
Setelah pagi datang. Aku mulai menyiapkan roti bakar untuk sarapan dengan susu hangat. Ketika telah selesai bersiap menggunakan seragam sekolah.
"Selesai."
Senangku, duduk di kursi makan sambil menunggu seseorang yang masih bersiap untuk pergi ke sekolah.
Drap
Drap
Drap
Ku lirik suara langkah seseorang yang menuruni tangga, wajahnya kini telah kembali berseri tampan menatapku.
"Tumben cepet banget Lo siap-siap."
Ujarnya duduk di hadapanku.
"Ck, kamu saja yang berubah jadi lelet."
Jawabku, meraih roti dan mulai makan. Sementara Radit hanya tersenyum dan meneguk susu buatan ku.
"Oh iya, sekarang praktek tugas indo yang drama itu. Aku harap kamu bisa serius untuk nilai kita."
Ujarku, masih mengunyah. Radit menatapku, dan mengangguk cepat sambil melahap roti jatah sarapannya.
Setelah selesai sarapan, aku dan Radit bergegas berangkat. Tak ada percakapan selama di perjalanan yang membuat perjalan kita terasa begitu cepat.
Setelah sampai di parkiran, seperti biasa. Sebelum turun aku memperhatikan sekeliling area parkir, takut seseorang melihat ku dengan Radit datang dengan kendaraan yang sama.
__ADS_1
"Ck, takut banget Lo ketahuan hah?"
Tanya Radit, aku langsung menatapnya dengan sinis. Membuatnya menaikkan ke dua alis.
"Bukannya kamu yang bilang agar tidak ada yang mengetahui status kita? pelupa banget si."
Cibirku, kembali memperhatikan sekeliling. Radit hanya diam dan langsung turun dari mobil.
"Buruan turun, apa Lo mau gue kunci di dalam hah?"
Teriak Radit, membuatku semakin khawatir. Kemudian aku segera keluar dan Radit mengunci mobilnya.
.
Jam pertama, dan ke dua telah selesai. Sekarang, kita sedang bersiap untuk tugas drama yang beberapa kali tertunda itu. Setelah semuanya siap, Bu Mia meminta kami agar segera memulainya.
"Bram. Berapa kali aku bilang, kamu terlambat. Aku sudah tidak lagi mencintai kamu. Jadi, pergilah."
Ujar ku tertunda.
"Na, tolong. Beri aku satu kali lagi kesempatan, aku janji untuk tidak lagi menyia-nyiakan kamu. Aku mohon."
Jawab Radit.
"Bram, kamu tahu. Kadang kesempatan ke dua tidak pernah diberikan untuk sebuah penghianat."
Deg, jantung ku dan jantung Radit tiba-tiba berdegup kencang. Netra kita sama-sama nanar dan semua yang menyaksikan terlihat begitu serius.
"Aku tahu, cinta yang telah aku pilih memang salah. Dia yang aku kira perempuan baik ternyata tidak lebih baik dari pada kamu. Aku tidak ingin lagi kehilangan kamu Nabil, aku mohon Hik."
__ADS_1
Tuturnya memohon, menggenggam tangan kananku.
"Tidak bisa Bram, aku sudah ingin lagi menjalin hubungan dengan kamu. Aku akan bilang pada mamah untuk membatalkan pertunangan ini."
"Nabil,"
Panggilnya ketika aku hendak pergi. Ia rangkul ku dari belakang. Isaknya begitu jelas ku dengar. Dan air mataku juga tumpah. Drama ini persis seperti kenyataan yang sedang kita berdua alami.
"Tetaplah disampingku, bantu aku untuk menjadi lebih baik. Aku mohon."
"Aku takut kecewa lagi."
"Aku berjanji untuk tidak lagi membuat kamu kecewa. Aku mohon."
Pintanya, kitapun saling berhadapan dan saling menatap mata yang sama-sama sembab.
"Kamu berjanji?"
"Emm, aku janji."
"Aku tidak ingin kehilangan kamu."
Ujarku kembali terisak dalam pelukan Radit. Ia memelukku dengan erat dan mengelus puncak kepala ku.
"Tidak akan, aku tidak akan lagi menghilang dan membiarkan kamu pergi. Percayalah."
Suara sorak kemudian terdengar gaduh. Akhir drama ini telah usai. Terlihat wajah sedih mereka, begitu pun Bu Mia. Sepertinya drama ini begitu sukses.
Sementara aku dan Radit sama-sama saling kikuk. Malu, dan canggung satu sama lain.
__ADS_1