
"Kenapa tidak memberi gua pesan selama di sana?"
Tanya Radit, masih memegang tangan ku.
"Untuk apa?"
Tanya ku masih kesal padanya.
"Bodoh. Setidaknya beri tahu gue agar tidak khawatir."
"Ya-ya-ya, serah saja."
Kata ku, menarik lengan dengan kasar darinya.
"Gue belum nyuruh Lo pergi,"
Ujar Radit menarik kerah baju ku.
Dengan malas, aku terdiam dan menatap wajahnya serius.
"Sore ini, Lo harus pulang ke apartemen."
Ujarnya, melepaskan tangannya dan pergi meninggalkan ku.
"Hist, menyebabkan sekali."
Cibir ku menatap kepergiannya.
..........
"Hai Al."
Sapa Padil pada ku, ketika aku hendak duduk.
"Hai."
Jawab ku, mendapat senyum ramah pria itu. Sementara Boby dan farel hanya saling bisik. Kalau Radit jangan di tanya, dia lebih memilih melihat area lapang dari jendela kelas.
"Dari mana?"
Tanya Nara pada ku.
"Toilet, kenapa?"
Jawab ku membereskan buku yang berantakan di meja ku. Ya, itu buku novel yang telah selesai di baca Nara.
__ADS_1
"Emmm,"
Sahutnya mengangguk.
"Al, Lo pergi kemana selama tiga hari ini?"
Tanya Farel, membuat ku duduk menghadap mereka.
"Kenapa?"
Heran ku.
"Padil terus-menerus bertanya pada Nara. Benar kan?"
Ujar Boby menatap Nara.
"Emm, benar Al. Sangat berisik, membuat ku naik darah."
Timpal Nara, setujui.
"Hist, berisik deh Lo pada."
Ketus Padil malu, membuat ku terkekeh. Sementara Radit hanya diam memperhatikan sambil memainkan jarinya di atas meja.
"Aku pergi mengunjungi teman lama ku."
"Kemana? Siapa dia? perempuan atau laki-laki?"
Pertanyaan beruntun yang ajukan farel.
"Buset, banyak bener Lo nanya."
Sinis Boby, seperti tak percaya.
"Haha, Di Yogyakarta. Dia laki-laki, namanya Giandra."
Jawab ku tidak keberatan.
Mereka pun hanya mengangguk-angguk.
Dan Radit, tangannya mengenal dan matanya kembali berpaling. Kalau di lihat dari wajahnya, ia seperti sedang marah.
'Laki-laki? Pantas saja dia betah disana.'
Batin Radit.
__ADS_1
Tak lama, Seorang guru datang dan memulai pembelajaran. Membuat kita menyudahi perbincangan.
...............
Ketika yang lain sudah pulang. Radit masih membereskan buku-bukunya ke dalam tas.
Dan saat hendak pergi, ia meraih gawainya dari saku celana dan menghubungi seseorang.
"Kenapa tidak di angkat?"
Kerannya, kemudian Radit mengetik sebuah pesan.
'Naya, aku harus pulang duluan. Pulanglah menggunakan bis ! Hati-hati sayang '
Begitulah kiranya pesan yang di kirim Radit. Pada siapa lagi kalau bukan pacarnya.
..............
Tiiiit
Suara kelakson mobil berhasil membuat ku kaget. Untung saja, di dalam mobil sana pria tampan dan baik, kalau model'an Radit sudah ku balikkan tu mobil.
"Mau pulang bareng?"
Tanyanya, setelah membuka kaca mobil.
"Emm, masuk."
Tambahnya, tanpa berpikir lagi aku segera bergegas masuk. Ya kenapa juga harus nolak, kalau bisa pulang gratis mana cuaca hari ini panas lagi.
Ketika mobil ka Dava melaju, ternyata mobil yang berada di belakang adalah mobil Radit. Ya dia melihat ku pergi bersama ka Dava. Tapi ya, aku tidak perduli.
"Brengsek, masih saja berani deketin tunangan gue."
Kesal Radit, memukul stir mobilnya.
.
"kak Dava,"
Panggil ku di perjalanan. Membuat pria itu menoleh sesaat.
"Apa Alena boleh menanyakan sesuatu?"
"Tanyalah, tidak perlu sungkan."
__ADS_1
"Emm. Apa, Giandra pernah datang ke sini?"
Tanya ku, membuat ka Dava sedikit tertegun dan menelan salipahnya dengan kasar.