
Jam istirahat tengah berlangsung. Padil dan yang lainnya pergi ke kantin, tapi Radit. untuk hari ini dia lebih memilih tetap duduk di bangkunya tanpa beranjak.
Aku dan Nara juga tetap duduk di bangku dan menikmati banyak cemilan yang Nara bawa dari rumahnya.
"Radit. Naya dit."
Tiba-tiba farel yang hendak pergi ke kantin kembali lagi ke kelas dengan wajah cemas.
Radit yang saat itu hanya sedang mendengarkan lagu menggunakan headset langsung bergegas pergi.
Aku yang melihat itu hanya bisa diam dengan beribu pertanyaan.
"Kenapa dengan Naya?."
Tanya Nara memandangi kepergian Radit.
"Emm."
Jawab ku, mengangkat bahu.
Lalu, aku dan Nara memutuskan kembali memakan cemilan yang dibawa sahabat ku itu.
...............
"Rel, dia kenapa?."
Cemas Radit melihat Naya yang sudah tak sadarkan diri di UKS.
Karena keadaannya masih belum membaik. Akhirnya, pihak sekolah berniat membawa Naya ke rumah sakit.
Naya dibawa dengan menggunakan mobil milik kepala sekolah.
Radit begitu tak berdaya melihat keadaan perempuan yang tak berdecak sekali pun.
"Rel dia kenapa, gue nanya dia kenapa Rel? Naya. Dia kenapa?."
Desaknya, memegangi kerah baju farel.
"Gue tidak tahu dit. Gue lihat dia ketika sedang dibawa ke UKS."
Jawab farel ketakutan.
"Ahhhh."
Frustasi Radit di depan UKS.
"Dit Lo yang tenang. Dia akan baik-baik saja, sebaiknya Lo segera menyusul."
Mendengar perkataan Boby, akhirnya Radit beranjak dengan langkahnya yang cepat. Ia berlari menuju parkiran menyusul Naya dan pihak sekolah.
"Radit. Mau kemana kamu?."
Tanya seorang guru pria padanya.
"Saya akan ikut ke rumah sakit pak."
"Tidak. Kamu harus tetap di sini dan belajar. Pergilah ke kelas."
"Tapi pak."
"Kita akan menghubungi keluarganya, jadi pergilah."
"Pak dia tidak punya siapa-siapa selain saya. orang tuanya sudah meninggal. Dia tinggal sendirian."
Jelasnya, dengan linangan air mata.
Mobil yang membawa Naya telah pergi dari area sekolah. Mendengar itu, guru matematika itu tertegun. Kepala sekolah yang tak sengaja mendengar itu lalu membiarkan Radit ikut ke rumah sakit.
Pergilah mereka menyusul Naya dan yang lain. Farel, Boby, dan Padil hanya mematung di tangga dekat parkiran lalu pergi menuju taman belakang.
............
Setelah pelajaran kembali berlangsung. Netra ini sesekali melirik ke arah pintu, berharap menemukan wajah menjengkelkan Radit.
Entahlah, aku merasa khawatir dia belum masuk kelas sampai saat ini juga.
__ADS_1
"Padil."
Bisik ku memanggilnya.
"Dil."
Ulang ku, membuat Naya melirik Padil yang saat itu sedang tertidur, padahal Bu Anita sedang menjelaskan.
"Woy."
Teriak Nara melemparkan gulungan kertas tepat pada kepala Padil.
Sontak dia sedikit terkejut dan terbangun.
"Wuuuuaaaaa."
Pria itu menguap sambil menggeliat. Membuat mu Anita terdiam dan menatapnya dengan jengkel.
"Padil."
Panggilnya dengan nada tinggi.
"I-iya Bu."
Jawabnya tersadar.
"Kamu ini lagi-lagi tidur. Kalau tidak niat sekolah tidak usah datang ke sini. Tidur saja di rumah."
Geramnya.
"Hehe. Maaf Bu, tidak di ulangi lagi deh Bu."
Cengenges nya, lalu melirik dengan sinis pada Nara.
"Hehe, disuruh Alena."
Ujarnya pembelaan.
"Radit. Dimana dia?."
Tanya ku, membuat Padil duduk dengan benar lalu mengarahkan wajahnya pada ku.
Jawabnya.
"Padil."
Teriak Bu Anita lagi dengan geram.
"I-iya Bu."
"Keluar kamu."
"Ta-tapi Bu."
