
Iya Mbok."
Tutur ka Dava, di telepon.
"Apa mbok serius? Kenapa baru bilang sekarang?"
Kagetnya, mondar-mandir di kamar mewah yang ia singgahi.
"Baik, pak De. Dava segera ke sana."
Tuturnya lagi, menutup telpon dan mengambil kunci di atas meja, lalu segera pergi.
Ka Dava merupakan anak dari keluarga Pak Prastyo. Siapa yang tidak tahu dia, pemilik perusahaan terbesar di sini. Tapi, ia tidak memberi tahu orang lain dan tidak angkuh dengan semua itu. Ia justru menjadi sangat baik dan di sukai.
Ka Dava pergi dengan menggunakan mobil berwarna hitam dengan balutan biru tua. Terlihat mewah. Dengan hanya menggunakan kaus berwarna hijau, dan celana kargo cream. Ia mengemudi kendaraan roda empat itu dengan penuh kebimbangan.
Terlihat jelas di wajahnya bahwa ia sedang cemas. Entah apa yang sebenarnya terjadi hingga membuatnya ingin segera pergi.
.
"Mbok, pak De. Bagaimana keadaan Giandra?"
Tanya ka Dava sesampainya di rumah sakit. Namun, yang di tanya hanya diam. Pak De memilih duduk di kursi tunggu, dan si mbok masih berdiri di depan pintu setengah kaca itu.
"Pak De?"
Tegasnya.
"Mbok,"
Panggil ka Dava, mencoba untuk tenang.
"Dava. Hik-hik."
Jawab Si mbok menangis dalam pelukan ka Dava.
"Tidak papa mbok. Semuanya akan baik-baik saja."
Tuturnya mencoba menenangkan.
.
22.25
Malam yang pekat dengan balutan luka sayat dari beberapa manusia yang hatinya sedang melarat.
Ka Dava sedang berdiri di samping seorang pria yang tengah terbaring tak sadarkan diri. Perlahan, ia mengusap wajah pria itu, dan menggenggam lengan kanannya.
"Giandra, kamu sudah berjanji bukan. Untuk tidak mengunjungi Cianjur jika hanya untuk seperti ini lagi."
Ujarnya menahan tangis.
"Ayolah, kakak yakin kamu bisa. Alena akan jauh lebih suka jika kamu yang menjaganya, bukan kakak."
Tambahnya tersungkur.
Sudah lebih dari lima hari Giandra belum sadarkan diri. Dan pak de baru memberitahunya beberapa jam yang lalu. Mereka takut untuk mengabari, karena mereka selalu meminta bantuan pada ka Dava.
Sebenarnya, mereka bukan keluarga. Si mbok dan pak De adalah tukang kerja di rumah ka Dava dulu. Namun, setelah keluarga ka Dava memutuskan untuk pindah ke Cianjur, pak De dan si mbok berhenti kerja. Namun, itu tidak membuat ka Dava melupakan mereka. Justru ka Dava sering berkunjung dan berlibur di rumah mereka bersama keluarga kecil itu. Mereka seperti keluarga ke dua bagi ka Dava, karena keluarga pertamanya selalu sibuk dengan pekerjaan. Karena itu, ka Dava sudah menganggap Giandra seperti saudara laki-lakinya
.
Pagi
Pagi para penghuni semesta. Apa kabar? jangan lupa untuk makan dan menjaga kesehatan.
Aku sudah berada di sekolah, berjalan menyusuri koridor bersama Radit. Tumben sekali pria ini mau bersebelahan denganku.
Oh iya. Ka Ell menolak untuk pergi bersama kita. Ia bilang akan berangkat menggunakan motor kesayangannya, jadi ya. Untuk beberapa hari ini aku jarang bertemu dengannya.
"Pagi Al."
__ADS_1
Sapa Nara, ketika kita bertemu di bibir pintu kelas.
"Pagi na."
Jawabku, tersenyum. Namun, Nara malah langsung menunjukkan raut wajah kebingungan.
"Kalian datang bersama?"
Tanyanya, dengan wajah polos.
Aku melirik Radit, namun pria itu malah masuk begitu saja.
Membuat Nara mendengus kesal.
"Gak boleh marah-marah, masih pagi tahu. Entar aura cantiknya ilang."
Godaku.
"Lagian, kenapa juga masih pagi harus bertemu Radit. Bikin mood ancur."
