Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

"Alena."


Panggil ka Dava di perjalanan. Membuat ku buru-buru menyeka air mata.


"Apa kamu baik-baik saja?"


Tambahnya.


"Emmm, Alena tidak papa kok."


Jawab ku, berusaha memberi senyum pada pria yang merasa khawatir pada ku.


Ka Dava mengangguk, namun ia masih terus saja mencuri pandang pada ku. Ia tahu bahwa aku sedang menangis.


"Al. Apa kamu menyukai Giandra?"


Tiba-tiba saja ka Dava melontarkan pertanyaan itu. Membuat ku menatapnya dengan kaget.


"Maaf, kakak tidak bermaksud."


Ujarnya meluruskan.


"Alena tidak tahu. Karena ketika Alena diperlakukan baik oleh laki-laki, Alena selalu merasa nyaman dan merasa aman."


Jawab ku, menatap lurus ke depan.


"Hal seperti itu wajar Al. Tapi, apakah kamu pernah merasa takut kehilangan meski sebenarnya kamu tahu bahwa kalian tidak mungkin berpisah?"


Deg. Tiba-tiba aku merasa sesuatu dengan keras membentur pondasi jantung Ku. Ia berdetak dengan cepat, dan membuat ku mengeluarkan keringat.


"Apa kamu pernah melakukan banyak hal untuk seseorang? Seperti memberikan apa yang dia pinta. Atau, apa kamu pernah tahu apa yang ingin di sampaikan seseorang hanya dengan menatap matanya? Kamu bisa mengerti dia hanya dengan duduk dan memperhatikan perilakunya? Kamu merasa sangat bahagia meski itu hanya hal-hal kecil yang diperbuatnya? Apa kamu pernah merasa sangat khawatir jika harus kehilangan sesosok pria sepertinya?"


Tentu. Tentu akan pernah merasakan itu semua. Aku pernah berada di dalamnya, ya. Aku melalui itu semua. Tapi entah dengan siapa. Apa itu ka Ell? Radit? Ka Dava? Atau Giandra? Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak bisa mengerti dengan apa yang berusaha kak Dava sampaikan.


Maka biarlah waktu yang menjawab.


Bukankah ketika ragu, kita hanya perlu menunggu laju. Melangkah tanpa takut keliru.


..............


"Terimakasih untuk hari ini."


Ujar Nara di dalam mobil yang terparkir di tepi jalan.


"Emm. Terimakasih kembali."

__ADS_1


Jawab Radit, membuat ke duanya saling tersipu.


"Aku pulang sekarang. Hati-hati,"


Pamit Naya, di angguki Radit yang masih memasang strinya.


Setelah ke luar dari mobil, Naya melambaikan lengannya, yang di balas senyum indah Radit.


Setelah mobil Radit pergi dan sudah tidak lagi terlihat di mata perempuan yang masih berdiri di trotoar itu. Ia kemudian segera pergi memasuki gang kecil.


.


Sampailah Naya di sebuah kompleks. Dan ia memasuki rumah petak bernomor 25.


Memang jelas terbaca dari tampilan luar rumahnya. Dalamnya memang sangat sempit. Hanya tersedia kasur kecil di pojok ruangan dekat jendela, meja belajar, juga lemari dan dapur yang sama sekali tidak ada tembok penghalang ataupun lemari hiasan. Serta kamar mandi yang berada di atara ke duanya.


Setelah menyimpan tasnya di atas kasur. Naya segera membuka laci meja belajarnya dan mengambil kresek berwarna putih.


Ia mengambil beberapa pil obat dari dalam sana dan segera menelannya dengan bantuan air putih yang sudah tersedia di meja belajar miliknya, mungkin bekas semalam atau entahlah.


"Hah."


Hembusan napasnya terdengar berat. Lengan kanannya memegangi bagian perut kanan bawah. Wajahnya terlihat jelas bahwa ia sedang menahan rasa sakit.


Wajahnya pucat. Keringat dingin berhasil membuat wajahnya kuyup dan badannya menggigil.


..............


20.20


Aku sedang duduk termangu di kasur. Memandang dunia luar dari jendela yang masih terbuka. Memang selalu ku biarkan seperti itu.


