Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Aku sedang menunggu bis di halte. Sudah hampir lima belas menit namun kendaraan itu belum juga datang. Karena merasa bosan, aku segera meraih mobil dan memilih mendengarkan musik.


"Hai."


Tak lama, aku mendengar seseorang menyapaku. Suara yang tak asing bagi telinga ini. Dengan ragu, aku menoleh ke arahnya. Dan.


"Namara."


Kagetku, membuatnya tersenyum dan duduk dengan benar.


Sungguh, tak tahan rasanya berada di dekat dia. Debar jantung ini begitu kencang, pikiranku terus saja di bawa pada ingatan tentang seseorang.


'Sungguh, benarkah dia?'


Begitulah batinku saat ini. Wajahnya, suara lembutnya, senyumannya. Aku melihat bahwa dia benar-benar hidup kembali. seseorang yang ku miliki dulu.


"Alena."


"Al. Bisnya sudah datang."


Tutur Namara menyadarkan lamunanku.


"Ah, iya."


Jawabku, segera beranjak mengikutinya menaiki bis.


Saat aku akan memilih kursi lain, Namara tiba-tiba menarik lenganku untuk duduk di sampingnya. Dengan kaget, aku terseret dan langsung duduk.


"Bantu aku agar betah berada di tempat ini."


Tuturnya, semakin membuatku terkejut.


"Emm, pasti. Itu bukan masalah besar."


Jawabku, kikuk. Membuatnya tersenyum dan membenarkan posisi duduknya.


Ah Namara. Kamu benar-benar membuat jantungku tak terkendali. Kamu benar-benar persis seperti dirinya.

__ADS_1


.


Nara dan Boby telah sampai di sekolah. Ketika ke duanya hendak memasuki gerbang, dari arah berlawanan Padil dan Farel juga datang dan menyapa mereka.


"Wis, makin deket aja ni Lo pada."


Ujar Farel, menyimpan lengannya di bahu Padil.


"Emm, makin lengket."


Jawab Padil, melipat ke dua lengannya di depan dada.


Sementara Nara dan Boby hanya bisa saling pandang dengan wajah kebingungan.


"Pada gak jelas deh."


Ujar Nara berlalu,


"Emm. Gak Lo pada."


Ketus Boby.


Jawab Farel merangkul Boby dan Padil. Kemudian mereka pun segera memasuki gerbang.


.


Sesudah jam pertama habis, kelas TMM 1 segera memasuki ruang aula. Hampir kita lupa bahwa tugas drama Indonesia yang sempat tertunda itu harus dilakukan sekarang.


"Alena, dimana Radit? apa dia benar-benar tidak akan sekolah?"


Tanya farel padaku.


"Ck, ngapain tanya aku? kaliankan temannya."


Jawabku acuh.


"Benar juga. Tapi,"

__ADS_1


"Bego, berhenti ganggu gebetan gue."


Potong Padil menoyor kepala farel.


Tak lama, Dika dan sekretaris kelas kita datang. Membuat kita sedikit tegang karena drama ini bisa ditunda sampai hari esok atau tidak.


"Dramanya bisa tunda sampai besok. Jadi sekarang kita jam kos."


Tutur Dika,


"Huuuuu"


Sorak yang lain senang. Sementara aku hanya tersenyum simpul.


Kamipun segera bergegas untuk kembali ke kelas. Namun, aku memutuskan untuk pergi ke toilet terlebih dahulu. Nara sempat bertanya apa perlu dia mengantar ku, tapi aku bilang ingin pergi sendiri, jadi dia pergi ke kelas lebih dulu.


"Alena."


Panggil seseorang, ketika aku sedang mencuci wajah di Wastafel. Membuatku sedikit terkejut.


"Em."


Jawabku, Menatap rambut lebatnya dari cermin di depan ku.


"Apa kamu tahu tempat bakso yang enak disini?"


Tanyanya, membuatku sedikit lebih lega. Aku selalu takut jika dia mengatakan hal-hal yang tak ingin ku dengar. Emm, tentang seseorang yang ku kenal dulu.


"Ada, sepulang sekolah kita bisa mampir ke sana."


Jawabku, membuatnya berjingkrak senang merangkul tanganku.


"Sorry."


Kikuknya.


"Haha, tak apa. Santai saja."

__ADS_1


"Kamu memang benar baik, persis seperti yang dia bilang."


Tutur Namara, membuatku tertegun dan kebingungan. Seketika wajah Namara menjadi begitu tegang.


__ADS_2