"Hahaha, sudahlah. Lebih baik kita pergi makan."
"Emmm."
Aku dan Nara pergi setelah menyimpan tas. Di tengah-tengah perjalanan, Nara terdiam sejenak.
"Ada apa?"
Tanyaku.
"Al, sepertinya aku ingin pergi ke toilet."
Jawabnya, memegangi perutnya dengan wajah yang seperti menahan rasa sakit.
"Kenapa? Kamu sakit perut?"
"Al, sudah tidak kuat."
Ujarnya berlari meninggalkan ku.
Ketus ku, masih mematung memperhatikan Nara yang berlari dengan sangat cepat.
"Al."
Ketika hendak pergi, tibai aku mendengar suara seseorang yang memanggil ku.
"Kakak,"
Jawab ku, melihat wajah ka Dava yang kusam.
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Emmm"
Ka Dava menarik lengan ku, membawa tubuh ini menjauh dari persimpangan kantin dan kolidor kelas. Dari arah lain, Radit tengah memperhatikan kepergian kita berdua.
"Ada apa?"
Tanyaku, ketika aku dan ka Dava sudah duduk di kursi bawah pohon dekat lapang.
"Ada yang ingin kakak katakan, tapi kakak takut Al."
Jawabnya, menatap wajah ku dengan penuh kegelisahan.
"Kenapa harus takut. Katakan saja, justru itu akan mengurangi rasa takut kakak."
"Tapi. Kamu harus berjanji untuk tidak membenci siapapun,"
Pintanya, membuatku sedikit terkejut dan terdiam. Aku merasa ada sesuatu yang serius yang ingin disampaikan ka Dava. Sejujurnya aku penasaran, namun aku juga tidak tahu apakah aku siap atau tidak jika kabar yang aku dapatkan adalah sesuatu yang menyakitkan.
"Emmm."
__ADS_1
Jawab ku yakin.
Ka Dava menarik napas, menggenggam ke dua tangan ku dan menatap lekat netra ini.
Dan dari kejauhan, Radit terus saja memperhatikan kita.
"Giandra,"
Ujarnya menggantung.
"Kenapa dengan dia?"
"Dia kritis dan di rawat di rumah sakit."
Tambahnya, membuat napas ini seketika tidak dapat ku atur. Sesuatu menghantam hati ku hingga membuatnya begitu nyeri.
"Sudah lima hari dia belum sadarkan diri."
"Apa yang terjadi? Mengapa Giandra bisa seperti itu?"
Tanya ku menahan tangis.
"Sebenarnya, Giandra mengidap gagal jantung lebih dari tiga tahun yang lalu. Dia sering ke sini untuk melakukan pengobatan, dan kakak tidak tahu kalau dia bisa separah sekarang."
"Mengapa kakak baru mengatakannya sekarang?"
Isak ku, tidak dapat menahan tangis.
"Kakak minta maaf, Giandra tidak ingin kakak mengatakan ini pada kamu Al. Dia tahu bahwa kamu akan mengkhawatirkannya."
"Hik-hik, tapi kalian tidak seharusnya menyembunyikan semua ini."
Lirih ku. Dengan cepat ka Dava memeluk ku, karena tangis ini mulai pecah.
Dan Radit, dia terkejut ketika melihat aku jatuh pada pelukan ka Dava.
"Apa yang sedang mereka bicarakan? Mengapa harus berpelukan?"
Ketusnya, melipat tangan di depan dada kekarnya.
"Woy,"
Teriak Padil mengejutkan Radit.
"Bedebah. Ngapain Lo di sini?"
"Yang harusnya bertanya juga gue kali. Ngapain Lo di sini?"
Elak Padil.
"Bukan urusan Lo."
Jawab Radit, memilih pergi.
"Sensi banget Lo, sudah kayak perempuan PMS saja hahah."
Ledek Padil, sambil tertawa dan berlari.
"Parah Lo."
Kesal Radit, mengejar temannya yang kini sudah jauh berlari meninggalkannya.
.
"Au."
Lirih Nara, keluar dari toilet sambil memegangi perutnya yang sakit.
"Lo kenapa na?"
Tanya Boby, melihat Nara yang baru saja keluar dari WC perempuan.
__ADS_1
"A-aku. Hah, mules lagi."
Jawabnya, kembali masuk toilet. Sementara Boby hanya memandangnya dengan keheranan dan lebih memilih pergi ke kantin menyusul teman-temannya.