Perlahan, aku berjalan ke balkon. Berdiri di pagar sambil memandangi gelang yang di berikan Giandra.


"Mengapa harus seperti ini?"


Gumam ku merasa lemah.


"Mengapa semesta membiarkan banyak manusia yang terlibat dalam hidup ku? Mengapa semesta membiarkan aku memiliki rasa yang tidak pernah mampu membedakan mana cinta mana rasa nyaman? "


"Lalu, mengapa aku harus mengetahui perasaan Giandra, jika tuhan telah menghadirkan seseorang dalam hidup ku? Dan mengapa Tuhan tidak membiarkan aku dan Giandra tetap bersama? Apa yang sebenarnya tengah terjadi pada hidup ku? Mengapa?"


Lirih ku, terisak.


Untuk kali ini, aku merasa lelah dengan diri ku sendiri. Aku merasa lemah dan kalah. Aku memang bodoh. Aku tidak tahu pria mana yang ku cintai, aku tidak tahu dengan siapa aku merasa nyaman dan aman. Aku tidak tahu kasih sayang seperti apa yang di berikan seseorang dengan dasar teman. Aku tidak tahu kasih seperti apa yang di berikan seseorang ketika ia menganggap ku sebagai adik perempuannya.

__ADS_1


Apa aku mencintai Giandra? Tapi mengapa aku baik-baik saja selama lima tahun ini? Apa aku mencintai ka Ell? Lalu mengapa hati ini merasa bahwa ia hanya seperti kakak laki-laki yang coba aku jaga dari siapapun. Apa aku membenci Radit? Lantas mengapa aku harus patah ketika melihat dia dekat dengan perempuan yang dicintainya. Dan apa aku mencintai ka Dava? Jelas aku tahu bahwa hati ini kagum dan terjaga seperti halnya bersama saudara pria.


Maka untuk saat ini. Aku lebih memilih mencintai diri ku sendiri. Mungkin dengan begitu, aku bisa tahu pria mana yang sebenarnya aku inginkan.


...............


Clek.


Radit menutup pintu apartemen, dan segera pergi menuju kamarnya.


"Bagaimana dengan kencannya? Seperti menyenangkan sampai-sampai lupa bahwa hari ini tunangannya pulang."


Sindir ka Ell yang sedang menonton televisi.


"Hah. Bukannya Lo seneng kalau Alena lebih dekat dengan Lo. Munafik,"


Jawab remeh Radit, membuat napas ka Ell memburu.


Langkah Radit semakin cepat dan segera meninggalkan ruangan itu.


"Ahhh."


Emosi ka Ell memukul sofa.


"Harusnya Naya kembali bersama ku, bukan ini yang gue mau."


Lirihnya, mengacak rambut dan mengusap wajahnya dengan kasar.


............


Aku sedang mencari sesuatu. Hingga membuat kamar ku menjadi berantakan.


"Untunglah."


Senang ku, mendapatkannya.


Sebuah kotak berwarna coklat itu segera ku ambil dan menuju kasur. Aku duduk di tengah dan mulai membukanya.


Beberapa boneka kecil ku keluarkan dari kotak itu. Beberapa kertas juga ku paksa keluar kan. Sampai pada akhirnya aku menemukanmu sebuah foto yang ku cari.


Ya. Foto ke tiga anak kecil. Dua perempuan yang sedang sama-sama tertawa lepas, sementara di antara ke duanya seorang anak kecil laki-laki sedang menangis histeris.


Aku di buat tersenyum oleh foto itu. Namun kemudian, aku memilih untuk membuka beberapa kertas yang terlipat rapi.


Sebenarnya, kertas-kertas ini aku dapatkan dari Namara. Ia mengirimnya dari Yogyakarta untuk ku, dalam kurun waktu dua tahun. Namun, tiga tahun kemudian tidak lagi mengirim ku paket pesan.

__ADS_1


Namun, semua yang di berikan Namara sama sekali belum pernah aku buka. Alasannya, karena aku benci Namara, aku tidak suka padanya karena Giandra lebih memilih dia dari pada aku. Giandra selalu membela Namara dari pada aku. Ah ada banyak lagi kekesalan ku padanya.


__ADS_2