Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Setelah adzan Magrib, ka Ell pamit pulang pada Naya dan pak Yuda. Ya, dia harus kembali karena esok dia masih harus sekolah. Mengingat beberapa hari lagi Ia harus uzian.


"Secepat itu dik? bahkan tanpa ucapan selamat tinggal dan pesan."


Gumam ka Ell yang sedang mengendarai sepeda motornya.


.


Naya, gadis itu masih berdiri di balkon kamar memperhatikan bintang yang berkelip indah. Seakan, dia mengatakan bahwa hidup memang selalu berganti redup dan terang. Sedang rembulan, sabit sinarnya begitu memancar indah terang. Menemani pilu dari gadis itu.


"Setelah Mamah, kini tuhan mengambil kakak. Mengapa Tuhan tidak mengambil aku juga?"


Paraunya, masih belum bisa mengikhlaskan kepergian keduanya.


Ya, meski banyak orang mengatakan ia harus ikhlas dan sabar menerima semua kenyataannya. Tapi, perihal hati siapa yang tahu? perihal luka diri tidak bisa sembuh dengan sehari. Ia perlu beberapa hari bahkan mungkin bertahun-tahun.


Clek


Pak Yuda membuka pintu kamar anak perempuannya. Dengan lesu dan mata sembab serta tubuhnya yang tak bertenaga, ia merasa ragu untuk menghampiri Naya yang masih tertegun di sana.


Tok


Pak Yuda mengetuk kaca pintu kamar menuju balkon, membuat Naya meliriknya. Kemudian pak Yuda berjalan dan berdiri tepat di hadapan Naya.


"Sebelum pergi, kakak kamu nitip pesan pada Papah."

__ADS_1


Ujarnya ragu.


Naya terdiam, tak ingin menjawab apa yang di katakan pria di hadapannya. Namun, ia juga masih berpikir bahwa tidak ada satu kesalahan pun yang membuatnya harus mengacuhkan pak Yuda.


"Emm,"


Jawab Naya, terdengar tidak begitu perduli.


"Dia ingin agar kamu membawa sebuah barang di lemari kamarnya."


Tuturnya, membuatku penasaran sekaligus bingung.


"Barang? Barang apa?"


Tanya Naya,


"Dia hanya mengatakan itu."


Ucapnya jujur. Naya mengalihkan pandangan untuk sedikit berpikir, namun ia tidak menemukan jawabannya.


"Emm, Naya akan mengambilnya esok."


Ujarnya, membuat pak Yuda mengangguk. Lalu pak Yuda bergegas untuk segera pergi dari sana. Namun, setelah ia sampai di pintu balkon. Tubuhnya kembali berbalik pada Naya dan menatapnya. Membuat Naya keheranan.


"Jangan tidur terlalu larut, kamu harus tetap menjaga kesehatan."

__ADS_1


Tuturnya, langsung pergi dengan cepat dari kamar Naya. Reaksi Naya jangan di tanya, dia melongo tak percaya pada apa yang di ucapkan pria itu.


.


Karena Radit menolak membeli makanan di luar, dan dia tidak memberiku ijin membeli makan bersama yang lain jadi terpaksa aku harus memasak dengan bahan-bahan yang dia beli.


"Ribet banget si, pake harus masak segala. Di luarkan banyak tempat makan."


Ketus ku sambil memotong bawang.


"Bikin mood ancur aja."


Tambah ku memincingkan mata pada Radit yang sibuk menonton televisi.


"Dia si enak, kerjanya diem. Lah aku, berasa jadi pembantu pribadinya."


Dumel ku, di dengar telinga Radit. Namun, dia lebih memilih mengacuhkannya dan berpura-pura tidak mendengar semua yang aku katakan.


"Au,"


Ringis ku, karena tak sengaja pisau mengenai jadi telunjukku dan membuatnya berdarah.


Mendengar aku meringis, Radit buru-buru menghampiri aku dan meraih tangan kiri ku.


"Ceroboh banget si kamu,"

__ADS_1


Marahnya, tanpa menatap ku.


Aku hanya mendelik kesal, mencoba melepaskan tangan dari cekalannya. Namun, Radit malah menghisap darah di jari telunjukku, membuat mata ku membulat.


__ADS_2