki ka Ell.
"Mengapa kamu melakukan semua ini?"
Tanya ka Ell lagi.
"Seperti dua tahun yang lalu"
Tuturnya, membisikan pria yang masih berdiri menatapnya.
................
"Woy. Kemana saja Lo tidak memberi gue pesan."
Teriak Radit pada ku. Ketika aku hendak mencuci tangan di wastafel.
Tak ku hiraukan dia, kenapa juga aku harus memberinya kabar, jika dia saja sibuk dengan pujaan hatinya.
Radit menarik napas, dan menyeret ku ke belakang sekolah.
__ADS_1
"Lepasin aku dit, lepasin."
Rengek ku kesakitan.
Dengan kasar, Radit melepaskan cekalannya. Buru-buru saja aku memegangi tangan ku yang sakit.
"Jawab gue!"
Teriaknya tepat di depan wajah ku.
"Apa?"
Jawab ku, dengan wajah melas karena tangan ku yang masih sakit.
"Kenapa Lo tidak memberi gue pesan? Hah?"
Ulangnya, sedikit menjauhkan wajahnya dari hadapanku.
"Apa pentingnya buat kamu?"
Asal ku, tanpa menatap matanya. Karena aku sibuk memperhatikan lengan ku yang memerah.
Radit membuang muka dan menghembuskan napasnya dengan berat, aku tahu ia sedang mengendalikan emosinya.
Ketika ia hendak marah, netranya tak sengaja melihat lengan ku yang masih terdapat bekas celakanya.
'Apa cengkraman gue sekuat itu?'
Batik Radit. Merasa kasihan pada ku.
"Apa sakit?"
Tanyanya, meraih lengan ku dan memperhatikannya dengan datar.
"Sangat bahkan,"
__ADS_1
Jawab ku ketus. Radit melirik ku sesaat dan menggelengkan kepalanya.
Ia lalu meniupi lengan ku dengan lembut. Ada apa ini, tidak seperti biasanya dia bersikap lembut dan baik seperti saat ini? Mengingat betapa mengerikannya dia.