Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

"Dadah. Hati-hati di jalan ka."


Teriak ku senang. Karena ka Dava langsung pulang, tadinya ia ingin sekali masuk ke dalam rumah Ku. Tapi untungnya aku sangat handal ngeles hehehe.


"Mah Alena pulang."


Teriak ku memasuki rumah.


"Anak mamah sudah pulang."


Jawabnya menghampiri ku dan langsung memeluk tubuh yang bau keringat ini.


"Mamah sehat kan?."


Heran ku dengan tingkahnya.


"Sehat dong."


"Bagus deh."


"Mamah punya kabar bagus."


Senangnya melepaskan pelukannya.


Aku menatap netranya dengan lekat. Seolah bertanya kabar apa itu?


"Sebaiknya kamu mandi. Setelah itu bantu mamah masak untuk makan malam."


"Memangnya kabar baik apa?."


"Mandi dulu sana. Tunggu papah mu pulang baru nanti di kasih tahu."


"Pelit amat. Cuma bilang pake segala nunggu papah pulang, dramatis banget."


"Alena."


Ketus mamah, membuat aku terkekeh dan beranjak.


.


Radit


'Ada hubungan apa mereka? Mengapa pulang bareng? Bukannya tu cewe kesemsem banget sama Ell, lah ngapain Deket anjing anggora itu ?.'


Batin Radit, ketika mengendarai mobil.


"Radit."


Lembut Naya, membuat laki-laki itu tersadar dan sesaat melirik perempuan di sampingnya.


"Aku mau langsung pulang saja."


"Tidak mau ke rumah dulu?."

__ADS_1


"Sepertinya tidak, aku datang bulan."


Jawabnya merengek dengan ke dua tangannya memegangi perut.


"Kita mampir dulu ke apotek."


"Tidak perlu."


"Tapi kamu butuh obat."


"Ada persediaan obat di rumah."


"Baiklah."


Pasrahnya melajukan mobil dengan sedikit lebih cepat.


Setelah mengantar Naya pulang ke sebuah bangun kecil dan sederhana. Radit langsung bergegas pulang.


.


21.00


"Pah."


Panggil ku. Berharap ia segera keluar kamar, ya perutku sudah berbunyi dan cacing-cacing sudah tak kuat menahan laparnya.


Tak lama, papah keluar dan langsung duduk di kursi makan.


"Selamat makam."


"Pah."


panggil ku lagi. Ia mendoak dan menatap ku dengan penuh tanya.


"Mamah bilang, kalian punya kabar baik. kabar apa itu?."


Tanya ku sambil mengunyah nasi.


"Apa kita akan pergi liburan?."


"Tidak."


Jawab papah antusias.


"Jalan-jalan di akhir pekan?."


"Bukan."


"Emmm. Pergi makan malam di luar?."


"Tidak juga."


"Pindah kependudukan ke mars?."

__ADS_1


"Tidak mungkin lah."


"Lalu."


Geram ku pasrah.


"Nah."


Papah menyodorkan selembar kertas pada ku. sesaat aku melirik mamah yang hanya tersipu.


"Apa ini?."


Heran ku meraihnya. Ke dua manusia itu hanya saling melempar senyum.


Dengan tenang, aku membaca tulisan pada lebar kertas di tangan ku.


"What."


Kaget ku tak percaya.


"Pah, mah."


Lirih ku tak percaya.


"Maman sama papah sudah tanda tangan perjanjian itu. Jadi kamu tidak bisa menolaknya."


Sanggah mamah. Aku mengusap wajah ku yang mulai berkeringat.


"Tapi kenapa tidak di bicarakan dulu sama Alena."


"Kalau begini seperti paksaan. Lagian kenapa juga harus di jodoh-jodohkan si?."


Malas ku, dengan wajah tak sedap di pandang.


"Lagian anaknya pak Toni itu tampan ko. Iya kan mah?."


"Emm bener tahu Al."


"Tidak. Pokoknya Alena tidak mau. lagian Alena punya gebetan di sekolah, Ka Ell pasti jauh lebih tampan dari anak pak Toni."


Tolak ku merajuk.


"Heh. Radit itu bukannya keponakan Ell. Mereka sama-sama tampan."


"Hah."


Tidak. Tidak mungkin.


"Apa, jadi. Maman dan papah jodohkan Alena sama Radit?."


Ujar ku semakin tak percaya.


"Ahhhhhhh."

__ADS_1


Malas ku menyandarkan tubuh ku pada kursi.


Sementara mamah dan papah hanya saling tatap sambil sibuk makan.


__ADS_2