Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

21.00


Kami semua sedang berada di sebuah warung nasi. Ya kalian tahulah kami sedang apa, makan malam. Emm, ikan asin, lalapan mentah dan sambal menjadi makanan yang ku pesan malam ini. Tak lupa tahu tempe serta kerupuk. Sedang yang lain, mereka makan dengan daging ayam, memang sangat manja.


"Al, Lo suka banget lalapan apa? segitu segutnya Lo makan."


Tanya Farel, membuat yang lain ikut menatap ku.


"Emm, kalau aku pergi ke rumah pak De dan si Mbok, makanan ini yang selalu mereka hidangkan. Jadi aku sangat menyukainya."


Jawabku.


"Pantas saja sangat lahap."


Gumam Nara.


Sementara Namara, mendengar kata pak De dan si Mbok, ia tiba-tiba merasa sakit ketika menelan makanan yang telah di kunyahnya dan tersendat.


"Minum Ra,"


Khawatir Fadel memberikan segelas air dan membantu Namara untuk minum, membuat yang lain melongo.


"Ehem,"


Dehem Boby, membuat Farel dan Namara saling canggung lalu kembali makan. Sementara kita hanya cengengesan.


.


Setelah makan, kita semua langsung bergegas kembali ke villa. Sesampainya di villa, kita memutuskan untuk tinggal di halaman depan villa. Duduk di sebuah bangku kayu.


"Jadi, besok kita pergi kemana?"


Tanya Boby, mencairkan suasana.

__ADS_1


"Gak tahulah gue. Al gimana ni? Lo kak sudah sering ke sini, jadi pasti tahulah tempat yang bagus untuk pemotretan kita."


Jawab Farel.


"Nah benar tu Al, jangan sampai membuat kita kebingungan mencari tempat di sini. Menghabiskan waktu saja."


Sahut Padil. Sementara Radit dan Namara hanya diam mendengarkan, dan Nara dia malah asyik menghitung bintang di langit.


"Emm, aku ingat-ingat dulu deh. Soalnya di sini terlalu banyak tempat indah yang aku kunjungi."


Jawab ku memeluk ke dua kaki ku.


"Semua tempat juga tidak masalah Al,"


Tutur Boby sumringah mendekat ke arah ku.


"Woy, jaga jarak Lo."


Teriak Radit, karena Boby duduk sangat rapat dengan tubuhku. Sontak Boby langsung menjauh dari ku dan mendapati jitakan dari Farel dan Padil.


.


Setelah mengambil dua gelas air minum, Naya duduk di samping kakaknya. Dengan senang hati Dika tersenyum dan meneguk air yang di suguhkan Naya.


"Kenapa kakak belum tidur?"


Tanya Naya, mencoba mencari tahu penyebab kakaknya masih terjaga di tengah malam seperti ini.


"Kakak belum ngantuk, seharusnya kakak yang tanya kenapa jam segini kamu belum tidur hah?"


Jawab Dika, mencubit pipi adiknya.


"Naya tidak bisa tidur."

__ADS_1


Jawabnya, duduk dengan benar. Mendengar itu, Dika lalu mengambil bantal sofa dan menyimpannya di atas paha Naya, kemudian ia tidur di sana, membuat Naya terkejut.


"Biar kakak tebak kenapa kamu mal ini sangat susah tidur,"


Ujarnya, membuat Naya terkekeh.


"Kakak kira..... Kamu terlalu memikirkan pria itu, benarkan?"


Naya mengernyitkan dahinya,


"Pria yang menjaga kamu sewaktu sakit itu."


"Ka Ell?"


"Nah, dia. Benar kan?"


Membuat wajah Naya sedikit lesu, namun dengan cepat perempuan itu menyembunyikan wajah sedihnya dan tersenyum.


"Hahaha tidak kok,"


"Emmm, apa kamu memikirkan keponakannya Ell?"


"Tidak juga."


"Hist, lalu kenapa kamu susah tidur? apa yang mengganggu pikiran kamu?"


Naya terdiam, ia ingin mengatakan pada kakaknya mengenai apa yang ia dan ayahnya bicarakan di sekolah tadi siang. Namun, ia tidak mau membuat kakaknya ikut memikirkan hal itu, jadi ia hanya bisa tersenyum.


"Sebaiknya kakak segera tidur,"


Ujar Naya, Dika lalu beranjak dan menatap adiknya.


"Emmm, kamu juga sebaiknya segera tidur. Ini sudah sangat larut."

__ADS_1


Naya mengangguk, lalu Dika beranjak namun ketika ia hendak pergi, ia kembali menatap Naya yang masih tersenyum padanya. Dika lalu mengelus puncuk kepala Naya dengan lembut dan pergi. Di perlakukan seperti itu, Naya hanya bisa melongo tak percaya. Sementara dari lorong sana, seorang pria tengah memperhatikan mereka berdua, lalu pria itu juga segera pergi ke kamarnya karena melihat Naya yang hendak pergi.


__ADS_2