
"Alena. Tante menitipkan ini pada kakak kemarin, maaf baru memberikannya sekarang. Kakak lupa."
Ujar ka Ell, ketika aku baru saja menuruni tangga.
"Emm. Tidak papah, terimakasih kak."
Jawab ku, mengambil sebuah kartu yang disodorkan ka Ell pada ku.
Ya, itu kartu ATM baru milik ku. Orang tua Radit yang memberikannya untuk ku, memang sangat baik dan perhatian. Tidak seperti anaknya yang keterlaluan.
Aku pun segera menyusul ka Ell dan Radit menaiki mobil.
Ketika ka Ell akan membuka pintu depan mobil, tiba-tiba Radit memanggil ku dengan keras.
"Sekarang, Lo yang harus duduk di depan."
Tambahnya, membuat aku dan ka Ell saling bertatap.
"Buruan, kalau tidak ingin kesiangan."
Dengan terpaksa, aku langsung duduk di samping Radit. Dan ka Ell duduk di bangku belakang.
"Radit, kamu sehatkan?."
Tanya ku, ketika mobil telah membelah jalanan raya.
Ia melirik ku sesaat, seolah ia berkata bahwa ia baik-baik saja.
"Tidak seperti biasanya kamu ingin aku duduk di sini."
Tambah ku, memandang jalanan dengan lurus.
__ADS_1
"Kenapa? apa tidak boleh?,"
"Aneh saja."
Datar ku memilih memalingkan wajah ke arah kiri kaca jendela mobil.
Dengan tatapan heran. Ka Ell pun terus saja memandangi Radit dan sesekali melirik ke arah ku.
Seperti biasa. Aku turun di tempat dimana kalian sering melihat ku turun paksa dari mobil. Dan Radit sudah pergi dengan mobilnya, bersama ka Ell.
..................
"Buat kamu."
Ujar seseorang menyodorkan kotak nasi berwarna hijau muda.
Aku yang baru saja duduk di kursi langsung melihat wajah manusia yang memberikan kotak itu.
"Kamu pasti belum makan bukan?."
"Emm. Terimakasih banyak ka."
Jawab ku. Melihat wajah ka Dava yang begitu terlihat tampan pagi ini.
Ketika aku sedang menikmati roti yang diberikan kan Dava, di bibir pintu seorang pria tengah berdiri memperhatikan.
Lalu, ketika telinganya mendengar sura Radit dan teman-temannya mendekat. Pria itu langsung bergegas pergi. Ya, dia ka Ell. Entah ada keperluan apa dia harus mendatangi kelas ku.
Radit dan teman-temannya memasukki kelas dengan wajah berseri dan candaan. Namun tiba-tiba wajah ceria Radit berubah menjadi datar ketika melihat aku dan ka Dava duduk berdampingan.
Aku sempat meliriknya sesaat, lalu memilih mengacuhkannya.
__ADS_1
"Emm, heheh. kok ada di sini ka?."
Tanya Padil cengengesan mendekati aku dan ka Dava. Sementara Radit Boby dan farel langsung duduk ke bangku mereka.
"Terus kenapa duduk sama calon pacar saya ya ka?."
Tambahnya membuat ku tersendak.
Ka Dava menyodorkan air minum dari tasnya pada ku dan mengacuhkan Padil.
"Kami bilang apa barusan?."
Tanya ku sambil menutup botol minuman.
"Heheh tidak kok Al, tidak ada."
Kikuknya sambil pergi ke bangkunya dengan tatapan sinis.
"Habiskan rotinya. Bentar lagi masuk, belajar yang rajin."
Ujar ka Dava menatap ku.
"Emmm."
Jawab ku dengan mulut penuh roti.
"Kakak pergi ke kelas, kamu jangan macam-macam."
Ujarnya, membuat ku mengernyitkan dahi.
Ka Dava hanya tersenyum, lalu menjinjing tasnya dengan lengan kanan. Dan ketika hendak melangkah, tiba-tiba ka Dava menatap ku dengan lekat. Membuat ku tiba-tiba deg-degan.
__ADS_1
Lagi-lagi ia tersenyum dan mengusap puncuk kepala ku, lalu pergi. Aku hanya diam dan memperhatikan ka Dava yang kini sudah menghilangkan.
Radit jangan ditanya. Ketika ka Dava mengusap kepala ku, ia dan teman-temannya melongo tak percaya. Lengan Radit mengepal hingga akhirnya ia lebih memilih memperhatikan keadaan luar dari jendela.