
"Tidak. Aku tidak nangis kok."
Jawab ku terisak, membuat Nara sedikit terkekeh melihat ku yang berusaha menahan tangis namun terus saja tumpah.
"Al. kamu nangis loh."
Godanya, menahan tawa.
Aku menepiskan lengannya dan menatap Nara dengan geram.
"Nara aku tidak nangis. Lagian kenapa juga harus nangis segala."
Ketusku, Nara membenarkan duduknya dan menoleh ke arah ku.
"Haha, kamu tidak bisa bohong."
"Terserah."
Kesal ku, membalikkan badan dan mengusap air mata. Menyembunyikan mata sembab ku dari Nara.
.
Skip ya.....
Jam pelajaran sudah kembali di mulai, aku sibuk memperhatikan pak Pahrul yang sedang menjelaskan materi sejarahnya.
Sangat membuat ku tertarik, seru sekali kalau guru yang satu ini masuk kelas. Tidak boring.
"Baiklah, dua menit lagi bel akan berbunyi. Bapak cukupkan sekian, terimakasih."
Pamitnya meninggalkan kelas.
Semua murid di kelasku seketika menjadi sibuk membereskan buku dan berisik.
"Padahal lagi seru, cepat amat si pulang."
Gerutuk ku membereskan buku.
"Hais, seru juga baca novel Al."
Sanggahnya sudah berdiri menunggu ku.
"Gadis buku."
__ADS_1
Ledek ku berlari meninggalkannya.
Nara mengejar ku dengan berteriak memanggil-manggil nama Alena.
kring-kring, ketika kita keluar dari kelas. Benar saja bel sudah berbunyi.
"Alena, awas ya kamu."
Ancamnya masih mengejar ku.
Brug. Aku menabrak seseorang di persimpangan kelas 10.
"Lo lagi."
Ujarnya memandang ku jijik.
Dan aku jangan di tanya, emosi ku seketika naik ketika melihat wajah pria ini.
Nara hanya terdiam melihat kita yang masih saling tatap dengan sangat sinis.
"Bedebah."
Katanya pada ku.
"Cumi, pembawa aura gelap."
"Apa?."
Tanya ku kesal saat dia seketika tersenyum devil.
"Al. Tenang dulu Al."
Tutur Padil yang tiba-tiba datang dari arah timur.
Aku sedikit menjauh dan memalingkan pandangan dari mereka.
"Ayo pergi."
Ajak Radit pada kedua temannya.
"Kita duluan Al, Nara."
Pamit Boby, yang di balas senyum manis sahabat ku. sementara aku masih merajuk kesal.
__ADS_1
ketiganya pergi, namun tiba-tiba aku melepaskan tas dan melemparkannya pada Radit.
"Mampus."
Senang ku, karena tas itu jatuh tepat sasaran. Dan kalian tahu, Radit seketika membalikkan tubuh tingginya dan menatap ku dengan sorot mata penuh murka.
Serem banget wajahnya. Sumpah, jika tahu dia bakalan semarah ini tidak akan deh Alena lempar tas.
"Maksud Lo apa?."
Emosinya menghampiri ku, membuat diri ini ketakutan. Duh Nara kenapa kamu tidak membantu ku, malah asik menonton drama menegangkan ini.
"A-a-a."
Gugup ku karena takut. Tiba-tiba Radit menarik lengan ku dengan keras.
"Radit."
Panggil Nara ketakutan.
"Lepasin tangan aku, Radit lepasin."
Rengek ku padanya. Namun dia tetap tidak mendengarkannya. Boby dan Padil pun hanya diam karena takut melihat amarah temannya yang sudah benar-benar ke luar.
"Radit lepasin."
Pintu ku lagi. Ketika melewati Lab fisika, seorang perempuan tengah berdiri dengan buku yang di pegangnya di depan dada dengan kedua lengannya.
"Hah."
Senang ku karena Radit melepaskan lengan ku saat kita sudah berada di hadapan gadis cantik ini.
"Kenapa kamu terlihat marah."
Tanyanya pada Radit, dan aku hanya memijat-mijat lengan ku yang terasa sakit.
"Dia membuat emosi ku naik."
Jawabnya tenang dan memasukkan ke dua lengannya pada saku celana.
"Emm. Apa lengan kamu sakit?."
Tanyanya beralih pada ku, begitu lembut dan cantik bukan kepalang.
__ADS_1
"Hehe. Sangat sakit bahkan."
Jawab ku terkekeh membuat Radit melirik ku dengan tatapan maut. Aku membalasnya dengan mendelik kan mata.