Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

20.20.


Malam ini, aku sedang berada di dapur. Memandangi beberapa sayuran dan bahan-bahan untuk di masak.


"Ahhhhh."


Geram ku mengacak rambut.


"Duh Al, kok kamu bodoh banget si. Masak saja tidak becus."


Cibir ku pada diri sendiri.


Drap


Drap


Ka Ell menghampiri ku, dan memandangi sayuran serta aku secara bergantian.


"Ya ampun Al, dari tadi kamu belum masak sama sekali."


Ujar ka Ell sedikit kecewa.


Aku terkekeh membuat ka Ell menggelengkan kepalanya.


"Cewe model kayak dia bisa apa? Cuma molor."


Sahut Radit yang baru saja turun dari tangga dan langsung duduk di sofa.


Kebetulan, ruang tengah dan dapur itu tidak terhalang oleh apa pun, jadi yang seperti itu.


Mendengar itu, aku sedikit sakit hati. Pengen nangis tapi malu. Masa iya jatohin harga diri di hadapan musuh sendiri. Enggak-enggak.


"Yasudah biar kakak saja yang masak."


Pasrah ka Ell.


"Kakak bisa masak?."

__ADS_1


"Sedikit."


"Kalau gitu, Alena bantu ngiris saja ka."


"Boleh."


Jawa ka Ell tersenyum, sementara Radit hanya mendelik tak suka dan langsung menyalakan televisi.


Mulailah kita berdua masak, sambil sesekali saling lempar candaan dan tertawa bersama. Tidak dengan Radit, pria itu hanya selalu melirik kita dengan tatapan malas dan tidak suka.


"Au."


Rengek ku, saat tak sengaja pisau itu terpeleset pada tengah ku.


"Al."


Cemas ka Ell, melihat darah bercucuran.


"Stttttt."


Gumam ku menahan sakit.


Ka Ell lalu menarik tubuh ini menuju sofa.


"Duduklah, kakak akan mengambil obat."


Titahnya. Sebelum duduk ku tatap wajah Radit yang terlihat tak nyaman di perhatikan oleh ku.


"Tangannya."


Tutur ka Ell duduk di samping kanan ku, dan Radit di samping kiri ku.


Ku julukan lengan yang terluka pada ka Ell.


"Gue kan sudah bilang, Lo itu bisanya cuma molor."


Tutur Radit meremehkan. Aku langsung menatapnya dan mendelik kesal.

__ADS_1


"Setidaknya dia mau berusaha bantu. Tidak seperti kamu yang hanya bisa memperhatikan dan memberi komentar."


Jawab ka Ell sambil mengobati luka lengan ku, membuat Radit mati kutu.


"Mampus."


Ledek ku pada Radit.


"Sudah. Tunggu saja di sini, biar kakak yang masak."


"Emmm."


Jawab ku senang.


'Ya ampun Al. Kamu tidak salah jatuh cinta deh, udah baik, pintar, jago masak. Ahh, ka Ell super-super deh pokonya.'


Batin ku, memandangi ka Ell yang kembali memasak sambil senyam-senyum sendiri.


"Eh, Lo gila apa? Dari tadi senyam-senyum sendiri lihatin Ell masak."


Cibir Radit, membuat bahagia ku lenyap seketika.


"Eh curut, terserah aku dong. Hidup-hidup aku, kok kamu yang ribet si?."


Emosi ku.


"Apa Lo bilang? Curut?."


Tegasnya, membuat aku beranjak.


"Iya curut. Dasar manusia datar."


Tambah ku sambil tertawa dan berlari menuju kamar.


"Woy, sembarangan Lo. Badut dunia."


Emosi Radit melemparkan bantal sofa ke arah ku, tapi aku sudah menaiki tangga jadi tidak mengenai ku sama sekali.

__ADS_1


Ka Ell hanya menggelengkan kepalanya, melihat kami yang sedari awal tidak pernah akur. Dan terlihat saling membenci.


Sebenarnya aku si damai-damai saja, tapi Radit yang selalu mengibarkan bendera perang lebih dulu. Jadi mau tidak mau aku harus tempur.


__ADS_2