Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Aku mencari-cari sebuah surat yang tanggal pengirimannya lebih dari surat yang ku baca tadi. Masih belum ku temukan, cemas sekali rasanya. Takut kalau-kalau surat selanjutnya itu tidak benar-benar Namara kirimkan pada ku.


Clek.


Tiba-tiba saja pintu kamar ku terbuka. Betapa mengejutkannya kedatangan Radit yang masuk begitu saja tanpa mengutuk pintu.


Ia menatap ku dengan datar dengan ke dua lengan di dalam saku celana. Dan aku, hanya memperhatikannya dengan wajah kebingungan.


"Mau apa kamu ke sini? mana masuk tanpa mengetuk pintu lagi? Tidak sopan."


Cibir ku padanya.


"Sedang apa Lo?"


Tanyanya, tanpa menghiraukan perkataan ku sambil mendekat ke arah ranjang. Dengan cepat, aku membereskan semuanya ke dalam kotak sambil mendengus kesal.


"Ck. Rahasia ya?"


Tambahnya, tak ku jawab. Aku lebih memilih menyimpan kotak itu ke atas meja belajar ku.


Dan Radit, dia berjalan ke arah balkon kamar ku. Ia terlihat seperti sedang membutuhkan sesuatu, tapi apa? mengapa dia datang ke kamar ku? tidak biasanya juga dia seperti ini.

__ADS_1


Langit penuh bintang itu mendapatkan sorot mata luyu Radit. Pria itu berdiri di pagar balkon dan menyimpan ke dua lengannya diatas sana sambil di satukan.


Melihat dia seperti itu, rasanya hati ini tersentuh untuk hanya sekedar bertanya "Apa ada sesuatu yang terjadi?"


Ah, kurasa itu terlalu ramah untuk manusia menyebalkan sepertinya.


Tapi yasudah, aku memutuskan untuk menghampirinya, berdiri di sampingnya, dan menatap langit yang sama.


"Berpura-pura tidak tahu bahwa sebenarnya dia tidak menginginkan sebuah hubungan. Hanya karena aku begitu mencintainya, apa itu sebuah kesalahan?"


Tuturnya, masih dengan pandangan lurus ke depan. Sesaat, aku menatapnya. Dan kembali memalingkan wajah ke arah yang sama.


"Lantas, apa berpura-pura mencintai seseorang karena kita tidak ingin menyakitinya juga sebuah kesalahan?"


Dengan tenang, aku berdiri menghadap ke arahnya yang masih dengan posisi sama.


"Kita kadang tidak tahu apa yang sedang kita lakukan. Kita bahkan tidak benar-benar mengenal cintai yang kita dambakan. Jika benar mencintai, itu tidak akan terlalu menyiksa diri. Jika dia benar menyayangi, dia tidak akan berani membohongi. Kamu tahu? kadang kita berada dalam dua situasi, mencintai karena dia mempunyai banyak waktu dan kenangan indah bersama kita. Atau mencintai karena kita mendapatkan kenyamanan dan pengakuan bersamanya. Keduanya sama, bukan cinta. Tapi hanya obat dari sakit kronis kesepian yang kita rasakan."


Ujar ku, semakin membuat Radit kebingungan.


"Lalu, apa bedanya antara mencintai sebagai teman, saudara perempuan, dan seorang kekasih yang kita nantikan?"

__ADS_1


Tanya Radit, dengan raut wajah yang semakin mengenaskan.


"Kamu akan menemukan jawaban sendiri seiring berjalannya waktu."


"Haist, menyebalkan."


Membuat ku tersenyum, karena tingkahnya malam ini.


"Apa sesuatu terjadi?"


Tanya ku. Membuat pernyataan ini sedikit lebih ramah dari sebelumnya.


"Tidak."


Jawabnya, beranjak.


"Tidurlah, besok kita harus berangkat pagi ke sekolah."


Tambah Radit meninggalkan balkon kamar, dan menghilang dari ruang kamar ku.


Aku masih berdiri di sini. Di balkon kamar yang sunyi ini. Entah, aku masih betah menghabiskan waktu meski hanya untuk melihat jutaan bintang yang bahkan tak dapat ku gapai.

__ADS_1


"Sebenarnya, aku juga masih mencari jawaban itu dit."


Tutur ku, menundukkan kepala dan menghembuskan napas dengan lega. Ya, dengan pertanyaan terakhir yang di ajukan Radit. Aku pun masih belum menemukan jawaban itu.


__ADS_2