Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Boby, Farel, Padil, Nara dan Namara makan bersama di kamar Nara. Mereka asyik membicarakan perkara aku dan Radit. Ya, awal pertemuan kita yang memang sudah langsung bentrok, namun diam-diam saling perduli dan terjalin hubungan.


Tawa mereka begitu lega. Bebas dan leluasa mencemooh aku dan Radit.


"Owh iya, kenapa mereka tidak diajak makan bareng?"


Tanya Namara,


"Radit menolak dan melalang gue ajak Alena makan bersama. Yaaa, pahamlah."


Jawab Farel.


Membuat Namara mengangguk. Perempuan itu lalu berjalan ke luar dan duduk di bangku kayu, melihat itu Padil dengan cepat menyusul. Sementara yang lain masih sibuk menikmati makanan mereka.


"Hah,"


Padil menghela napas dan duduk di samping Namara, perempuan itu hanya meliriknya sesaat lalu kembali memilih memandang langit penuh bintang.


"Jika kamu di bohongi, apa kamu akan memberikan maaf untuknya?"


Tutur Namara, membuat Padil berpikir sesaat.


"Tergantung."


Jawabnya, membenarkan duduk, membuat Namara menatapnya dengan penuh heran.


"Jika dia berbohong dengan alasan untuk tidak membuat aku terluka, mungkin aku tidak akan marah. Tapi kamu harus tahu, seburuk apapun resikonya lebih baik kamu jujur. Setidaknya kamu sudah mengatakan yang sebenarnya meski dia harus membenci."


"Sekalipun aku mengambil sosok yang paling berharga dalam hidupnya?"


Tanya Namara lagi.


"Maksud kamu Na?"

__ADS_1


Ujar Padil bertanya balik, ia merasa bingung dengan pertanyaannya kali ini.


"Hahaha, tidak kok."


"Owh iya, bukannya kamu juga dari Yogyakarta. Kamu tahu dong tempat yang bagus disini dimana? Ya untuk tugas kita."


"Semua tempat yang indah menurutku, Alena juga berpendapat begitu."


"Apa kamu tinggal disini?"


Heran Padil semakin penasaran. Namun Namara dengan cepat menenangkan pikirannya.


"Owh iya, aku masih harus melihat hasil gambar tadi. Dah."


Elaknya, meninggalkan Padil yang masih dalam kebingungan.


.


Sementara di tempat lain, Ka Ell sedang duduk diatas ranjangnya sambil memainkan handphone.



Berat sekali ia menarik napas dan menghembuskannya dengan paksa. Menajamkan netranya lalu menatap langit-langit kamar dengan nanar.


"Kakak rindu kamu Na."


Gumamnya, kembali menutup ke dua matanya.


.


"Mau kemana Lo?"


Tanya Radit ketika aku hendak membuka pintu.

__ADS_1


"Nyamperin yang lain,"


Jawab ku. Namun dengan cepat Radit beranjak dan mengunci pintu.


"Kamu ngapain si? Aku mau keluar kok malah dikunci?"


Ketusku, mencoba meraih kunci yang ia pegang di lengan kiri yang ia angkat keras agar aku tidak bisa meraihnya.


"Radit,"


Geram ku.


"Tinggal saja disini, Lo harus nemenin gue."


Jawab Radit, kembali duduk di sofa.


"Sini duduk,"


Titahnya, melihat aku yang masih berdiri dengan wajah marah.


Dengan malas, aku duduk di sampingnya sambil melipat ke dua lengan dan kaki di atas sofa.


Melihat ku seperti itu, Radit hanya menahan tawa.


"Nah, lebih baik Lo pilih Poto yang bagus untuk tugas kita."


Ujarnya, memberikan laptop pada ku. Ku tatap netranya dengan penuh amarah lalu meraih laptop itu.


Setelah aku melihat beberapa gambar, aku dibuat terkejut karena terdapat gambar ku yang sedang berdiri di bukit kebun pak De tadi.


"Siapa yang ngambil gambar ini?"


Tanya ku, membuat Radit mendekat untuk melihatnya. Namun kemudian, dia terlihat begitu canggung.

__ADS_1


"Emm, kayaknya besok saja deh dengan yang lain kita pilih gambarnya."


Jawab Radit, buru-buru menutup laptop itu dan kembali menonton televisi. Sementara aku masih melongo dibuat bingung oleh sikapnya.


__ADS_2