Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Setelah sampai di stasiun Yogyakarta, kita segera turun dan mencari sebuah angkutan umum. Namun, sudah hampir lima belas menit kami menunggu. Kendaraan roda empat itu tak kunjung datang. Jadi kita memutuskan untuk berjalan kaki saja.


"Al, kamu bilang hanya lima menit juga sampai. Ini sudah lima belas menit belum juga sampai,"


Gerutu Nara, yang berjalan paling belakang.


"Mangkanya, jalan yang cepat. Jalan kayak siput saja pengen sampai lima menit, ngaco."


Jawab ku di tertawakan yang lain.


"Nah bener tu Al, memang tidak sadar diri Lo Na."


Cibir Boby.


"Ap'an si, pada gak asyik ah."


Ketus Nara, menghentikan langkahnya.


"Nah, ada mobil kita ikut,"


Ujar Farel, menunjukkan mobil setengah badan yang kini mendekat ke arah kami.


"Pak, ikut pak."


Teriak Farel dan Boby. Membuat mobil itu terhenti.


"Ayo munggah."


Jawab sopir itu, membuat mereka saling bertemu tatap.


"Katanya ayo naik,"

__ADS_1


Jelas ku terkekeh. Mereka pun segera naik. Boby yang lebih dulu naik membantu Nara dan Namara naik, sedang Radit menyodorkan tangannya pada ku. Dengan malas aku meraih tangannya dan duduk di samping pria itu. Sementara Farel duduk di depan bersama pak sopir baik itu.


Sepanjang perjalanan, canda tawa mulai kembali mengiringi perjalanan kami. Benar kata Radit, mereka menjadi baik dengan sendirinya.


.


Sampailah kita di sebuah villa tempat penginapan yang cukup nyaman di sini. Tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal pak De dan si Mbok. Jadi, ketika aku ingin bertemu dengan mereka itu akan sangat mudah.


"Kita satu kamar ya,"


Tutur ku, pada Nara dan Namara. Mereka hanya saling pandang dan memasang wajah tak suka.


"Rel, kita satu kamar."


Ujar Radit, Padil dan Boby langsung menghampiri Farel dan menyimpan satu lengan mereka di pundak Farel.


"Tidak. Kalian satu kamar saja."


"Ayolah, apa kalian tega sama teman sendiri."


Tutur ku lesu.


"Itu hukuman buat kalian."


Teriak Padil memasuki kamar di susul ke dua temannya.


"Namara,"


Lirihku, namun perempuan itu hanya cengengesan masuk ke dalam kamar menyusul Nara.


Aku hanya menghela napas dan memijat kening ku. Sementara Radit dia langsung bergegas mengambil tasnya untuk segera masuk.

__ADS_1


"Lo tidak mau masuk?"


Tanya Radit, ketika ia hendak masuk kamar. Dengan malas aku beranjak menyusulnya masuk ke dalam kamar.


.


"Pah,"


Lirih Naya yang kini sedang duduk di hadapan sang ayah yang merupakan kepala sekolah di sana.


Ya, mereka di ruang kepala sekolah dan sedang mengobrol secara empat mata.


"Ikuti saja tesnya, dan jangan sampai ada yang tahu mengenai hubungan kita."


Jawab kepala sekolah itu.


Dengan penuh rasa emosi, Naya langsung beranjak dan pergi dari ruang itu.


Memang benar, tinggal bersama mereka bukan pilihan yang tepat. Selain tidak bisa menikmati hidupnya, ia juga harus menyembunyikan status keluarganya. Menyakitkan.


"Ahhhhh,"


Teriak Namara di kaca toilet.


Ia memandang wajahnya yang kini terlihat begitu kusut. Matanya yang sembab dan hatinya yang terluka hebat.


"Sebenarnya, siapa aku ini untuk dia? seorang anak, atau anak buangan yang coba ia selamatkan? hik,"


Isaknya mulai pecah. Tak mampu lagi ia menyembunyikan sakit hatinya. Tak mampu lagi ia menahan kesal di dadanya yang selama ini ia pendam.


Selama hampir tiga tahun ini, ia hidup di telantarkan. Hanya kakak tirinya saja yang mencarinya dan meminta agar ia kembali ke Bandung. Sementara ayahnya saja tidak pernah perduli perihal dirinya.

__ADS_1


Keluarga macam apa ini?


__ADS_2