Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

"Al. Temenin aku pinjam novel yuk."


Ajak Nara, ketika bel istirahat usai berbunyi. Aku meliriknya sesaat, dan melipatkan kedua tangan ku untuk di jadikan bantal.


"Alena, ayo dong."


Rengeknya tak ku perduli kan.


"Al. Aaaaal."


Aku mendoak dan menatapnya malas.


"Buruan, laper ni."


"Tapi tetaktir mie oke."


"His. Iya-iya."


Jawabnya mendelik kesal.


Aku dan Nara kemudian pergi menuju perpustakaan, Nara, Nara. Kenapa suka banget si baca novel? membosankan.


"Bu, Nara pinjam dua buku ini."


Ujarnya, meletakkan buku itu di meja Bu Reni.


"Baik Nara."


Jawabnya, segera menuliskan nama Nara dan buku apa yang dipinjamnya.


"Kamu tidak pinjam juga Al?."


Tanya guru muda itu pada ku yang sedang mengamati banyak buku yang dulu ku cari.


"Hehe, nanti saja Bu."


Kikuk ku, di anggukinya. Aku dan Nara pun segera pergi menuju kantin.


"Al, ada yang main basket. Lihat dulu yuk."


Ajaknya antusias. Aku menatap sesaat area lapangan yang dipenuhi banyak orang.


"Tidak mau."


Jawab ku cepat, beranjak."


"Ayolah Al, sebentar saja."


Rengeknya, memainkan lengan ku seperti anak kecil.


"Tapi tetaktir mie nya jadi dua mangkuk."

__ADS_1


Tegas ku.


"Yaelah Al, serah kamu saja deh."


Ketusnya, meninggalkan ku. Dengan cepat sambil cengengesan aku mengejarnya menuju lapang basket.


Nara mulai antusias mensuport para pemain kelas kami. Aku si males, soalnya dari keenam pemain itu salah satunya ya Radit.


"Yeeeeeeee."


Sorak para penonton ketika tim kelas kami menang.


"Hebat juga Radit mainnya. Terlihat tampan kalau sedang berkeringat seperti itu."


Ujar Nara, membuat ku ingin muntah.


"Gantengan juga ka El."


Ketus ku, Nara seketika langsung mendelik kesal. Karena merasa pegal, aku memilih duduk di bangku yang telah tersedia. Dan Nara dia masih melompat-lompat menyemangati.


Sementara dari pojok kanan sana, seorang perempuan bersama kelas TKJ-nya juga tak kalah heboh. Namun, satu gadis itu malah diam saja duduk, tak terlihat antusias.


"Al. Al."


Teriak Nara menggerakkan tangannya berharap aku segera menghampirinya.


"Emm."


"Ka Ell masuk Al, dia main."


Senangnya pada ku.


"Serius?."


Antusias ku langsung pergi ke barisan pertama.


Benar, ka Ell memasuki lapangan dengan memakai baju olahraga, khusus basket loh guys. keren, tampan banget.


"Pangeran kodok Alena."


"Ganteng banget."


Lebay ku, membuat Nara melongo.


"Kamu sehat Al? Lebay amat jadi orang."


"Bodo amat, ketika seseorang jatuh cinta memang seperti orang gila bukan?."


"Yaya, dan kamu membuktikan argumen itu."


"Serah kamu deh Na."

__ADS_1


"Lebih baik fokus saja sama permainannya."


Ketus ku, mulai menyoraki ka Ell.


Di tengah-tengah permainan, ka Ell melihat ke arah penonton, ia lalu tersenyum ketika netranya berpapasan dengan ku.


Dan ternyata Radit memperhatikan ka Ell hingga membuat dia juga melihat ku dan jelas ia tidak suka.


"Alena."


Ujar seseorang berdiri di sebelah ku.


"Ka Dava."


"Lagi menyemangati siapa ni?."


"Ka Ell ka, Alena kan suka banget sama ka Ell."


Sahut Nara, yang langsung ku sikut bagian perut kirinya.


"Hehe, tidak kok ka. Kelas Alena main, jadi Alena memutuskan melihatnya sebentar."


Kikuk ku, ka Dava lalu tersenyum dan mengangguk.


"Nah."


"Untuk Alena?."


Tanya ku, ketika ka Dava menyodorkan sebotol minuman.


"Emm, kakak membelinya dua."


Jelasnya pada ku, spontan aku meraihnya sambil kebingungan.


Duh, ngapain juga pake ngasih minuman orang aku tidak haus kok.


"Jadi Nara tidak di kasih ka?."


Ketusnya melipat ke dua lengannya di depan dada.


"Hehe, maaf Nara. Hanya sisa satu, yang ini sudah kakak minum."


Tuturnya, pada Nara yang terlihat kesal.


"Iya deh."


"Al, yuk pergi. Sudah beres."


Ajak Nara kemudian. Membuat ku tersadar, ternyata benar permainannya sudah selesai. Ah ka Dava, kakak mengganggu ku saja.


Jadi tidak melihat pangeran kodok ku main basket kan. Menyebalkan.

__ADS_1


__ADS_2