
Setelah ka Dava hilang dari pandangan ku. Aku segera pergi memasuki apartemen.
Clek
"Diantar siapa Lo barusan?."
Tanya Radit tiba-tiba, ketika aku baru saja membuka pintu. Ya pria itu berdiri di hadapan ku dengan wajah ganas dan ke dua lengan yang di lipat di depan dada.
"Bukan urusan kamu."
Jawab ku, memilih pergi meninggalkan Radit. wajah pria itu semakin ganas. lengannya kini berada di pinggir tubuhnya sambil mengepal.
"Berani-beraninya dia mendekati tunangan gue."
Tutur Radit, ketika aku sudah menaiki tangga.
"Al."
Panggil ka Ell menghentikan langkah ku.
"Mari makan."
Ajaknya, setelah kita bertemu tatap.
Dengan ragu, aku kembali menuruni tangga, dan menuju meja makan, begitu Radit. Pria itu duduk tepat di hadapan ku. Dan ka Ell, ia dengan biasa saja duduk tepat di samping ku.
"Kenapa baru pulang?."
Tanya ka Ell, sambil menyodok nasi.
"Bukannya tadi hujan."
Jawab ku datar menyeruput air hangat di hadapan ku.
Ka Ell melirik ku sesaat dan menggeleng. Lalu, kami pun mulai makan.
.............
Malam ini, aku sedang tidak ingin belajar. Rasa kantuk datang lebih awal padahal kegiatan ku tidak terlalu menguras tenaga.
__ADS_1
kring-kring-kring
Handphone ku berbunyi. Dengan perlahan aku beranjak dari tidur menuju meja belajar.
"Nenek. Alena kengen."
Rengek ku, setelah ku angkat telpon VC dari mamah.
"Sayang, nenek juga kangen kamu. Tega sekali orang kamu meninggalkan cucu nenek di sana."
Jawab seorang perempuan paruh baya diseberang sana.
"Emmm. Nenek harus memarahi mereka."
Manja ku padanya.
"Belajar lebih penting. Lagi pula kita bisa pergi lagi pekan nanti."
Tiba-tiba ku dengar suara papah.
Aku pun hanya memasang wajah lesu begitupun nenek.
Tanyanya, membuat ku terdiam.
"Alena baik-baik saja."
"Apa kamu sudah semakin dekat dengan tunangan mu?."
OMG, bagaimana bisa nenek mengetahui ini? Mamah dan papah keterlaluan sekali. Padahal aku meminta mereka untuk menyembunyikan semua ini dari nenek.
"Orang tua mu sudah memberitahu nenek."
Tambahnya.
"Ya, nenek kamu terus saja menanyai kamu di sana dengan siapa."
Pembelaan Papah.
"Ya-ya-ya. Intinya papah sama mamah sudah mengingkari janji. Jadi Alena mau kalian membayarnya."
__ADS_1
Ketus ku membuat nenek tertawa. Sungguh indah wajah keriput itu jika sudah tertawa seperti itu. Aku benar-benar merindukan pelukannya. Aku rindu bersandar di tubuhnya yang selalu bau khas orang tua.
"Jadi, apa yang kamu mau?."
Ku dengar suara mamah dengan ketus.
"Alena ingin pergi berlibur ke Yogyakarta."
"Dengan siapa kamu akan pergi?,"
Tanya nenek kemudian.
"Ya, papah tidak akan mengijinkan kamu pergi jika sendiri."
"Alena sudah besar tahu. Masa iya harus terus ditemani."
Lesu ku.
"Yasudah, hanya dua hari setelah papah dan mamah pulang."
"Oke."
Senang ku, membuat nenek menggelengkan kepalanya.
..............
Hah. Senang sekali rasanya bisa kembali berlibur ke Yogyakarta. Aku selalu menantikan moments ini, kapan lagi aku bisa menikmati senja di kebun teh itu, ah sungguh tidak sabar sekali.
Setelah ku akhiri telpon, aku langsung tidur. Sementara Radit dan ka Ell masih di ruang tengah.
"Lo tidak seharusnya terus-menerus memperlakukan Alena seperti itu,"
Ujar ka Ell tiba-tiba. Membuat Radit menghentikan tangannya yang akan menyuapkan snack pada mulutnya.
"Dia perempuan. Semenyebalkan apapun dia buat Lo, tidak seharusnya Lo seketerlaluan itu pada Alena."
Tambahnya.
Ka Ell kemudian beranjak meninggalkan Radit sendiri, sementara Radit masih terdiam mencerna apa yang baru saja ka Ell ucapkan.
__ADS_1