"Keluar."
"Bu."
"Sekarang."
Pasrahkan Padil oleh amukan Bu Anita. Aku dan Nara hanya cengengesan.
Kalau farel dan Boby jangan di tanya. Mereka tertawa terbahak-bahak sambil mengutuki sahabatnya itu.
.................
15.15.
Rumah sakit
Radit tengah duduk sambil memandangi wajah pucat Naya.
Meski begitu, perempuan itu masih saja terlihat cantik. Pantas saja Radit dan ka Ell tergila-gila padanya.
Clek
__ADS_1
Pintu ICU terbuka dengan tiba-tiba. ke dua netra Radit menemukan wajah ka Ell yang terlihat tak kalah khawatir.
"Mengapa Naya bisa seperti ini?,"
Tanya ka Ell mendekat.
"Radit. Apa yang terjadi? Kenapa Naya bisa sampai ke rumah sakit?."
Desaknya, memegang kerah baju sepupunya dengan netra memerah.
Mungkin karena khawatir dan marah.
"Gue tidak tahu. Farel yang memberitahu gue ketika Naya sudah berada di UKS."
Jawabnya, melepaskan lengan ka Ell dengan kasar.
Mendengar itu, ka Ell menarik napasnya untuk menenangkan amarahnya. Kemudian ia mendekat pada Naya dan menggenggam lengan kanannya.
"Na. Tolong jangan buat kakak khawatir untuk yang kedua kalinya."
Ujarnya lirih.
Radit berdiri dibelakang ka Ell, hanya memperhatikan tanpa ikut berargumen.
"Bangunlah."
Tambahnya terisak.
Melihat pemandangan menyedihkan itu, Radit memilih pergi dari ruangan itu dan menuju taman rumah sakit.
Ia duduk di dekat bunga berwarna-warni. Tepat diujung taman.
Sebenarnya, ada rasa cemburu yang membuat Radit memilih untuk pergi ke taman. Ia tahu, bahwa ka Ell lebih dulu pernah memiliki Naya. Ia tahu bahwa ka Ell lebih tahu banyak tentang perempuan itu.
Sementara ia, hanya seorang pria yang pernah dibuang dan di acuhkan perasaannya. Dan ketika ia hampir memilihnya, tuhan berkehendak lain.
Ia juga tahu, bahwa ka Ell masih mencintai Naya. Dan Radit juga sadar bahwa ka Ell belum benar-benar menghilang dari benak perempuan yang kini mengaku telah mencintainya sepenuh hati.
...........
Aku. Sedang memasak mie instan, maklum lah aku kelaparan dan tidak ada yang bisa dimakan.
Ah sungguh. Ka Ell dan Radit terlalu khawatir pada Naya sampai-sampai lupa pada diriku. Menyedihkan.
"Keterlaluan. Mereka pergi tanpa memperdulikan ku."
Ujar ku, sambil menyeruput mie instan yang telah selesai ku masak.
Ketika sedang asyik makan, tiba-tiba seseorang membuka pintu. Aku sedikit terkejut melihat wajah Radit dari balik pintu.
Ia memandang ku dengan datar. Mie instan yang aku seruput pun seketika berhenti.
Radit lalu beranjak menuju kulkas. Dan aku kembali makan.
Setelah kulkas terbuka, Radit menyadari bahwa tidak ada apa pun selain minuman bersoda. Hanya ada beberapa sayuran mentah.
Ia kemudian menggelengkan kepalanya ketika melirik aku yang begitu lahap memakan mie.
"Pantas saja. Tidak ada apapun yang bisa dia masak selain mie instan."
Gumamnya pergi dari dapur menuju kamar.
Ketika ia menaiki tangga, tiba-tiba mulut ini memanggil namanya. Membuat langkah Radit terhenti.
"Bagaimana dengan Naya? Mengapa ka Ell belum pulang?."
Tambah ku.
"Dia belum siuman. Dan Ell menolak pulang. Lagi pula, tidak ada yang bisa menjaga dia selain gue atau pun Ell."
Jawab Radit lalu pergi.
Mendengar itu, tiba-tiba selera makan ku hilang.
"Tunggu. Dimana keluarga Naya? Mengapa harus Radit dan ka Ell?."
__ADS_1
Tiba-tiba benak ku mengajukan pertanyaan itu.
Merasa tidak ada jawaban, aku memilih berhenti makan dan menonton televisi.